Peluang 5G Di Indonesia Masih Besar, Infrastruktur Ini Bisa Dorong Ekonomi Digital Lebih Jauh

Di tengah dorongan digitalisasi lintas sektor, 5G semakin diposisikan sebagai tulang punggung yang menentukan seberapa jauh ekonomi digital Indonesia bisa melesat. Ericsson menilai teknologi ini bukan lagi sekadar pelengkap konektivitas, melainkan infrastruktur penting untuk menjaga daya saing industri, layanan publik, dan pemanfaatan kecerdasan buatan yang terus berkembang.

Pandangan itu menguat karena kebutuhan jaringan kini tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga kestabilan, kapasitas, dan keandalan. Dalam forum yang digelar di Jakarta, Ericsson menekankan pentingnya perluasan jaringan yang aman, tangguh, dan cerdas agar manfaat ekonomi digital dapat dirasakan lebih merata dan mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Nilai ekonomi yang diperebutkan

Peluang yang dibawa 5G dinilai tidak kecil. GSMA memperkirakan investasi 5G dapat menyumbang hingga USD41 miliar terhadap Produk Domestik Bruto nasional sepanjang 2024–2030.

Angka itu memperlihatkan bahwa percepatan implementasi 5G memiliki dampak yang melampaui sektor telekomunikasi. Di saat yang sama, Ericsson memandang jaringan ini sebagai mesin pertumbuhan digital yang bisa memperkuat posisi Indonesia di peta ekonomi digital global.

Adopsi global terus naik

Ericsson Mobility Report menunjukkan 5G merupakan generasi konektivitas dengan adopsi tercepat di dunia. Jumlah pelanggan global diproyeksikan mencapai 2,9 miliar pada akhir 2025 dan naik menjadi 6,4 miliar pada 2032.

Pertumbuhan itu berjalan bersama lonjakan trafik data seluler yang diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama. Situasi tersebut membuat kebutuhan akan jaringan berkapasitas besar semakin mendesak, terutama ketika aktivitas digital menuntut koneksi yang stabil dan responsif.

Sektor yang paling siap memetik manfaat

Ericsson menyoroti manufaktur, logistik, energi, dan layanan publik sebagai sektor yang paling berpeluang memanfaatkan 5G. Jaringan berkecepatan tinggi dan berlatensi rendah dapat membantu proses kerja menjadi lebih efisien sekaligus produktif.

Kebutuhan itu makin kuat karena aplikasi digital yang lebih canggih terus berkembang. Layanan berbasis AI membutuhkan performa jaringan yang stabil dan andal, sehingga 5G diposisikan sebagai penggerak penting bagi transformasi industri.

President Director Ericsson Indonesia Nora Wahby menyebut jaringan 5G yang aman, tangguh, dan cerdas sebagai kebutuhan yang mendesak. Ia menegaskan bahwa teknologi ini akan mempercepat transformasi digital Indonesia melalui konektivitas yang mendukung teknologi baru di berbagai sektor.

Masih ada jarak yang perlu dikejar

Meski peluangnya besar, adopsi 5G di Indonesia belum sepenuhnya sejalan dengan potensi yang tersedia. Ronni Nurmal, Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, mengatakan adopsi AI dan 5G di Indonesia masih berada pada tahap awal dibandingkan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.

Namun, kondisi itu tidak menutup ruang untuk mengejar ketertinggalan. Ericsson menilai peluang perbaikan tetap terbuka selama kebijakan spektrum disusun dengan tepat dan kolaborasi antar pelaku ekosistem berjalan kuat.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital saat ini menyiapkan pelelangan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Bagi Ericsson, langkah tersebut menjadi bagian penting untuk mempercepat implementasi 5G secara berkelanjutan.

Spektrum, regulasi, dan investasi

Ericsson menekankan bahwa kepastian regulasi, ketersediaan spektrum yang memadai, dan iklim investasi yang sehat merupakan prasyarat utama. Tanpa tiga faktor itu, perluasan 5G akan sulit berjalan optimal dan manfaatnya bagi ekonomi digital bisa tertahan.

Di tengah kebutuhan digitalisasi yang makin luas, 5G dipandang sebagai fondasi untuk memperkuat efisiensi industri sekaligus membuka ruang bagi layanan digital yang lebih maju. Infrastruktur ini juga menjadi salah satu penentu apakah Indonesia bisa menjaga langkahnya tetap kompetitif dalam pertumbuhan ekonomi digital ke depan.

Source: www.medcom.id

Baca Juga

Back to top button