Nadella Nilai Pemecatan Sam Altman Tak Jelas, OpenAI Disebut Terselesaikan Secara Amatir

Di tengah sengketa hukum yang menyeret OpenAI dan Microsoft, Satya Nadella menampilkan satu pandangan yang sangat keras terhadap cara perusahaan kecerdasan buatan itu menangani pemecatan Sam Altman. Ia menilai penjelasan yang diberikan para eksekutif OpenAI tidak cukup jelas dan menyebut cara penanganannya terasa amatir.

Pernyataan itu muncul saat Nadella bersaksi di pengadilan federal California dalam pekan ketiga persidangan gugatan Elon Musk terhadap OpenAI. Sebagai CEO Microsoft, ia bukan hanya melihat kasus ini dari luar, tetapi juga dari posisi sebagai investor awal dan mitra bisnis yang hubungannya sangat dalam dengan OpenAI.

Nadella mengatakan dirinya terkejut ketika Altman dicopot dari jabatan CEO pada 2023. Saat itu, dewan OpenAI menyebut Altman tidak selalu jujur secara konsisten dalam komunikasinya, namun bagi Nadella alasan tersebut belum memberi gambaran yang memadai atas keputusan sepenting itu.

Ia juga menilai bahwa sebagai pihak yang memiliki hubungan bisnis erat, Microsoft semestinya mendapat penjelasan yang jauh lebih rinci. Upaya Nadella menghubungi para eksekutif OpenAI setelah pemecatan Altman pun tidak menghasilkan jawaban yang meyakinkan.

Dari sudut pandangnya, proses itu tidak berjalan rapi. Nadella bahkan mengaitkan kekacauan tersebut dengan kemungkinan adanya komunikasi yang buruk atau rasa iri di dalam tubuh perusahaan.

Hubungan Microsoft dan OpenAI memang membuat drama ini mendapat perhatian jauh lebih besar. Microsoft merupakan investor awal OpenAI sejak 2019, dan pada Oktober tahun lalu perusahaan itu mengungkap kepemilikan sekitar 27 persen unit for-profit OpenAI yang kala itu bernilai sekitar 135 miliar dolar AS.

Ketika Altman dipaksa keluar, Nadella bergerak cepat. Ia mengatakan Microsoft siap merekrut Altman dan Greg Brockman, yang saat itu menjabat presiden OpenAI.

Langkah itu ikut menambah tekanan besar terhadap OpenAI. Pada akhirnya, Altman kembali ke kursi CEO setelah ratusan karyawan mengancam akan pindah ke Microsoft bila ia tidak dipulihkan jabatannya.

Kesaksian Ilya Sutskever kemudian memperkuat gambaran betapa gentingnya situasi saat itu. Salah satu pendiri OpenAI itu mengatakan keputusan menyingkirkan Altman diambil setelah apa yang ia gambarkan sebagai pola kebohongan dan upaya mengadu domba para eksekutif OpenAI.

Namun pandangan itu berubah ketika ancaman terhadap perusahaan menjadi nyata. Sutskever mengatakan ia berbalik mendukung kembalinya Altman setelah melihat tawaran Microsoft untuk mempekerjakan seluruh karyawan OpenAI, sementara 95 persen karyawan menandatangani surat ancaman keluar bila Altman tidak dikembalikan.

Persidangan ini juga menempatkan Microsoft dalam posisi sensitif karena ikut disebut sebagai tergugat dalam gugatan Musk. Musk menuduh adanya bantuan terhadap dugaan pelanggaran terhadap charitable trust, dan ia sebelumnya mengatakan khawatir investasi Microsoft akan membuat perusahaan itu pada dasarnya mengambil alih OpenAI.

Nadella menyatakan bahwa dirinya tidak pernah dihubungi Musk untuk membicarakan kekhawatiran tersebut. Saat ditanya apakah Musk tahu cara menghubunginya, Nadella menjawab bahwa mereka saling memiliki nomor telepon.

Dalam sidang yang sama, pengacara Musk, Steven Molo, juga menyoroti email Nadella kepada eksekutif Microsoft pada 2022. Dalam pesan itu, Nadella menulis bahwa ia tidak ingin Microsoft menjadi seperti IBM dan OpenAI menjadi seperti Microsoft.

Pertanyaan itu membuka kembali perbandingan lama di industri teknologi. Pada 1980, IBM menandatangani perjanjian non-eksklusif untuk mendistribusikan sistem operasi DOS milik Microsoft di komputer pribadi IBM, langkah yang kemudian membantu Microsoft tumbuh besar di bisnis sistem operasi.

Ketika ditanya apakah Microsoft pada akhirnya menjadi perusahaan yang jauh lebih menonjol dan penting daripada IBM, Nadella menjawab singkat, “Benar.” Setelah Nadella dan Sutskever, chairman OpenAI Bret Taylor juga memberi kesaksian dan menyebut masa pemecatan Altman sebagai periode yang buruk.

Source: www.indiatoday.in

Baca Juga

Back to top button