Musk Dan Tim Cook Masuk Rombongan Trump Ke China, Taruhan Dagang Dan AI Makin Besar

Kehadiran deretan nama besar dunia bisnis dalam perjalanan Donald Trump ke China menunjukkan bahwa pembicaraan di Beijing tidak akan berhenti pada urusan diplomasi semata. Di balik agenda yang disebut mencakup Iran, perdagangan, dan kecerdasan buatan, rombongan itu memperlihatkan betapa eratnya kaitan antara kepentingan politik dan bisnis dalam hubungan AS-China.

Komposisi undangan yang dibawa Trump juga menegaskan bahwa isu perdagangan dan AI tetap menjadi perhatian utama para pelaku usaha besar. Tokoh dari sektor teknologi, keuangan, hingga pertanian ikut masuk dalam rombongan, sehingga kunjungan ini terasa lebih luas daripada sekadar pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping.

Salah satu nama yang paling menyita perhatian adalah Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX. Musk kembali masuk rombongan setelah sebelumnya memimpin Department of Government Efficiency bentukan Trump sebelum lembaga itu dibubarkan pada November 2025.

Hubungan Musk dan Trump sempat memburuk setelah keduanya saling serang di media sosial X. Dalam salah satu unggahannya, Musk menuduh pemerintah menyembunyikan informasi terkait hubungan Trump dengan Jeffrey Epstein, meski tuduhan itu tidak disertai bukti yang ditunjukkan ke publik.

Belakangan, Musk mengakui bahwa sebagian unggahannya tentang Trump ia sesali. Meski begitu, kehadirannya tetap punya bobot besar karena Tesla memiliki operasi besar di China dan Musk beberapa kali tercatat berkunjung ke negara tersebut.

Tim Cook dari Apple juga ikut dalam daftar undangan itu. Cook baru saja mengumumkan akan mengakhiri masa jabatannya sebagai CEO Apple pada 1 September 2026 setelah memimpin perusahaan selama 15 tahun.

Posisi Cook akan digantikan John Ternus, kepala divisi hardware engineering Apple. Meski akan turun dari kursi CEO, Cook tetap bertahan sebagai chairman eksekutif perusahaan.

Selama memimpin Apple, Cook dikenal sangat hati-hati menjaga hubungan politik dan bisnis, terutama ketika Trump menerapkan perang dagang dengan China. Apple bahkan sempat memperoleh sejumlah pengecualian tarif impor setelah berjanji menginvestasikan US$ 600 miliar di AS pada masa pemerintahan Trump kedua.

Dari sektor penerbangan, Kelly Ortberg dari Boeing juga disebut ikut dalam perjalanan tersebut. Ortberg memimpin Boeing sejak 2024, saat perusahaan itu menghadapi persoalan hukum, regulasi, dan produksi yang berat.

Kehadiran Boeing dalam rombongan ini tidak lepas dari dampak perang tarif AS-China. Beijing pernah menaikkan tarif impor barang AS menjadi 125% sebagai balasan atas kebijakan Trump yang menaikkan tarif produk China hingga 145%.

Di tengah tensi itu, Boeing masih menjalin pembicaraan dengan China mengenai peluang penjualan besar pesawat komersial. Karena itu, kehadiran Ortberg dinilai sejalan dengan agenda ekonomi yang dibawa Trump ke Beijing.

Selain Musk, Cook, dan Ortberg, daftar rombongan juga berisi sejumlah eksekutif besar dari dunia teknologi dan keuangan. Mereka datang dari perusahaan yang punya kepentingan langsung terhadap arah hubungan dua ekonomi terbesar dunia.

Nama-nama yang ikut antara lain Jensen Huang dari Nvidia, Larry Fink dari BlackRock, Stephen Schwarzman dari Blackstone, Jane Fraser dari Citigroup, David Solomon dari Goldman Sachs, Sanjay Mehrotra dari Micron Technology, Cristiano Amon dari Qualcomm, Ryan McInerney dari Visa Inc., dan Dina Powell McCormick dari Meta Platforms.

Dengan daftar itu, perjalanan Trump ke China tampak membawa pesan yang jelas. Di balik pembicaraan soal Iran dan AI, kunjungan ini menyoroti besarnya taruhan bisnis yang terkait dengan perdagangan, investasi, dan teknologi antara Amerika Serikat dan China.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version