Luka Piala Thomas Membentuk Alwi Farhan, Saat Shi Yu Qi Jadi Tumbal Ketenangannya

Kemenangan Alwi Farhan atas Shi Yu Qi di Singapore Indoor Stadium bukan sekadar hasil besar di atas kertas. Bagi tunggal putra Indonesia itu, kemenangan 21-16, 19-21, 21-14 pada perempat final Singapura Terbuka 2026 terasa seperti titik balik dari rangkaian tekanan yang ia bawa sejak Piala Thomas.

Alwi menyebut momen tersebut lahir dari pelajaran berat di Horsens, Denmark, saat Indonesia untuk pertama kalinya tersingkir di fase grup Piala Thomas. Di ajang beregu itu, ia hanya sekali menang dari tiga pertandingan, sementara dua laga lainnya berakhir dengan kekalahan.

Kekalahan itu tidak ia simpan sebagai beban semata. Alwi justru menjadikannya bahan untuk mengalahkan rasa takut dan cemas ketika kembali tampil di level tertinggi.

Pertemuan yang lama dinanti

Lawan seperti Shi Yu Qi sebenarnya bukan nama baru dalam bayangan Alwi. Namun, beberapa kesempatan untuk benar-benar berduel di lapangan selalu tertunda karena situasi turnamen yang berbeda.

Di Kejuaraan Asia di Ningbo, China, peluang itu sempat terbuka, tetapi Alwi lebih dulu kalah dari Kodai Naraoka pada babak kedua. Di Denmark Terbuka 2025, ia justru tersingkir lebih awal, sedangkan pada Perancis Terbuka 2025, Shi mundur dari turnamen sehingga pertemuan mereka kembali batal.

Karena itu, kemenangan di Singapura terasa punya bobot yang lebih besar. Shi datang dengan status juara dunia 2025 dan koleksi 15 gelar BWF World Tour, sehingga hasil ini langsung menaikkan nilai pencapaian Alwi di mata publik bulu tangkis.

Ketenangan saat gim penentuan

Duel tersebut tidak berjalan mudah bagi Alwi. Shi sempat tertinggal jauh 1-7 pada gim ketiga, lalu mengejar hingga 9-9, 11-11, dan 12-12 sebelum Alwi kembali menemukan kendali permainan.

Di momen seperti itu, Alwi menilai ketenangan menjadi pembeda. Ia mengaku pernah terlalu ingin menang dalam situasi penting dan justru membuat blunder, sehingga kali ini ia berusaha menjaga fokus setelah gim kedua lepas.

“Belajar dari pengalaman lain, ketika saya terlalu ingin menang malah membuat blunder. Jadi, ketika lepas gim kedua, saya coba lebih tenang, balikin fokusnya karena pertandingan belum selesai,” kata Alwi.

Laga itu juga terasa emosional setelah pertandingan usai. Alwi memeluk Indra Widjaja, pelatih tunggal putra pelatnas Indonesia, dengan ekspresi lega setelah melalui duel yang menguras tenaga.

Makna terbesar sejauh ini

Hasil atas Shi juga memperkuat catatan Alwi ketika menghadapi deretan pemain elite. Sebelumnya, ia pernah berhadapan dengan Kunlavut Vitidsarn, Chou Tien Chen, Jonatan Christie, Li Shi Feng, Anders Antonsen, dan Viktor Axelsen, tetapi hasilnya lebih sering berakhir dengan kekalahan.

Karena itu, kemenangan di Singapura disebut sebagai pencapaian terbesar Alwi sejauh fase tampil penuh di arena BWF World Tour sejak 2025. Hasil tersebut memberi sinyal bahwa ia mulai bisa bersaing lebih konsisten di level tertinggi.

Meski demikian, Alwi tidak punya banyak waktu untuk larut dalam euforia. Ia masih harus menjaga fokus karena pertandingan penting lain sudah menanti, termasuk perempat final melawan Kodai Naraoka.

Di sektor lain, Indonesia juga masih mengandalkan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Pasangan itu melaju ke perempat final setelah menundukkan Daniel Lundgaard/Mads Vestergaard dari Denmark dengan skor 21-13, 21-12.

Fajar menyebut Goh Sze Fei/Nur Izuddin dari Malaysia sebagai lawan berpengalaman yang tidak banyak membuat kesalahan sendiri. Ia menegaskan timnya akan mempelajari permainan lawan bersama pelatih dan video analis sebelum melanjutkan langkah di Singapura Terbuka 2026.

Dengan hasil tersebut, Alwi serta Fajar/Fikri menjadi dua wakil Indonesia yang masih bertahan di turnamen ini. Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani lebih dulu tersingkir setelah kalah dari Kang Khai Xing/Aaron Tai asal Malaysia dengan skor 19-21, 17-21.

Source: www.kompas.id
Exit mobile version