Rakitan PC gaming yang benar-benar lepas dari Intel, AMD, dan Nvidia ternyata sudah bisa masuk ke tahap yang sangat konkret. Namun, hasil pengujiannya menunjukkan bahwa jalan menuju ekosistem alternatif masih panjang, terutama jika targetnya adalah permainan modern yang lancar.
Eksperimen yang diuji GPUSpecs lewat YouTube memperlihatkan sistem tersebut mampu menyala dan masuk ke Windows. Meski begitu, performanya belum cukup meyakinkan untuk disebut nyaman dipakai bermain game, sehingga hasilnya lebih terasa seperti pembuktian kemampuan dasar daripada paket yang siap dipakai harian.
CPU dan GPU buatan dalam negeri jadi inti rakitan
Sistem uji ini memakai Zhaoxin KaiXian KX 7000 sebagai prosesor dan Moore Threads MTT S80 sebagai kartu grafis. Kombinasi ini menempatkan rakitan sepenuhnya di luar ekosistem chip utama yang selama ini mendominasi PC mainstream.
KaiXian KX 7000 membawa 8 core, 8 thread, dan boost clock hingga 3,6 GHz. Di sisi grafis, MTT S80 hadir dengan 4.096 inti MUSA, memori 16GB GDDR6, dan clock 1,8 GHz.
Moore Threads bahkan menempatkan MTT S80 di kisaran performa RTX 3060 Ti. Tetapi, pengujian nyata tidak mendekati klaim itu dan justru menampilkan banyak kompromi di berbagai sisi.
Masalah kompatibilitas masih muncul di tahap awal
Menariknya, prosesor itu dipasang pada soket yang disebut sangat mirip LGA 1700. Walau tampil familiar, GPUSpecs mencatat bahwa kompatibilitas silang dengan platform standar tampaknya tidak memungkinkan.
Motherboard yang dipakai berasal dari Asus, sehingga secara visual sistem ini memang terlihat seperti desktop biasa. Hanya saja, ekosistem di baliknya tetap berbeda dari platform PC mainstream.
Saat proses perakitan, sempat muncul kendala kompatibilitas RAM dan driver. Meski begitu, sistem akhirnya berhasil boot dan masuk ke Windows tanpa hambatan besar.
Skor prosesor belum cukup kuat
Di pengujian Geekbench, KaiXian KX 7000 mencatat skor 789. Angka itu disebut hanya sedikit di atas separuh performa Intel Core i5-7500 dari 2017.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa prosesor ini masih belum berada di kelas yang umum dipakai untuk gaming arus utama. Untuk sebuah platform yang ingin tampil mandiri, jarak performanya masih terasa lebar.
Bagian gaming jadi titik paling berat
Kelemahan paling jelas terlihat saat sistem dipakai menjalankan game. Forza Horizon 5 hanya mencatat rata-rata 24,2 FPS pada 1080p low, sementara performa 1% low-nya jauh lebih buruk.
Cyberpunk memang bisa berjalan, tetapi rata-ratanya hanya 22,3 FPS pada 1080p low. Shadow of the Tomb Raider, meski usianya sudah delapan tahun, tetap hanya mencapai 21,3 FPS dengan 1% low yang sudah masuk level slideshow.
Grand Theft Auto V menunjukkan pola yang sama. Bahkan Black Myth Wukong, yang disebut sudah dioptimalkan untuk MTT, hanya menghasilkan sekitar 13 FPS.
Tidak semua game berhasil dibuka pada sistem ini. Red Dead Redemption 2 dan Spiderman Remastered gagal berjalan sama sekali, sehingga kompatibilitas masih menjadi masalah nyata.
Resident Evil 3 Remake menjadi satu-satunya judul yang mendekati kata layak main. Game itu rata-rata mencapai 44 FPS, tetapi 1% low yang buruk tetap membuat pengalaman bermain terasa tersendat.
Harga belum sejalan dengan hasil
Dari sisi biaya, rakitan ini juga belum terlihat menarik. CPU dan motherboard diperkirakan menelan sekitar $500, sedangkan MTT S80 dijual sekitar $300 di AliExpress.
Biaya itu belum termasuk RAM, casing, PSU, dan SSD. Dengan total seperti itu, sistem ini belum murah, tetapi juga belum cukup bertenaga untuk membenarkan posisinya sebagai PC gaming.
Meski begitu, eksperimen ini tetap penting karena menunjukkan arah perkembangan hardware China. Laju pengembangan CPU dan GPU domestik disebut cukup cepat, sehingga peluang hadirnya PC gaming “all-China” yang lebih kompetitif masih terbuka.
Untuk sekarang, rakitan ini lebih tepat dipandang sebagai bukti konsep. Sistem tersebut sudah membuktikan bahwa alternatif di luar Intel, AMD, dan Nvidia bisa bekerja, tetapi belum siap dipakai gamer yang mengejar performa stabil.
Source: www.notebookcheck.net