Pawai Hari Yerusalem kembali memperlihatkan betapa sensitifnya perebutan makna atas Yerusalem Timur. Di tengah ribuan peserta yang memenuhi Kota Tua, teriakan bernada rasis dan penjagaan ketat membuat suasana peringatan tahunan itu berubah menjadi ajang penegasan kekuasaan politik.
Bagi banyak warga Palestina, momen seperti ini bukan sekadar iring-iringan massa. Mereka melihatnya sebagai bagian dari tekanan yang terus mendorong kehadiran Yahudi di wilayah yang statusnya masih diperselisihkan, sementara ruang gerak mereka di kawasan itu semakin dibatasi.
Ketatnya pengamanan di jantung Kota Tua
Polisi Israel menurunkan ribuan personel di sepanjang rute parade, termasuk aparat dengan perlengkapan anti huru-hara. Barikade juga dipasang di sekitar Gerbang Damaskus, pintu utama menuju kawasan Muslim bersejarah, sehingga akses warga Palestina yang tidak tinggal di Old City ikut dibatasi.
Sejumlah pedagang Palestina memilih menutup toko sebelum parade dimulai. Aktivis yang ingin memberi kehadiran protektif kepada warga Palestina, bersama sejumlah anggota media, juga sempat dipaksa keluar dari Kota Tua sebelum jurnalis diizinkan kembali dengan pembatasan area di sekitar Austrian Hospice.
Rute yang menuju titik paling rawan
Pawai dimulai dari Yerusalem Barat lalu berakhir di Tembok Barat, dekat Temple Mount yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik berkepanjangan di kota itu. Bagi orang Yahudi, kawasan tersebut dipandang sebagai peninggalan dua kuil kuno, sedangkan umat Muslim menyebutnya Al Haram Al Sharif atau Noble Sanctuary.
Pengelolaan kawasan itu telah diatur selama puluhan tahun di bawah kesepakatan dengan otoritas Muslim. Yayasan keagamaan Yordania mengelolanya, dan umat Yahudi boleh berkunjung tetapi tidak boleh berdoa di sana.
Seruan yang mempertegas klaim politik
Di sepanjang parade, sebagian peserta meneriakkan seruan yang menggambarkan kawasan itu sepenuhnya milik Israel. Kalimat seperti “The Temple Mount is in our hands, the Temple Mount is ours” menegaskan bahwa acara ini juga dipakai sebagai panggung untuk menyatakan klaim kedaulatan.
Bagi peserta yang hadir, Yerusalem diposisikan sebagai pusat identitas Yahudi. Shira Gefen, perempuan Israel berusia 53 tahun dari dekat Haifa, mengatakan Yerusalem adalah kota suci yang akan tetap demikian selamanya, sementara George, pria Israel berusia 65 tahun dari dekat Ashkelon yang menolak menyebut nama belakangnya, menyebut Yerusalem sebagai jantung dunia dan jantung seluruh umat Yahudi.
Keluhan warga Palestina soal ruang hidup mereka
Di sisi lain, banyak warga Palestina memilih mengurung diri di rumah saat parade melintas sambil mengibarkan bendera Israel dan melontarkan seruan seperti “May your villages burn” dan “Death to Arabs.” Bagi mereka, parade ini tidak netral karena berkaitan dengan upaya yang lebih luas untuk memperkuat kendali atas kota dengan mengorbankan kepentingan Palestina.
Kecemasan itu juga terkait sejarah 1967, ketika Israel merebut Yerusalem Timur dalam perang Timur Tengah dan kemudian menganeksasinya. Langkah itu tidak diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun sebagian besar negara, sementara warga Palestina tetap memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina di masa depan.
Kehadiran pejabat di area suci
Pada hari yang sama, Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan jauh kanan, Itamar Ben-Gvir, datang ke kompleks itu. Ia mengibarkan bendera Israel di bawah penjagaan aparat dan mendorong izin doa bagi orang Yahudi di lokasi yang kerap menjadi titik rawan bentrokan.
Kehadirannya menambah lapisan ketegangan di tengah parade yang memang sudah sarat simbol. Di Kota Tua, peringatan tahunan itu kembali menunjukkan bahwa Yerusalem bukan hanya soal perayaan, melainkan juga soal siapa yang berhak menentukan arti dan kendali atas ruang paling sensitif di kota tersebut.





