Pasar Spot Lesu Menekan COIN, Derivatif Malah Melonjak 125 Persen

Di tengah lesunya pasar aset kripto global, PT Indokripto Koin Semesta Tbk atau COIN justru mendapat tekanan yang terasa langsung pada kinerja keuangannya. Pada kuartal I-2026, pendapatan perusahaan turun menjadi Rp41,49 miliar dari Rp50,63 miliar pada kuartal I-2025.

Pelemahan itu tidak hanya berhenti di angka pendapatan. EBITDA dan laba bersih COIN juga tercatat berada di zona negatif, mengikuti menurunnya aktivitas transaksi kripto di berbagai pasar.

Tekanan pada COIN datang seiring koreksi tajam di pasar aset digital dunia. Sepanjang tiga bulan pertama 2026, kapitalisasi pasar kripto global anjlok 45 persen dari US$4,4 triliun menjadi US$2,4 triliun per 31 Maret 2026.

Volume transaksi global ikut mengecil 39,1 persen dengan nilai US$2,7 triliun. Kondisi ini menekan sentimen investor dan membuat perdagangan aset digital melambat, termasuk di Indonesia.

Dampak di pasar domestik juga terlihat jelas. Volume transaksi aset kripto di Indonesia turun 31 persen secara tahunan, dengan total transaksi pada Januari hingga Maret 2026 hanya Rp75,8 triliun.

Direktur Utama COIN, Ade Wahyu, menilai pelemahan kinerja perusahaan sangat terkait dengan perubahan sikap investor global. Ia menyebut ketidakpastian ekonomi makro mendorong konsumen memilih posisi risk off.

Menurut Ade, perilaku itu muncul dari kondisi makroekonomi global yang tidak stabil, ketegangan geopolitik, dan pengetatan likuiditas. Saat nilai transaksi aset kripto turun, dampaknya langsung terasa pada fundamental perseroan.

Di sisi lain, tidak semua lini bisnis COIN ikut tertekan dengan pola yang sama. Segmen perdagangan derivatif justru mencatat pertumbuhan kuat di tengah pasar spot yang melemah.

Pendapatan dari derivatif naik 125 persen secara tahunan menjadi Rp11,4 miliar dari Rp5,1 miliar pada kuartal I-2025. Kontribusi lini ini terhadap total pendapatan COIN kini mencapai 27,6 persen.

Pergeseran ini menunjukkan sebagian investor mulai mencari instrumen lindung nilai ketika volatilitas meningkat. Ade menilai produk derivatif menarik karena memungkinkan investor mengambil posisi dua arah.

Ia juga menyebut inovasi melalui Bursa Kripto CFX mendapat penerimaan yang baik di pasar domestik. Di saat perdagangan spot menyusut, peluang dari segmen derivatif justru tetap terbuka.

COIN melihat ruang pertumbuhan yang masih besar di pasar derivatif Indonesia. Rasio pasar derivatif terhadap pasar spot di dalam negeri baru mencapai 0,13 kali, sementara standar global sekitar lima kali.

Sebagai induk usaha, COIN mengelola PT Central Finansial X atau CFX sebagai bursa kripto pertama dan PT Kustodian Koin Indonesia atau ICC sebagai pengelola penyimpanan aset. Keduanya telah mengantongi izin resmi dan beroperasi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan.

Manajemen menilai tekanan yang terjadi saat ini merupakan bagian dari siklus pasar. Di tengah pelemahan transaksi spot, pertumbuhan derivatif menjadi bantalan penting bagi stabilitas kinerja COIN ke depan.

Baca Juga

Back to top button