Pasar smart glasses sedang bergerak ke fase yang jauh lebih serius. Dari perangkat yang dulu dianggap masih percobaan, kategori ini kini mulai dipandang sebagai platform massal yang bisa mengubah cara orang berinteraksi dengan layanan digital.
Perubahan itu membuat persaingan ikut memanas. Proyeksi pasar menunjukkan pengiriman smart glasses bisa naik dari sekitar 6 juta unit pada 2025 menjadi 20 juta unit pada 2026, sehingga perhatian industri kini tertuju pada siapa yang paling cepat membangun ekosistem.
Meta dan Google paling agresif
Di tengah percepatan tersebut, Meta dan Google disebut berada dalam posisi paling siap untuk memimpin. Keduanya tidak hanya mengejar produk, tetapi juga menyiapkan fondasi pasar yang lebih luas agar perangkat ini bisa diterima konsumen secara massal.
Meta mengandalkan Ray-Ban Meta sebagai pijakan awal. Penjualan produk itu dilaporkan naik tiga kali lipat pada 2025, menandakan ada minat nyata di luar kelompok pengguna awal yang biasanya paling cepat mencoba perangkat baru.
Namun langkah agresif itu datang dengan biaya besar. Reality Labs masih mencatat kerugian USD 4,03 miliar pada kuartal pertama 2026, sementara belanja modal perusahaan justru dinaikkan ke level USD 125–145 miliar.
Google membangun jalan lewat ekosistem
Google memilih jalur yang berbeda dengan menekankan ekosistem. Lewat Alphabet, perusahaan itu menyiapkan Android XR sebagai platform yang dijadwalkan meluncur pada 2026.
Pendekatan ini diperkuat oleh kerja sama dengan Warby Parker, Gentle Monster, dan Samsung. Kolaborasi tersebut memberi Google akses yang lebih dekat ke pasar massal, terutama di segmen pengguna kacamata resep yang mencakup sekitar 69 persen populasi global.
Dengan strategi seperti itu, Google tidak sekadar menyiapkan perangkat. Perusahaan juga membangun jalur distribusi dan kemitraan yang bisa mempercepat penerimaan konsumen saat kategori ini mulai melebar.
Apple masih kuat, tetapi belum memimpin kategori baru
Di sisi lain, Apple tetap menunjukkan kinerja inti yang solid. Perusahaan membukukan pendapatan kuartal kedua fiskal 2026 sebesar USD 111,184 miliar atau sekitar Rp 1.930 triliun, naik 16,6 persen secara tahunan, dengan laba per saham USD 2,01.
Tim Cook juga menyebut permintaan terhadap iPhone 17 sangat kuat. Meski begitu, dalam penjelasan yang sama belum tampak penekanan pada pengembangan kategori smart glasses yang sedang dikejar kompetitor.
Pasar membaca posisi itu dengan hati-hati. Saham AAPL diperdagangkan di level USD 287,44, naik 47,1 persen dalam satu tahun, dengan rasio harga terhadap laba sekitar 35 kali.
Ekspektasi pasar belum sepenuhnya berpihak ke Apple
Keraguan terhadap kecepatan Apple di segmen ini juga terlihat dari pasar derivatif. Probabilitas bahwa Vision Pro generasi kedua meluncur sebelum 2027 hanya 6 persen.
Angka itu menegaskan bahwa Apple masih punya kekuatan bisnis besar, tetapi belum memperlihatkan momentum awal yang sama seperti Meta dan Google di kategori kacamata pintar. Dalam fase yang mulai dianggap sebagai momen penting bagi industri ini, kecepatan masuk pasar dan kesiapan ekosistem menjadi pembeda utama.
Rantai pasok AI ikut masuk ke persaingan
Persaingan smart glasses juga menarik pemain di luar merek perangkat. Broadcom ikut mencuat sebagai bagian penting dalam rantai pasok cip AI untuk perangkat generasi baru.
Perusahaan itu mencatat pertumbuhan pendapatan 29,5 persen secara tahunan. CEO Hock Tan menyebut Broadcom membukukan pendapatan kuartal pertama yang memecahkan rekor, didorong oleh kekuatan berkelanjutan dalam solusi semikonduktor AI.
Kehadiran Broadcom memperlihatkan bahwa arah kompetisi tidak berhenti pada desain kacamata atau nama merek. Ke depan, pasar akan ditentukan oleh siapa yang paling siap menggabungkan perangkat, perangkat lunak, distribusi, dan komponen AI dalam satu ekosistem yang utuh.