Orang Tua Makin Waspada Saat AI Mengubah Kampus Dan Masa Depan Kerja Anak

Kekhawatiran soal kecerdasan buatan kini tidak hanya muncul di ruang rapat kampus atau ruang kerja, tetapi juga di meja makan keluarga. Banyak orang tua mulai menimbang apakah anak mereka sudah cukup siap menghadapi pasar kerja yang berubah jauh lebih cepat daripada pola pendidikan lama.

Di tengah perubahan itu, kampus dituntut tidak lagi sekadar mengajar teori. Perguruan tinggi perlu memberi pengalaman belajar yang dekat dengan kebutuhan industri agar lulusan tidak tertinggal saat teknologi mengubah banyak peran kerja sekaligus.

Campus Director BINUS University Semarang, Fredy Purnomo, menilai efektivitas pendidikan tinggi sekarang diukur dari dampak nyata selama mahasiswa belajar. Ia melihat kampus perlu ikut memitigasi risiko pengangguran terdidik ketika banyak pekerjaan baru muncul akibat boom AI.

Fredy menekankan bahwa pendidikan tidak bisa berhenti pada penyampaian materi kelas. Mahasiswa perlu memahami bagaimana teknologi dipakai dalam praktik industri supaya lebih siap menghadapi pergeseran kerja yang terus terjadi.

Ia juga menilai persoalan ini tidak sesederhana soal software atau otomasi. Yang berubah adalah kecepatan transformasi dunia kerja, sehingga kurikulum dan kesiapan digital menjadi faktor penting dalam perjalanan dari bangku kuliah ke pekerjaan.

Gambaran besarnya juga menunjukkan tantangan yang tidak kecil. Data makro yang disampaikan Fredy memperlihatkan fenomena career mismatch di tingkat nasional masih berada pada kisaran 35%–36%.

Di level global, perubahan itu juga diperkirakan terus meluas. Proyeksi yang ia sampaikan menyebut sekitar 22% struktur pekerjaan akan mengalami pergeseran signifikan pada 2030.

Tekanan dari AI ternyata tidak berhenti pada urusan kurikulum. Di rumah, kekhawatiran baru ikut tumbuh karena orang tua harus berhadapan dengan pertanyaan tentang masa depan kerja, peran manusia, dan kemampuan anak beradaptasi.

Psikolog sekaligus Faculty Member BINUS University, Garry Collins Brata Winardy, menyebut ketakutan terhadap perubahan sebagai respons yang manusiawi. Namun, ia menilai kecemasan itu dapat berkurang jika orang tua dan calon mahasiswa melatih berpikir kritis dan membiasakan diri dengan alat baru.

Menurut Garry, era AI terasa lebih kompleks karena banyak orang masih sedang menyesuaikan diri. Kekhawatiran bisa berubah menjadi kesiapan yang lebih produktif ketika seseorang mengikuti perkembangan teknologi, bukan menjauhinya.

Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi yang lebih terbuka antara orang tua dan anak. Pola hubungan yang semula cenderung satu arah perlu bergeser menjadi ruang negosiasi yang memberi anak kesempatan membangun pendapat dan kesiapan dirinya.

Di sisi lain, Garry mengingatkan bahwa kreativitas manusia tetap punya tempat penting di era AI. Teknologi tidak menggantikan kreativitas sepenuhnya, tetapi justru dapat menjadi alat bantu agar inovasi berkembang lebih cepat dan lebih luas.

Pandangan itu membuat cara pandang terhadap pendidikan ikut bergeser. Orang tua mulai melihat bahwa kemampuan adaptasi, pemahaman teknologi, dan keberanian mencoba hal baru sama pentingnya dengan prestasi di atas kertas.

Andi Purnama Hardjani, salah satu orang tua mahasiswa, menilai adaptasi teknologi kini menjadi kebutuhan utama. Sebagai orang tua yang juga bergerak di industri kreatif, ia melihat perubahan dunia berlangsung sangat cepat dan menuntut kesiapan yang nyata.

Andi berharap anaknya tidak hanya belajar di lingkungan yang unggul secara akademis. Ia juga ingin pendidikan yang diterima benar-benar membekali anak untuk menghadapi industri yang dinamis dan penuh perubahan.

Menurut dia, kurikulum yang aktif mendorong mahasiswa berkreasi dan berinovasi memberi dampak positif yang terasa langsung. Anak tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga membangun karakter, membuka cara pandang yang lebih luas, dan meningkatkan rasa percaya diri.

Andi bahkan menyebut perubahan pada diri anaknya cukup terlihat. Komunikasi yang lebih terstruktur dan pola pikir yang lebih terbuka menjadi tanda bahwa pengalaman belajar yang tepat bisa memberi pengaruh lebih dalam daripada sekadar angka akademis.

Di tengah percepatan AI, kampus, orang tua, dan mahasiswa sama-sama berada dalam fase penyesuaian. Tantangan utamanya bukan hanya mengikuti teknologi, tetapi memastikan teknologi dipakai untuk memperkuat daya pikir, kreativitas, dan kesiapan menghadapi dunia kerja yang terus berubah.

Source: teknologi.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button