Kucing yang suka membawa pulang mangsa sering dianggap hanya sedang menyalurkan naluri alaminya. Padahal, kebiasaan ini menyimpan risiko kesehatan yang tidak selalu langsung terlihat dan sering baru disadari saat gejalanya muncul.
Masalahnya bukan cuma pada hewan mangsa yang dimakan, tetapi juga pada kondisi liar, kotor, dan tidak terkontrol dari hewan tersebut. Di titik inilah kucing peliharaan dapat terpapar bakteri, parasit, virus, dan patogen lain yang memicu gangguan kesehatan.
Risiko yang sering luput diperhatikan
Kucing memang termasuk predator berukuran sedang dan memiliki dorongan berburu yang kuat. Karena itu, hewan kecil seperti kelinci, burung, serangga, amfibi, reptil seperti kadal, ikan, arthropoda, dan moluska kerap menjadi target.
Namun, hewan-hewan itu tidak otomatis aman hanya karena terlihat sesuai dengan insting makan kucing. Kondisi mangsa yang berasal dari alam bebas justru membuka peluang masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh kucing.
Burung liar, misalnya, dapat membawa salmonela. Tikus juga berbahaya karena bisa mengandung cacing pita, bakteri, dan berbagai patogen lain yang memicu masalah kesehatan.
Gejala tidak selalu muncul seketika
Dampak dari memakan hewan liar tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Pada sebagian kasus, gejala baru tampak dalam hitungan jam, hari, atau bahkan bulan, tergantung kondisi kucing dan jenis mangsa yang dimakan.
Menurut dialavet, kucing yang mengonsumsi hewan liar dapat mengalami diare, muntah-muntah, demam, letargi, dan perubahan pola makan. Keluhan itu dapat berkaitan dengan bakteri, virus, gangguan pencernaan, infeksi, maupun patogen lain.
Karena gejalanya bisa berkembang pelan, pemilik sering mengira kondisi tersebut ringan. Jika keluhan menjadi berat, kucing perlu segera dibawa ke dokter hewan agar penanganan tidak terlambat.
Menjaga asupan agar dorongan berburu berkurang
Salah satu cara melindungi kucing adalah memastikan kebutuhan makannya tetap tercukupi. Makanan basah dan makanan kering menjadi dua pilihan umum yang dapat diberikan sesuai kebutuhan hewan peliharaan.
Camilan atau treats masih boleh diberikan, tetapi porsinya hanya sekitar 10 persen dari total makanan harian. Scrumbles menyebut ayam dan ikan sebagai sumber protein yang baik untuk kucing, sementara pelet kucing atau daging cincang juga bisa menjadi pilihan.
Sebaliknya, makanan manusia seperti cokelat, nasi, buah-buahan, tomat, dan selai kacang perlu dihindari. Pemberian makanan yang tepat membantu kucing tetap sehat dan tidak terdorong mencari mangsa di luar rumah.
Cara mencegah kebiasaan berburu di luar rumah
Pencegahan tetap menjadi langkah penting agar kucing tidak terus mengejar hewan liar. Pemilik bisa menyediakan mainan tikus untuk menyalurkan naluri berburu di dalam rumah.
Kucing juga perlu dijaga agar tidak stres karena kondisi tersebut dapat membuatnya kabur atau lebih sering keluar rumah. Saat bermain di luar, pengawasan tetap dibutuhkan supaya kucing tidak sembarangan menangkap atau memakan hewan liar.
Dalam beberapa kasus, kucing juga bisa dilatih agar tidak menyerang hewan liar yang ditemuinya. Cara ini tidak hanya membantu melindungi kesehatan kucing, tetapi juga mengurangi tekanan pada populasi hewan liar yang terus diburu dan dimakan.
Source: www.idntimes.com




