Kepergian Simone Inzaghi dari Inter Milan tidak datang dengan suasana rendah kepala. Justru, pelatih asal Italia itu menutup empat tahunnya dengan narasi yang tetap ia jaga: Inter adalah tim yang pernah berdiri di panggung besar dan memaksa lawan-lawan kuat bekerja keras.
Bagi Inzaghi, yang akan memulai babak baru bersama Al Hilal pada musim panas 2025, nilai masa baktinya di Milan tidak berhenti pada jumlah trofi. Ia memilih mengingat momen ketika Inter mampu melampaui ekspektasi, terutama saat menghadapi Bayern Munich dan Barcelona.
Malam besar yang lebih melekat daripada trofi
Di antara banyak laga yang dijalani Inter selama era Inzaghi, kemenangan atas Bayern dan Barcelona menempati tempat khusus. Kedua pertandingan itu dianggapnya sebagai bukti paling kuat bahwa Inter bisa tampil luar biasa ketika situasi tidak berpihak kepada mereka.
Inzaghi bahkan menegaskan bahwa malam-malam seperti itu akan ia ingat lebih lama dibandingkan piala di lemari prestasi. Pandangan itu menunjukkan bagaimana ia menilai sebuah perjalanan kepelatihan tidak hanya dari hasil akhir, tetapi juga dari cara tim menantang lawan yang lebih difavoritkan.
Musim terakhir yang berakhir pahit
Meski warisannya besar, penutupan musim terakhir Inzaghi bersama Inter berlangsung berat. Tim sempat berada di jalur untuk mengejar quadruple, sebelum akhirnya kehilangan gelar Serie A kepada Napoli, tersingkir dari Coppa Italia oleh AC Milan, dan kalah dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions.
Rentetan hasil itu memberi akhir yang pahit pada musim yang sebelumnya penuh harapan. Namun Inzaghi menolak menyederhanakannya sebagai kegagalan semata, karena menurutnya perjalanan tim juga harus dilihat dari kemampuan mereka menembus batas dan bersaing di level tertinggi.
Beban jadwal dan harga fisik yang mahal
Tekanan pada akhir musim juga datang dari padatnya jadwal pertandingan. Inzaghi mengakui bahwa ambisi meraih treble kandas karena kelelahan fisik yang sangat besar, dan ia menilai kondisi itu ikut memengaruhi performa Inter di momen-momen penentu.
Ia menyebut Inter memainkan 23 pertandingan lebih banyak dibanding Napoli. Selisih beban itu, menurutnya, menjadi harga mahal yang harus dibayar saat musim memasuki fase paling menentukan.
Warisan yang tidak sesederhana angka
Selama empat tahun di Inter, Inzaghi membawa pulang satu Scudetto, dua Coppa Italia, dan tiga Piala Super Italia. Ia juga mencapai dua final Liga Champions, pencapaian yang ia nilai sangat penting karena menandai kemampuan Inter bertahan di persaingan tertinggi Eropa.
“Inter itu punya kewajiban untuk bersaing di semua kompetisi, dan malam melawan Bayern dan Barcelona akan terus saya ingat lebih dari trofi-trofinya,” ujar Inzaghi. Ia menambahkan bahwa ia sudah memenangi banyak gelar dalam empat tahun dan tetap bahagia dengan hasil yang diraih.
Di tengah kritik yang sempat mengiringi penurunan performa tim, Inzaghi memilih berdiri di depan sorotan dan membiarkan para pemain tetap terlindungi. Ia menilai Inter sudah memberikan segalanya, sementara cerita paling berharga dari masa kepelatihannya justru lahir dari malam-malam besar yang membentuk reputasinya di Milan.





