Di dataran garam Gujarat, panas bukan sekadar cuaca, melainkan bagian dari pekerjaan sehari-hari. Ribuan pekerja tetap turun ke lahan yang memantulkan cahaya putih itu meski suhu kerap mencapai 45 derajat Celsius hingga 47–48 derajat Celsius.
Sebagian besar dari mereka menjalani musim kerja panjang di tempat yang jauh dari listrik, layanan kesehatan, dan naungan alami. Sekitar 50.000 pekerja menghabiskan delapan bulan di salt pans terpencil, dengan pasokan air minum dan air untuk mencuci yang hanya datang lewat tangki setiap 25 hari.
Tekanan seperti itu membuat ritme kerja mereka harus mengikuti matahari. Pekerjaan yang paling berat dilakukan pada pagi buta dan setelah matahari terbenam, sedangkan saat panas mencapai puncaknya mereka berhenti sejenak.
Babulal Narayan, 42, menjelaskan bahwa tugas dijalankan bergantian pada jam yang lebih aman. Ketika suhu terlalu tinggi, banyak pekerja menarik diri ke gubuk darurat untuk beristirahat sebentar.
Tempat berteduh yang dibangun seadanya
Gubuk itu menjadi perlindungan penting di tengah wilayah yang hampir tidak memiliki pohon. Bangunannya dibuat dari rangka kayu, kain tenun kasar, dan plester kotoran keledai liar untuk mengurangi sengatan panas.
Bhavna Rathore, 17, mengatakan tempat itu dipakai duduk setiap dua hingga tiga jam agar tubuh tidak lemas atau pusing. Di lingkungan seperti ini, istirahat singkat sering menjadi pembeda antara tetap bekerja dan tumbang karena panas.
Cara lain juga dipakai untuk menghadapi udara yang membakar. Kanchan Narayan, 44, membungkus botol air dengan kain basah dan menggantungnya dengan tali supaya air di dalamnya mendingin lewat penguapan.
Poornima memilih minum teh hitam pada siang hari. Minuman panas itu memicu keringat dan membantu tubuh terasa lebih sejuk dalam udara kering, meski manfaatnya tetap terbatas saat suhu terus melonjak.
Pekerjaan yang bergantung pada matahari
Produksi garam di Gujarat berjalan dengan memompa air asin dari sumur bor ke kolam dangkal. Setelah dibiarkan menguap di bawah matahari dan angin, para pekerja meratakan permukaan, memecah kristal garam, lalu menumpukkannya menjadi gundukan.
Gujarat menghasilkan sekitar tiga perempat dari total garam India, sehingga dataran garam ini punya peran besar bagi pasokan nasional. Ironisnya, panas ekstrem yang menyulitkan pekerja justru menjadi syarat utama agar proses produksi itu berjalan.
Perubahan ke pompa tenaga surya juga ikut mengubah pola kerja. Biaya yang lebih rendah membuat keluarga dapat mengoperasikan dataran garam lebih lama, sehingga pekerjaan yang dulu berakhir pada Maret kini berlanjut hingga bulan-bulan terpanas.
India Meteorological Department memperkirakan jumlah hari gelombang panas di sejumlah wilayah, termasuk Gujarat, akan berada di atas normal. Itu berarti para pekerja berpotensi terpapar panas lebih lama dari sebelumnya.
Risiko yang terus mengikuti para pekerja
Paparan panas ekstrem membawa ancaman kesehatan yang nyata. Keluhan yang sering muncul meliputi kelelahan, pusing, dan mual, yang menandakan tubuh mulai kewalahan mengatur suhu.
Dalam kondisi yang lebih berat, stres panas dapat memicu gagal organ dan bahkan kematian. Sejumlah studi juga menemukan tingkat dehidrasi yang tinggi, stres panas, dan tanda-tanda gangguan ginjal di komunitas pekerja garam ini.
Paparan air asin berkepanjangan turut menimbulkan masalah kulit. Kanchan mengatakan sepatu bot karet penting dipakai, karena brine bisa membuat kulit pecah-pecah hingga berdarah.
Cuaca ekstrem lain juga menambah tekanan ekonomi. Hujan deras tiba-tiba bisa melarutkan garam yang sudah mengkristal semalaman, sehingga seluruh proses harus dimulai dari awal.
Narayan mengatakan badai debu besar baru-baru ini menghancurkan garam senilai 200.000 rupee. Dari delapan bulan kerja, ia dan lima kerabatnya hanya memperoleh laba 250.000 rupee, atau sekitar 450 dolar per orang.
Tetap bertahan karena tidak banyak pilihan
Meski risikonya besar, banyak keluarga tetap datang kembali ke salt pans karena tidak punya penopang hidup lain. Rasoda Rathore, 65, mengatakan mereka tidak memiliki tanah untuk bertani dan tidak punya ternak untuk membantu memenuhi kebutuhan.
“Kalau bukan ini, lalu apa yang akan kami lakukan?” katanya. Bagi keluarga-keluarga di gurun garam Gujarat, bertahan di bawah panas ekstrem bukan hanya soal pekerjaan, tetapi soal tetap hidup.





