Pasar kamera mirrorless di Jepang memperlihatkan arah yang semakin spesifik. Pembeli kini tidak hanya melihat harga, tetapi juga menimbang ukuran bodi dan kemampuan yang tetap terasa modern untuk dipakai sehari-hari maupun untuk hobi yang lebih serius.
Dari data penjualan terbaru retailer Yodobashi untuk paruh kedua Maret, terlihat bahwa kamera yang laku keras di Jepang jatuh ke tiga kelompok besar: murah, ringkas, dan canggih. Pola ini muncul jelas di daftar sepuluh besar lewat nama-nama seperti Canon EOS R50, Nikon Z50 II, Fujifilm X-M5, Sony A7 V, hingga Hasselblad X2D II 100C dan Nikon Z8.
Entry-level masih jadi pintu masuk utama
Segmen harga terjangkau tetap memegang posisi penting karena banyak pengguna baru ingin naik kelas dari ponsel tanpa harus langsung mengeluarkan biaya tinggi. Canon EOS R50 dan Nikon Z50 II menjadi contoh paling jelas dari kebutuhan itu, karena keduanya menawarkan jalur masuk yang lebih realistis bagi konsumen yang ingin masuk ke sistem mirrorless.
Minat kepada kamera murah juga terlihat bukan hanya pada bodi saja, tetapi pada paket penjualannya. Canon EOS R50 double zoom kit dan Nikon Z50 II double zoom kit sama-sama masuk daftar, yang menunjukkan bahwa solusi siap pakai masih sangat dicari.
Canon EOS R10 dengan lensa 18-150mm ikut memperkuat pola tersebut. Kehadiran paket seperti ini menandakan bahwa kamera dengan harga lebih terjangkau tetap bisa memberi fleksibilitas yang cukup untuk penggunaan harian.
Ukuran kecil tetap punya daya tarik kuat
Selain harga, bentuk fisik menjadi faktor lain yang ikut menentukan pilihan pembeli. Fujifilm X-M5 menonjol karena disebut sebagai model paling terjangkau di lini Fujifilm saat ini, sekaligus hadir dengan bodi yang ringkas.
Tren ini sejalan dengan bangkitnya kamera saku yang ikut mendorong permintaan terhadap sistem mirrorless yang lebih kecil. Dalam situasi seperti ini, kamera yang mudah dibawa menjadi opsi menarik bagi pengguna yang ingin mobilitas tinggi tanpa kehilangan kemampuan mengganti lensa.
Sony A7C II juga berada di kelompok yang sama. Model ini dikenal sebagai bodi full-frame mirrorless paling ringkas dari Sony dan muncul di daftar Yodobashi dalam dua bentuk, yakni paket dengan lensa zoom dan versi body-only.
Fujifilm X-E5 turut memperkuat minat pada kamera kecil. Desainnya yang terinspirasi rangefinder, ditambah lensa kit yang mungil, membuatnya terasa dekat dengan kamera compact premium tetapi tetap membawa karakter mirrorless.
Kelas premium belum kehilangan tempat
Meski model murah dan ringkas mendominasi perhatian, kamera kelas atas tetap mendapat ruang di pasar. Hasselblad X2D II 100C menjadi contoh paling menarik karena kamera medium-format 100MP seperti ini biasanya tidak mudah menembus daftar terlaris.
Daya tariknya sudah kuat sejak awal. Reviewer James Artaius bahkan menyebutnya sebagai “the finest stills camera ever made,” yang membantu menjelaskan kenapa kamera mewah ini masih bisa masuk minat pembeli tertentu.
Nikon Z8 juga kembali terlihat setelah hampir setahun tidak muncul di sepuluh besar Yodobashi. Kamera ini bukan bodi yang paling kecil, tetapi posisinya sebagai alternatif yang lebih kompak dibanding Nikon Z9 membuatnya tetap relevan bagi pengguna yang mencari performa tinggi dengan ukuran yang masih terkendali.
Sony A7 V berada di area tengah antara kebutuhan praktis dan performa. Dengan burst hingga 30fps tanpa blackout dan sensor full-frame 33MP, kamera ini menunjukkan bahwa pembeli di Jepang juga tertarik pada perangkat yang memadukan kecepatan dan bentuk yang tetap efisien.
Arah pasar yang makin tegas
Jika dilihat dari daftar terlaris itu, pasar Jepang tidak bergerak ke satu arah saja. Ada pembeli yang mengejar harga paling aman, ada yang memprioritaskan bodi kecil, dan ada pula yang masih siap membayar lebih untuk spesifikasi tinggi.
Itulah sebabnya nama-nama seperti Canon EOS R50, Nikon Z50 II, Fujifilm X-M5, Sony A7C II, Sony A7 V, Nikon Z8, dan Hasselblad X2D II 100C sama-sama bisa muncul dalam satu daftar yang sama. Bagi produsen, pesan dari pasar ini cukup jelas: kamera yang paling mudah diterima di Jepang adalah kamera yang bisa menyeimbangkan harga, ukuran, dan teknologi tanpa membuat salah satunya terasa tertinggal.