Penarikan 5.000 tentara Amerika Serikat dari Jerman menjadi sinyal baru bahwa hubungan Washington dengan sekutu-sekutu Eropa sedang memanas. Keputusan itu tidak hanya berdampak pada penataan ulang kekuatan militer AS di Eropa, tetapi juga memperlihatkan betapa tajamnya perbedaan pandangan di tengah krisis Iran.
Pentagon menyebut perubahan ini akan membawa postur pasukan AS di Eropa kembali mendekati tingkat sebelum 2022. Pengurangan tersebut berlangsung bertahap dan ditargetkan selesai dalam enam hingga 12 bulan ke depan.
Dari perang Iran ke gesekan politik
Ketegangan ini ikut dipicu oleh komentar Kanselir Jerman Friedrich Merz. Merz sebelumnya mengatakan Iran sedang mempermalukan AS dalam perundingan untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung dua bulan.
Seorang pejabat senior Pentagon yang tidak disebutkan namanya menilai pernyataan itu tidak pantas dan tidak membantu. Ia juga mengatakan Presiden Donald Trump bereaksi tepat terhadap komentar yang dianggap kontraproduktif tersebut.
Pejabat itu menegaskan bahwa Trump sangat jelas menunjukkan frustrasinya terhadap retorika dari sekutu. Ia juga menyorot kegagalan negara-negara itu memberikan dukungan untuk operasi AS yang menurutnya juga menguntungkan mereka.
Pengurangan pasukan dan perubahan penempatan
Dalam rencana yang disampaikan Pentagon, satu tim tempur brigade yang saat ini ditempatkan di Jerman akan dipindahkan keluar dari negara itu. Selain itu, satu batalion tembakan jarak jauh yang sebelumnya direncanakan pemerintahan Joe Biden untuk mulai ditempatkan di Jerman pada akhir tahun ini juga tidak akan jadi dikerahkan.
Langkah ini berarti jumlah pasukan AS di Eropa akan bergerak mendekati level sebelum invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Bagi Washington, itu menandai penyesuaian besar pada posisi militer yang selama ini menopang kehadiran AS di kawasan.
Jerman tetap penting bagi militer AS
Meski ada pengurangan, Jerman masih menjadi lokasi penempatan militer terbesar AS di Eropa. Saat ini ada sekitar 35.000 personel aktif AS di negara tersebut.
Jerman juga berfungsi sebagai pusat pelatihan penting bagi operasi militer Amerika di kawasan. Karena itu, pengurangan dalam jumlah besar dipandang punya dampak yang lebih luas daripada sekadar perpindahan satuan pasukan.
Perubahan arah ini juga menunjukkan hubungan keamanan Washington dengan salah satu mitra utamanya di Eropa sedang mengalami pergeseran yang tajam. Dalam konteks itu, keputusan Pentagon dibaca sebagai langkah militer yang sekaligus memiliki bobot politik.
Gesekan yang makin terbuka dengan sekutu Eropa
Trump sebelumnya juga menyorot Jerman, sambil ikut mengkritik sekutu NATO lain yang tidak mengirim kapal perang untuk membantu membuka Selat Hormuz selama konflik. Jalur air itu merupakan titik sempit penting bagi pengiriman minyak global dan masih nyaris tertutup.
Penutupan itu memicu gejolak pasar dan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada pasokan energi. Di sisi lain, Merz mengatakan warga Jerman dan Eropa tidak diajak berkonsultasi sebelum AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari.
Merz juga menyebut dirinya sudah menyampaikan langsung keraguannya tentang konflik itu kepada Trump setelahnya. Rangkaian saling kritik ini memperlihatkan jarak yang semakin lebar antara Washington dan mitra-mitranya di Eropa saat krisis Timur Tengah masih berlangsung.





