Lulusan Luar Negeri Kini Lebih Memilih China, Saat Karier Global Semakin Ketat

Peta mobilitas lulusan luar negeri dari China sedang berubah. Jika sebelumnya gelar internasional kerap diikuti langkah menetap lebih lama di luar negeri, kini semakin banyak yang memilih kembali ke tanah air setelah melihat peluang kerja di luar negeri makin sempit.

Perubahan arah ini tidak hanya terasa pada cerita individu, tetapi juga terlihat dari data yang menunjukkan arus kepulangan berada di titik tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Di saat yang sama, China justru dinilai menawarkan pasar kerja yang makin menarik, terutama di sektor teknologi dan industri bernilai tambah tinggi.

Laporan 2025 China Returnee Employment Survey Report dari platform rekrutmen Zhaopin mencatat jumlah pencari kerja lulusan luar negeri yang baru kembali ke China naik 12% secara tahunan. Zhaopin juga menyebut proporsi mereka kini lebih dari dua kali lipat dibanding 2018, saat pelacakan pertama kali dilakukan.

Data pemerintah memperkuat tren tersebut. Kementerian Pendidikan China mencatat sekitar 495.000 lulusan luar negeri kembali ke China pada 2024, naik lebih dari 19% dibanding tahun sebelumnya.

Arus kepulangan yang terus menebal

Tren ini bukan gejala singkat. Sejak kebijakan reformasi dan keterbukaan dimulai pada 1978 hingga 2024, total 8,88 juta warga China telah menempuh pendidikan di luar negeri, dan 7,43 juta di antaranya menyelesaikan studi.

Dari jumlah itu, 6,44 juta memilih pulang ke China, menurut Xinhua. Kantor berita itu juga mencatat bahwa sejak 2012, ada 5,63 juta pelajar yang kembali ke China, setara 87% dari total lulusan yang pulang sejak akhir 1970-an.

Laju kepulangan tersebut sempat terganggu pada 2023 karena mobilitas pandemi Covid-19. Namun di luar tahun itu, jumlah lulusan luar negeri yang kembali ke China terus naik hampir setiap tahun.

Negara Barat masih mendominasi asal lulusan

Sebagian besar lulusan yang pulang berasal dari negara-negara Barat maju. Inggris menyumbang porsi terbesar dengan sekitar 34%, disusul Australia 22% dan Amerika Serikat 8%.

Zhaopin, seperti dikutip South China Morning Post, menilai pola ini menunjukkan kepercayaan diri tenaga kerja global terhadap prospek karier di China. Dengan kata lain, pulang bukan lagi semata pilihan emosional, melainkan juga keputusan yang dinilai masuk akal secara ekonomi.

Bidang yang paling menyerap tenaga kerja

Dari sisi tujuan kerja, sektor internet, pendidikan, dan konsultasi masih menjadi pilihan utama para lulusan luar negeri. Meski begitu, pertumbuhan tercepat justru terlihat di bidang teknologi informasi dan manufaktur canggih.

Permintaan besar muncul di sektor material baru, optoelektronik, robotika, kecerdasan buatan, perangkat keras pintar, hingga dirgantara. Zhaopin menilai bidang-bidang ini memiliki intensitas riset dan pengembangan tinggi, hambatan teknologi besar, serta orientasi internasional yang kuat.

Kondisi itu membuat lulusan dengan pengalaman belajar di luar negeri dianggap punya posisi yang cocok untuk masuk ke sektor-sektor tersebut. Dorongan lain datang dari kebijakan pemerintah China yang mendukung industri generasi baru.

Tekanan di luar negeri dan daya tarik di dalam negeri

Direktur 21st Century Education Research Institute, Xiong Bingqi, menilai percepatan kepulangan lulusan China dari luar negeri sudah berlangsung lama. Ia menjelaskan bahwa studi ke luar negeri kini tidak lagi eksklusif bagi kalangan elite, sehingga jumlah mahasiswa China yang mendapat pendidikan internasional ikut bertambah.

Di sisi lain, peluang kerja di luar negeri yang terbatas membuat banyak lulusan memilih kembali ke China. Xiong juga menilai membaiknya ekonomi domestik dan semakin luasnya peluang kerja ikut menjadi magnet kuat bagi mereka.

Situasi ini menunjukkan bahwa mobilitas pendidikan dan kerja lulusan China tengah bergerak ke arah baru. Di tengah persaingan global yang makin ketat, pulang ke tanah air kini dipandang banyak lulusan sebagai pilihan yang lebih realistis dan menjanjikan.

Source: www.cnbcindonesia.com

Baca Juga

Back to top button