Pelonggaran Internet Iran Masih Terbatas, Usaha Kecil Baru Dapat Napas di Tengah Krisis

Bagi usaha kecil di Iran, koneksi internet bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jalur utama untuk menerima pesanan, berhubungan dengan pelanggan, dan menjaga operasional tetap bergerak. Karena itu, pelonggaran akses internet yang mulai diberikan pemerintah menjadi kabar penting di tengah tekanan ekonomi yang terus menumpuk.

Meski begitu, ruang yang dibuka belum sepenuhnya mengembalikan kondisi seperti semula. Pemerintah Iran masih mempertahankan pembatasan dan hanya memberi akses global yang lebih ringan untuk bisnis tertentu lewat skema Internet Pro, sehingga pemulihan yang terjadi masih bersifat terbatas dan selektif.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menyebut kebijakan itu disiapkan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan selama krisis. Ia juga menegaskan bahwa akses internet dipandang sebagai hak sipil, walau praktik di lapangan masih menunjukkan adanya kontrol yang ketat.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pemerintah belum mengambil langkah untuk membuka internet secara penuh. Perubahan status akses baru akan menunggu penilaian dari otoritas terkait ketika kondisi dianggap sudah normal.

Dampak dari pembatasan yang berkepanjangan terasa luas di masyarakat. NetBlocks menyebut sebagian besar warga Iran tidak dapat mengakses internet global selama sekitar 60 hari terakhir, sementara hanya sebagian kecil pengguna yang masih bisa terhubung melalui VPN yang mahal.

Sebagian pengguna lainnya diarahkan ke intranet domestik milik pemerintah. Jaringan itu memang dipakai untuk sejumlah layanan publik, termasuk pendidikan daring, tetapi fungsinya tidak sepenuhnya dapat menggantikan internet global bagi kebutuhan ekonomi modern.

Situasi ini menjadi berat bagi freelancer dan pemilik usaha kecil. Keduanya sangat bergantung pada koneksi digital untuk menjalankan pekerjaan harian, berkomunikasi dengan klien, dan menyelesaikan transaksi tanpa hambatan.

Tekanan ekonomi pun ikut membesar. Afshin Kolahi dari Kamar Dagang Iran memperkirakan gangguan internet menimbulkan kerugian langsung sebesar US$30 juta hingga US$40 juta per hari.

Ia menambahkan bahwa jika kerugian tidak langsung ikut dihitung, nilainya bisa mencapai US$80 juta. Angka tersebut menunjukkan seberapa besar keterikatan banyak sektor pada internet untuk menjaga operasional tetap berjalan.

Pembatasan internet di Iran sendiri bermula dari awal Januari setelah gelombang protes anti-pemerintah meluas. Akses sempat pulih pada Februari, tetapi pemutusan kembali terjadi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Di tengah kondisi itu, gangguan internet tidak hanya memukul bisnis digital. Banyak warga juga kehilangan pekerjaan sejak perang dimulai, sementara harga-harga ikut terdorong naik akibat kerusakan pada pabrik, infrastruktur energi, dan jaringan transportasi.

Sensor terhadap banyak situs global sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari kebijakan digital Iran. Namun, ketika akses internet global makin terbatas, dampaknya meluas ke distribusi, layanan pelanggan, dan koordinasi operasional yang bergantung pada koneksi stabil.

Skema Internet Pro kini menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai memberi ruang terbatas bagi kebutuhan ekonomi. Selama akses penuh belum dipulihkan, warga dan pelaku usaha di Iran masih harus beradaptasi dengan koneksi yang terbatas dan situasi yang belum pasti.

Source: www.cnbcindonesia.com

Baca Juga

Back to top button