Pelaku pasar masih menahan diri saat IHSG mendekati area 7.144, karena ruang kenaikan indeks dinilai belum cukup lebar untuk disebut kuat. Setelah sehari sebelumnya bergerak naik 0,41 persen ke 7.101,226, indeks masih berada dalam fase yang rawan berubah arah ketika sentimen global kembali menekan.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada hasil pertemuan Federal Open Market Committee atau FOMC. Selama kepastian dari agenda itu belum keluar, pergerakan IHSG cenderung dibaca sebagai pemantulan jangka pendek, bukan awal tren naik yang solid.
Level teknikal masih menjadi pegangan
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menempatkan support IHSG di 7.064 dan resistance di 7.144. Menurut dia, dua level itu masih menjadi acuan utama untuk membaca arah indeks pada perdagangan berikutnya.
Herditya memperkirakan IHSG masih punya peluang menguat, tetapi sifatnya terbatas. Ia menilai kenaikan yang muncul belum cukup kuat untuk mendorong pergerakan jauh dari rentang yang sudah terbentuk.
“Untuk (perdagangan) besok kami perkirakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 7.064 dan resistance 7.144,” ujar Herditya Wicaksana.
Penguatan yang terjadi masih dianggap pantulan teknikal
Kenaikan IHSG belakangan ini belum dipandang sebagai sinyal perubahan arah yang meyakinkan. Herditya menyebut penguatan itu lebih tepat dibaca sebagai technical rebound di tengah sikap hati-hati investor.
Sikap wait and see masih dominan karena pasar menunggu FOMC Meeting. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah dan pergerakan harga emas dunia yang masih terkoreksi ikut memberi warna pada sentimen perdagangan.
“Kami perkirakan, penguatannya masih cenderung technical rebound dan investor masih menanti akan FOMC Meeting, di sisi lain akan dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan pergerakan harga emas dunia yang masih terkoreksi,” kata Herditya Wicaksana.
Dukungan sentimen belum cukup kuat untuk mendorong reli
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penguatan IHSG sejauh ini masih banyak ditopang laporan kinerja emiten dan meredanya kekhawatiran pasar dalam jangka pendek. Meski begitu, ia melihat dorongan tersebut belum cukup untuk memastikan arah pasar berubah lebih stabil dalam jangka menengah.
Menurut Hendra, peluang penguatan lanjutan akan lebih terbuka jika tekanan eksternal mereda. Ia menyebut dua faktor yang paling penting adalah konflik geopolitik dan arah suku bunga global, disusul stabilisasi rupiah sebagai penopang pasar saham domestik.
“Jika tekanan eksternal mereda, khususnya terkait konflik geopolitik dan arah suku bunga global, serta diiringi stabilisasi rupiah, maka peluang penguatan lanjutan terbuka,” ucap Hendra Wardana.
Risiko koreksi tetap membayangi
Meski peluang menguat masih ada, pasar belum bisa mengabaikan risiko koreksi. Jika tekanan pada nilai tukar kembali membesar, IHSG berpotensi menguji area bawah di kisaran 7.022 hingga 7.100.
Kondisi itu membuat pergerakan indeks masih sangat sensitif terhadap sentimen luar negeri. Selama tekanan eksternal belum mereda, IHSG diperkirakan tetap mudah bergerak dalam rentang sempit dan rentan berbalik arah saat mendekati batas atas.





