Microsoft Maju ke Komputer Kuantum Skalabel 2029, AI Ikut Mengawal Chip Majorana 2

Perjalanan Microsoft di komputasi kuantum kini memasuki fase yang lebih agresif. Perusahaan itu menargetkan komputer kuantum skalabel pada 2029, sambil memperkenalkan chip Majorana 2 di ajang Microsoft Build 2026.

Langkah tersebut bukan sekadar pembaruan produk. Microsoft juga menempatkan AI sebagai bagian inti dari proses pengembangan chip, sehingga riset perangkat keras kuantum tidak lagi hanya bertumpu pada pendekatan laboratorium tradisional.

AI masuk ke inti pengembangan chip

Majorana 2 dikembangkan dengan dukungan Microsoft Discovery, platform AI agentic milik Microsoft untuk riset ilmiah. Agen AI dipakai untuk menganalisis data, mengotomatisasi pengukuran, mengoptimalkan proses manufaktur, dan mencari potensi cacat desain.

Peran AI juga menjangkau data riset yang dikumpulkan selama puluhan tahun. Dengan bantuan itu, Microsoft ingin menemukan pola yang bisa membantu peneliti menentukan eksperimen berikutnya secara lebih terarah.

Pendekatan ini penting karena pengembangan perangkat keras kuantum dikenal lambat dan kompleks. Microsoft menempatkan AI bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai alat percepatan untuk membantu tim riset bergerak lebih cepat.

Target 2029 dan arah baru persaingan

Target komputer kuantum skalabel pada 2029 menunjukkan bahwa Microsoft ingin memperpendek jarak menuju komputasi kuantum yang lebih praktis. Ambisi itu langsung menempatkan perusahaan dalam persaingan global yang makin ketat.

IBM baru-baru ini berkomitmen menggelontorkan miliaran dolar untuk program kuantumnya. Di sisi lain, Google, Amazon, dan sejumlah kelompok riset di China juga mengejar sistem yang mampu melampaui kemampuan superkomputer saat ini.

Dalam peta persaingan tersebut, Microsoft mencoba membangun pembeda lewat kombinasi perangkat keras kuantum dan riset berbantuan AI. Perusahaan melihat arah ini sebagai jalan menuju mesin yang bisa membantu menyelesaikan masalah kompleks di kesehatan, ilmu material, produksi energi, dan kimia.

Mengapa Majorana 2 diperhatikan

Komputasi kuantum bekerja dengan qubit, bukan bit seperti komputer biasa. Qubit dapat berada dalam banyak keadaan sekaligus, sehingga secara teori mampu menjalankan jenis perhitungan tertentu jauh lebih efisien.

Masalah utamanya ada pada rapuhnya qubit. Gangguan lingkungan mudah membuat qubit kehilangan keadaan kuantumnya, dan inilah yang selama ini menjadi salah satu penghalang terbesar untuk penggunaan komputer kuantum dalam skala besar.

Microsoft memilih jalur topological quantum computing, pendekatan yang sudah dikejar hampir dua dekade. Jalur ini mengandalkan keadaan kuantum eksotis yang terkait dengan kuasipartikel Majorana, yang pertama kali diteorikan oleh fisikawan Italia Ettore Majorana pada 1930-an.

Perusahaan meyakini pendekatan itu dapat menghasilkan qubit yang lebih stabil dibanding pendekatan superkonduktor yang dipakai pesaing seperti IBM dan Google. Jika stabilitas tersebut terus terbukti, posisi Microsoft dalam persaingan teknologi kuantum bisa berbeda dari para pesaingnya.

Lonjakan teknis, tetapi skala masih kecil

Microsoft mengklaim Majorana 2 meningkatkan reliabilitas qubit hingga 1.000 kali dibanding generasi sebelumnya. Chip ini disebut mampu membuat qubit mempertahankan keadaan kuantumnya rata-rata sekitar 20 detik, naik dari hitungan milidetik pada versi terdahulu.

Dalam beberapa kasus, qubit pada Majorana 2 bahkan diklaim bisa bertahan hingga satu menit. Masa hidup qubit yang lebih panjang memberi peluang lebih besar untuk menjalankan komputasi yang lebih rumit.

Meski begitu, ukuran chip ini masih jauh dari kebutuhan komersial yang sesungguhnya. Majorana 2 baru memiliki 12 qubit topologis, sementara banyak pakar menilai komputer kuantum yang benar-benar berguna memerlukan jutaan qubit.

Karena itu, pengumuman ini lebih tepat dibaca sebagai lompatan teknis ketimbang produk siap pakai. Namun bagi Microsoft, peningkatan stabilitas dan bantuan AI menjadi fondasi penting untuk mengejar mesin kuantum yang lebih praktis.

Material baru jadi pembeda desain

Perubahan penting lain pada Majorana 2 terletak pada material chip. Jika banyak prosesor kuantum lain mengandalkan superkonduktor berbasis aluminium, Microsoft beralih ke susunan material berbasis timbal.

Microsoft menyebut AI membantu peneliti mengevaluasi kombinasi material, menjalankan simulasi, dan memecahkan tantangan manufaktur saat timbal dimasukkan ke dalam desain chip. Pemilihan material ini menjadi penting karena sangat memengaruhi performa dan kestabilan qubit.

Dari sini terlihat bahwa kemajuan komputasi kuantum tidak hanya ditentukan oleh teori fisika. Keputusan manufaktur yang sangat spesifik juga ikut menentukan arah persaingan, dan AI kini dipakai untuk mempercepat pencarian solusinya.

Source: www.indiatoday.in

Baca Juga

Back to top button