Pilihan antara BYD M6 dan Toyota Veloz Hybrid kini tidak lagi sesederhana membandingkan angka irit energi. Begitu aturan pajak mobil listrik masuk ke pembahasan, hitungan biaya kepemilikan total langsung berubah, dan posisi yang semula terlihat sangat kuat untuk EV mulai mendapat tekanan.
Di pasar mobil keluarga, situasi seperti ini penting karena konsumen biasanya melihat pengeluaran bulanan dan tahunan secara bersamaan. Selisih kecil di biaya energi bisa terlihat menarik, tetapi pajak, servis, dan kemudahan pakai justru sering menjadi faktor yang lebih menentukan.
Biaya harian masih berdekatan
Dalam pemakaian sekitar 60 km per hari, selisih biaya energi kedua model ternyata tidak terlalu jauh. BYD M6 disebut membutuhkan sekitar Rp810 ribu per bulan untuk listrik, sedangkan Veloz Hybrid sekitar Rp922 ribu untuk bahan bakar.
Jika dihitung per tahun, jaraknya hanya sekitar Rp1,2 juta. Angka ini menunjukkan bahwa efisiensi tetap menjadi keunggulan penting, tetapi tidak lagi cukup berdiri sendiri ketika total biaya kepemilikan mulai diperhitungkan secara lebih lengkap.
Bagi banyak konsumen, perbedaan seperti itu masih tergolong tipis. Karena itu, perbandingan keduanya bergeser dari sekadar biaya per kilometer menjadi pertanyaan yang lebih besar, yaitu mana yang lebih murah dipakai dan dirawat dalam setahun penuh.
Servis awal memberi ruang bagi hybrid
Di sisi perawatan, Toyota Veloz Hybrid punya bekal yang cukup menarik. Toyota memberikan program servis gratis hingga tiga tahun, sehingga biaya servis pada tahun pertama disebut nyaris nol rupiah.
BYD M6 berada pada posisi berbeda karena tetap memerlukan biaya jasa teknisi. Pada tahun pertama, total servis mobil listrik itu berada di kisaran Rp1 juta.
Selisih ini membuat Veloz Hybrid terlihat lebih ringan dari sisi pengeluaran awal. Untuk pembeli yang sensitif terhadap biaya sejak awal kepemilikan, aspek servis bisa menjadi faktor yang cukup berpengaruh dalam keputusan akhir.
Pajak mulai mengubah peta persaingan
Faktor yang paling banyak menggeser penilaian datang dari pajak tahunan. Rujukan yang dipakai artikel sumber adalah Permendagri Nomor 11 Tahun 2026, yang menetapkan mobil listrik sebagai objek pajak dengan perhitungan disetarakan dengan kendaraan bensin.
Dalam skema tanpa insentif, BYD M6 yang masuk kategori minibus dengan koefisien tertentu bisa terkena pajak sekitar Rp7,3 juta jika NJKB diasumsikan Rp350 juta. Sementara itu, Toyota Veloz Hybrid berada di kisaran Rp4 juta hingga Rp5 juta.
Di sinilah keunggulan finansial mobil listrik yang sebelumnya terasa dominan mulai menyempit. Selisih pajak beberapa juta rupiah per tahun jauh lebih besar daripada penghematan energi sekitar Rp1,2 juta per tahun, sehingga hybrid terlihat lebih masuk akal bagi sebagian pembeli yang fokus pada total biaya.
Insentif daerah masih menjaga posisi BYD M6
Meski begitu, kondisi di lapangan belum sepenuhnya seragam. Artikel referensi mencatat bahwa pemilik mobil listrik saat ini masih menikmati insentif daerah, sehingga pajak BYD M6 bisa ditekan hingga sekitar Rp443 ribu.
Selama keringanan itu masih berlaku, BYD M6 tetap sangat kompetitif dalam biaya tahunan. Namun bila insentif dicabut, posisi Veloz Hybrid berpotensi menjadi lebih unggul dalam perhitungan total kepemilikan.
Artinya, daya saing BYD M6 sangat bergantung pada kebijakan yang menyertainya. Begitu perlakuan pajak EV mendekati kendaraan bensin tanpa keringanan tambahan, ruang hemat yang selama ini menjadi andalan mobil listrik ikut terpangkas.
Kemudahan pakai ikut memengaruhi keputusan
Selain angka biaya, cara penggunaan sehari-hari juga ikut membentuk pilihan. Mobil listrik membutuhkan waktu pengisian yang lebih lama, sementara ketersediaan SPKLU masih terbatas di sejumlah wilayah.
Sebaliknya, Veloz Hybrid menawarkan pola yang lebih sederhana karena pengisian bahan bakar bisa dilakukan langsung di SPBU. Jaringannya jauh lebih luas dan sudah akrab bagi pengguna mobil keluarga, terutama untuk mereka yang sering bepergian jauh.
Di sisi lain, BYD M6 tetap memiliki daya tarik sendiri, termasuk pengoperasian yang senyap dan status bebas aturan ganjil genap di Jakarta. Namun ketika pajak, servis, dan kemudahan isi energi masuk ke dalam satu hitungan, Toyota Veloz Hybrid menjadi pilihan yang lebih kuat bagi konsumen yang mengutamakan kestabilan biaya tahunan.