Sirkuit Internasional Mandalika tetap bersiap menyambut GT World Challenge Asia dengan standar operasional yang terjaga, meski jumlah mobil GT3 yang akan tampil turun cukup tajam dari perkiraan awal. Di tengah penyusutan itu, penyelenggara menegaskan bahwa perangkat balapan sudah dicek dan dinyatakan siap digunakan.
Perubahan paling mencolok datang dari jumlah peserta. Dari proyeksi 34 mobil, angka tersebut kini mengerucut menjadi 22 unit saja, dengan penyebab yang disebut berkaitan dengan tekanan geopolitik dan persoalan logistik global yang memengaruhi kesiapan tim untuk datang ke Mandalika.
Jumlah peserta turun dalam waktu singkat
Direktur Mandalika Grand Prix Association, Priandhi Satria, menjelaskan bahwa perubahan komposisi grid berlangsung cepat menjelang balapan yang digelar pada 1–3 Mei 2026. Dua hari sebelum pernyataannya, jumlah mobil masih tercatat 24 unit, tetapi data terakhir menunjukkan hanya 22 mobil GT3 yang siap turun lintasan.
Situasi ini memperlihatkan bahwa faktor di luar olahraga bisa memberi dampak langsung pada ajang balap internasional. Bukan performa di trek yang menjadi masalah utama, melainkan hambatan lintas negara yang membuat sebagian tim tidak dapat mempertahankan rencana keikutsertaan mereka.
Meski jumlah mobil menyusut, jumlah pembalap tidak ikut turun sejauh itu. Dengan format dua pembalap per mobil, total pembalap diperkirakan tetap berada di kisaran 40 hingga 44 orang.
Kesiapan lintasan tidak terganggu
Di tengah penyesuaian jumlah peserta, kesiapan teknis Sirkuit Internasional Mandalika tetap menjadi perhatian utama. MGPA memastikan seluruh perangkat balapan telah diperiksa, mulai dari lampu start, digital flag, lap panel, sistem pencatatan waktu, race control, kamera pengawas, hingga alat pemadam kebakaran.
Priandhi menegaskan bahwa sisi operasional lintasan tidak mengalami kendala. “Yang berhubungan dengan race tidak ada masalah,” ujarnya.
Pengecekan perangkat dilakukan setelah MGPA lebih dulu menyelesaikan Pertamina Mandalika Racing Series pada minggu sebelumnya. Setelah ajang itu rampung, seluruh sistem kembali ditinjau agar GT World Challenge Asia bisa berjalan dengan standar yang tetap terjaga.
Persaingan tetap menarik lewat mobil GT3
Balapan di Mandalika akan tetap menampilkan mobil kategori GT3 dari sejumlah merek dunia, termasuk Mercedes dan Audi. Kelas ini dikenal menghadirkan persaingan lintas merek dan lintas mesin dalam satu arena yang sama.
Agar pertarungan tetap seimbang, regulasi Balance of Performance atau BoP diberlakukan. Aturan ini penting karena membantu menyamakan peluang antartim meski basis teknologi mobil mereka berbeda.
Dengan skema tersebut, daya saing di lintasan tidak hanya ditentukan oleh nama besar pabrikan. Eksekusi tim, strategi pit, dan konsistensi pembalap tetap menjadi faktor penentu dalam duel yang berlangsung ketat.
Dampak yang melampaui arena balap
GT World Challenge Asia di Mandalika juga dipandang membawa nilai ekonomi bagi daerah sekitar. Kehadiran pembalap, kru, dan penggemar dari berbagai negara dinilai dapat mendorong aktivitas pariwisata serta jasa pendukung di Nusa Tenggara Barat.
Kelompok tamu seperti ini disebut memiliki tingkat pengeluaran yang tinggi. Karena itu, ajang balap internasional di Mandalika tidak hanya diposisikan sebagai kompetisi motorsport, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal yang ikut memberi manfaat pada sektor penunjang.
Walau jumlah mobil tidak lagi sesuai proyeksi awal, keberadaan 22 mobil GT3 dengan puluhan pembalap internasional tetap memberi bobot penting bagi Mandalika sebagai tuan rumah ajang kelas dunia. Dalam situasi seperti ini, sorotan bukan hanya tertuju pada persaingan di lintasan, tetapi juga pada kemampuan penyelenggara menjaga kesiapan teknis dan menjaga daya tarik event di tengah tekanan geopolitik dan logistik yang memengaruhi partisipasi tim.
Source: www.beritasatu.com




