Di tengah derasnya arus informasi digital, Jawa Timur menempatkan literasi sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Khofifah Indar Parawansa menilai membaca harus naik kelas dari sekadar kebiasaan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
Pandangan itu ia kaitkan dengan upaya menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. Menurut Gubernur Jawa Timur tersebut, literasi menjadi fondasi penting agar generasi muda tumbuh cerdas, kritis, dan berkarakter.
Khofifah juga menyoroti bahwa kemampuan membaca hari ini tidak lagi cukup diartikan sebagai aktivitas membuka dan memahami teks. Masyarakat perlu mampu menganalisis informasi, menyaring isi yang diterima, dan tidak mudah terjebak hoaks.
Peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei menjadi salah satu momentum yang menurut Khofifah penting untuk memperkuat kesadaran publik terhadap buku dan perpustakaan. Ia menilai keduanya tetap relevan sebagai sumber pengetahuan, meski pola belajar masyarakat terus berubah.
Literasi harus dibangun bersama
Khofifah menegaskan bahwa penguatan budaya baca tidak bisa mengandalkan satu pihak saja. Keluarga, sekolah, pemerintah, dan lingkungan sosial perlu bergerak bersama agar membaca benar-benar menjadi kebiasaan harian.
Ia juga menekankan perlunya literasi yang lebih adaptif di era digital. Pemanfaatan buku digital dan audiobook, menurut dia, perlu diperkuat supaya kebiasaan membaca tetap dekat dengan cara masyarakat saat ini.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong peningkatan indeks literasi melalui berbagai program dan inovasi layanan perpustakaan. Upaya itu diarahkan agar akses bacaan semakin dekat dengan warga di berbagai daerah.
Berdasarkan data Perpusnas, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Jawa Timur pada 2025 mencapai 56,29. Capaian tersebut didukung oleh pemerataan layanan perpustakaan, meningkatnya kunjungan masyarakat, dan keterlibatan komunitas literasi.
Layanan yang menyentuh anak-anak
Untuk mendekatkan budaya membaca kepada warga, terutama anak-anak, Pemprov Jatim menghadirkan sejumlah layanan. Di antaranya Mobil Perpustakaan Keliling, dongeng keliling, Tur Keliling Perpustakaan, dan podcast literasi.
Rangkaian layanan itu menunjukkan bahwa literasi tidak hanya dikejar lewat ruang baca formal. Pemerintah daerah mencoba menjangkau masyarakat dengan pendekatan yang lebih dekat dan sesuai dengan kebiasaan publik sekarang.
Khofifah berharap penguatan budaya literasi di Jawa Timur dapat melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global. Ia menempatkan membaca bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari pembentukan daya saing masyarakat di masa depan.
Source: wartatransparansi.com




