Uniknya, saat harga kripto melemah dan minat risiko pasar ikut turun, aktivitas perdagangan di DEX justru tetap berhasil mengambil porsi yang lebih besar dari CEX. Laporan DeFi Quarterly dari ARK Invest menunjukkan rasio spot DEX terhadap CEX naik ke sekitar 27,4%, menandakan pergeseran aktivitas yang makin terasa ke venue terdesentralisasi.
Pergeseran itu terjadi di tengah pasar yang sedang tidak bersahabat. ARK menggambarkan kuartal tersebut sebagai periode berat bagi aset kripto, dengan harga yang sempat jatuh tajam antara pertengahan Januari dan awal Februari sebelum pulih tipis pada Maret, namun tetap menutup kuartal di zona merah.
Tekanan itu juga terlihat pada Bitcoin. Berdasarkan data CoinGlass yang dikutip dalam laporan ARK, BTC turun 22% pada periode yang sama dan kehilangan sejumlah level dukungan penting, sehingga suasana pasar spot ikut tertekan.
Di tengah kondisi seperti itu, volume perdagangan DEX memang tidak luput dari penurunan. Total volume spot DEX turun 26% secara kuartalan menjadi sekitar $832 miliar, setelah sebelumnya berada di atas $1 triliun selama lima kuartal berturut-turut.
Pelemahan merata di hampir semua segmen
Penurunan volume tidak hanya muncul pada satu kelompok aset. ARK menyebut koreksi terjadi cukup luas di hampir seluruh kategori perdagangan yang mereka pantau, sehingga pelemahan terlihat menyeluruh di pasar onchain.
Kategori meme coin turun 32% menjadi $199 miliar. Sementara itu, volume project tokens jatuh lebih dalam lagi hingga 58% dan hanya tersisa $37 miliar.
Pasangan stablecoin native juga ikut melemah, turun 28% menjadi $319 miliar. Meski begitu, kategori ini masih menjadi penyumbang volume terbesar di antara segmen yang dilacak dalam laporan tersebut.
Ada dua pengecualian menarik di tengah penurunan luas itu. Volume swap stablecoin justru naik tipis 0,7% menjadi sekitar $185 miliar, sedangkan swap aset tokenisasi melonjak sekitar 83% menjadi sekitar $4,6 miliar.
ARK mengaitkan lonjakan aset tokenisasi itu dengan meningkatnya perdagangan onchain untuk emas dan saham yang ditokenisasi. Pola ini menunjukkan bahwa minat terhadap aset digital belum hilang, tetapi bergerak ke instrumen yang dinilai lebih relevan saat pasar cenderung defensif.
Pangsa DEX naik meski volume turun
Walau angka volume absolut menyusut, rasio spot DEX terhadap CEX justru bergerak naik 270 basis poin. ARK menilai perkembangan ini sebagai sinyal bahwa venue terdesentralisasi sedang merebut pangsa perdagangan spot dari bursa terpusat.
Dalam laporannya, ARK menulis, “The rebound suggests that decentralized venues are gaining share of spot trading, even as absolute volumes declined.” Artinya, DEX bisa memperkuat posisi relatifnya tanpa harus lebih besar dulu dari CEX dalam hal volume total.
Fenomena ini penting karena menunjukkan arah preferensi perdagangan tidak sepenuhnya ditentukan oleh harga. Di saat investor cenderung hati-hati, sebagian aktivitas tampak mulai memilih mekanisme onchain yang memberi akses lebih langsung ke pasar.
Uniswap kembali unggul di tengah tekanan
Pada level protokol, ARK juga mencatat perubahan menarik di antara pemain utama DEX. Uniswap kembali menempati posisi teratas dalam peringkat DEX dengan volume spot $231 miliar.
Capaian itu membuat Uniswap menyalip PancakeSwap, yang mencatat volume $138 miliar. Laporan tersebut menilai peningkatan pengalaman pengguna DeFi dan bertambahnya aset yang bisa diperdagangkan sebagai faktor yang menjaga daya tarik DEX.
Pergerakan ini memperlihatkan bahwa daya saing DEX tidak hanya bergantung pada kondisi pasar secara umum. Saat sentimen investor melemah, venue terdesentralisasi masih punya ruang karena menawarkan opsi perdagangan yang makin luas dan lebih relevan bagi sebagian pelaku pasar.
Dengan volume yang turun tetapi pangsa pasar yang naik, kuartal tersebut memperlihatkan bahwa DEX masih memiliki momentum untuk memperkuat posisinya di tengah tekanan pasar kripto. Data ARK Invest menegaskan bahwa persaingan antara DEX dan CEX tetap hidup, bahkan ketika pasar sedang berada dalam fase takut risiko.





