Perlintasan sebidang sering memunculkan kekhawatiran ketika mobil listrik tiba-tiba berhenti. Namun, dugaan bahwa rel kereta menjadi sumber utama masalah tidak sejalan dengan penjelasan teknis yang disampaikan Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady.
Ia menegaskan bahwa rel kereta api tidak memancarkan medan magnet yang cukup besar untuk mengganggu sistem kendaraan. Penjelasan itu berlaku pada jalur kereta biasa maupun jalur kereta listrik, sehingga rel tidak bisa langsung dijadikan alasan atas mobil listrik yang mogok di tengah lintasan.
Gangguan elektromagnetik bukan penyebab utama
Mobil listrik modern sudah dibekali sistem elektronik yang mengikuti standar electromagnetic compatibility atau EMC. Standar ini dirancang agar kendaraan tetap bekerja stabil meski berada di lingkungan yang berpotensi memiliki gangguan elektromagnetik.
Karena itu, adanya sumber listrik di sekitar jalur kereta tidak otomatis membuat mobil listrik berhenti berfungsi. Komponen kendaraan tetap dirancang agar mampu bertahan selama paparan gangguan masih berada dalam batas yang wajar.
Pada sistem kereta listrik, arus utama juga tidak menyebar bebas ke permukaan jalan. Jayan menjelaskan bahwa aliran listrik berada di kabel bagian atas dan sudah terisolasi dengan baik, sehingga pengaruhnya ke area lintasan kendaraan sangat kecil.
Ia bahkan menyebut, “Medan elektromagnetik dari sistem kereta listrik memang ada, tetapi intensitasnya kecil dan tidak menyebar secara signifikan ke permukaan jalan.” Dengan kondisi seperti itu, rel kereta tidak cukup kuat untuk memicu kegagalan sistem pada mobil listrik.
Sumber masalah sering justru ada di kendaraan
Jika mobil berhenti mendadak di perlintasan sebidang, penyebabnya umumnya berasal dari kondisi kendaraan itu sendiri. Pada mobil bermesin konvensional, gangguan bisa muncul dari aki, sistem bahan bakar, atau mesin yang mati.
Pada mobil listrik, masalah internal bisa berkaitan dengan baterai yang habis atau gangguan pada sistem kelistrikan di dalam kendaraan. Semua kemungkinan itu tidak berkaitan dengan keberadaan rel kereta yang dilintasi.
Faktor pengemudi juga sering ikut berperan dalam situasi seperti ini. Pada mobil bertransmisi manual, kesalahan mengatur kopling atau kepanikan saat melintas dapat membuat mesin mati mendadak di atas rel.
Mengapa mitos itu mudah dipercaya
Mitos tentang mobil listrik yang mogok karena magnet rel tampaknya tumbuh dari pengamatan yang keliru. Saat kendaraan berhenti di perlintasan, kejadian itu mudah terlihat seolah dipicu faktor luar, padahal penyebab utamanya kerap berasal dari kondisi mobil dan cara pengemudi mengendalikannya.
Situasi di perlintasan sebidang juga membuat masalah terasa lebih dramatis. Banyak kendaraan berhenti karena antrean lalu mencoba maju dalam ruang yang sempit, sehingga risiko tersendat lebih terlihat dibandingkan saat berkendara di jalan biasa.
Karena itu, rel kereta tidak bisa dianggap sebagai penyebab mobil listrik tiba-tiba mati. Penjelasan ilmiah justru menunjukkan bahwa gangguan elektromagnetik dari jalur kereta terlalu kecil untuk merusak sistem kendaraan yang sudah dirancang sesuai standar keselamatan elektronik.
Jayan juga mengingatkan agar pengendara lebih berhati-hati saat melintasi rel. Ia menyarankan ada ruang setidaknya satu mobil di depan rel sebelum kendaraan maju, supaya mobil tidak terjebak di tengah lintasan ketika kondisi jalan sedang padat.





