Di balik cerita tentang dunia esport, Nobody Loves Kairi justru menonjol karena membawa perjuangan yang sangat manusiawi ke layar lebar. Film ini menempatkan mimpi seorang remaja Filipina sebagai inti drama, bukan sekadar menjadikan game sebagai latar tempel.
Tokoh utamanya adalah Kairi Ygnacio Rayosdelsol, remaja yang ingin menjadi pro player Mobile Legends. Perjalanannya digambarkan dekat dengan realitas banyak anak muda yang harus tetap melangkah meski dukungan minim dan sumber daya terbatas.
Pendekatan itu membuat film ini berbeda dari banyak kisah bertema permainan digital. Sutradara Bernardus Raka melihat cerita ini bukan hanya soal game, melainkan juga tentang mimpi, persahabatan, dan keberanian memilih jalan hidup yang kerap dianggap sebelah mata.
Dari film pendek yang pernah viral
Nobody Loves Kairi berangkat dari film pendek yang lebih dulu sempat viral dan menyentuh banyak penonton. Versi panjangnya kemudian dikembangkan dengan fokus yang lebih luas pada perjuangan, hubungan keluarga, dan tekad untuk mempertahankan mimpi.
Di dalam cerita, Kairi digambarkan hidup dalam kondisi yang serba terbatas. Ia bahkan pernah mengumpulkan kaleng bekas di Filipina demi bisa bermain di warnet.
Dari titik itu, konflik berkembang ke ranah yang lebih emosional. Kairi harus berhadapan dengan keyakinan orang-orang di sekelilingnya, termasuk orang tua yang belum sepenuhnya melihat mimpi di dunia digital sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan.
Emosi seorang remaja yang merasa sendiri
Bima Azriel memerankan Kairi dan menyebut peran ini sebagai tantangan sekaligus kebanggaan. Ia dituntut masuk ke emosi seorang remaja yang terus bertahan pada pilihannya meski merasa sendirian.
Bima juga menilai konflik keluarga menjadi inti drama film ini. Baginya, daya tarik cerita terletak pada cara Kairi tetap berdedikasi pada tujuannya di tengah keterbatasan yang ia hadapi.
“Dengan segala keterbatasan yang dia punya, tapi bagaimana dia bisa terus dedicate sama apa yang dia mau kejar, itu menurut aku hebat,” kata Bima dalam keterangan yang diterima Senin (18/5).
Deretan pemain yang memperkaya cerita
Selain Bima Azriel, film ini turut dibintangi Rey Bong, Joshia Frederico, Aurora Ribero, dan Melati Sesilia. Kehadiran mereka memperluas dinamika cerita yang berpusat pada perjalanan Kairi.
Film ini juga melibatkan aktor senior dan seniman lintas disiplin seperti Mian Tiara, Elly D. Lutan, Baskara Basboi, dan Ayastrophile. Kombinasi pemain muda dan figur lintas bidang itu memberi ruang bagi lapisan emosi yang lebih beragam.
Dengan susunan seperti itu, Nobody Loves Kairi tidak berhenti pada kisah seorang pemain game. Film ini bergerak sebagai cerita tentang keluarga, tekanan sosial, dan keberanian mempertahankan cita-cita di tengah keadaan yang tidak memudahkan.
Source: mediaindonesia.com