Perubahan besar di tubuh PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) kini resmi berjalan setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 menyetujui susunan baru direksi dan komisaris. Perombakan ini menempatkan Indra Yuwana sebagai Presiden Direktur, menggantikan Marlo Budiman yang mengundurkan diri dari jabatan tersebut.
Keputusan itu diambil dalam rapat yang digelar di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, pada Jumat (8/5). Bersamaan dengan itu, pemegang saham juga menetapkan Agus Arismunandar sebagai Wakil Presiden Direktur, sehingga formasi pimpinan perseroan masuk ke tahap baru dalam pengelolaan bisnis dan operasional.
Di level pengawasan, LPKR juga melakukan penyesuaian pada Dewan Komisaris. Bambang Soesatyo dan Theo L Sambuaga diangkat sebagai Komisaris Independen, sementara Ginandjar Kartasasmita tetap memimpin sebagai Presiden Komisaris sekaligus Komisaris Independen.
Susunan komisaris lainnya diisi oleh Anand Kumar, Kin Chan, George Raymond Zage III, dan Ketut Budi Wijaya. Dengan komposisi tersebut, perusahaan menempatkan struktur pengawasan yang lebih kuat untuk mendukung arah bisnis ke depan.
Perubahan di jajaran direksi ikut membentuk formasi manajemen yang lebih segar. Selain Indra Yuwana dan Agus Arismunandar, jajaran direksi LPKR juga terdiri atas Marshal Martinus Tissadharma, Surya Tatang, Dominique Dion Leswara, David Iman Santosa, dan Fendi Santoso.
RUPST yang sama juga mengesahkan laporan tahunan dan laporan keuangan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Di tengah tekanan makroekonomi dan melemahnya permintaan konsumen sepanjang 2025, LPKR tetap membukukan pendapatan Rp9,03 triliun dan EBITDA Rp1,37 triliun.
Perseroan juga mencatat laba bersih atau net profit after tax (NPAT) sebesar Rp470 miliar. Di sisi lain, underlying NPAT tumbuh 57% menjadi Rp630 miliar, yang menunjukkan penguatan profitabilitas dan eksekusi operasional yang lebih baik.
LPKR menutup tahun buku 2025 dengan posisi kas Rp1,96 triliun. Manajemen menyebut capaian itu ditopang fokus pada bisnis inti real estate dan lifestyle, efisiensi operasional, serta pengelolaan keuangan yang lebih prudent melalui pengendalian biaya dan pengurangan utang.
Dengan latar tersebut, pergantian pucuk pimpinan dinilai menjadi langkah untuk menjaga konsistensi kinerja sekaligus memperkuat kolaborasi internal. Perusahaan berharap susunan baru ini mampu membantu eksekusi bisnis di tengah dinamika pasar properti yang masih menyimpan peluang pertumbuhan besar.
Source: mediaindonesia.com




