Salah satu alasan Bitcoin tetap menarik bagi sebagian investor adalah posisinya yang masih berada jauh di bawah rekor terbarunya. Di tengah pasar saham yang justru menguat, aset kripto ini dipandang menawarkan ruang pemulihan yang lebih besar bila siklus berikutnya kembali mendukung.
Pergerakan harga Bitcoin memang tidak tenang. Sejak mencapai puncak pada Oktober 2025, harganya sempat turun 39%, namun pola semacam ini bukan hal baru karena koreksi lebih dari 50% juga pernah berulang kali terjadi sebelum aset ini kembali mencetak level tertinggi baru.
Bagi investor yang sabar, kondisi seperti itu justru dianggap penting. Bitcoin lebih sering dilihat sebagai aset jangka panjang daripada sarana spekulasi cepat, karena ayunannya sangat dipengaruhi oleh faktor global seperti ketegangan geopolitik, tekanan inflasi, suku bunga, pertumbuhan ekonomi di AS dan China, hingga reli perdagangan kecerdasan buatan yang ikut menggerakkan arus modal.
Karakter harga yang liar membuat Bitcoin tidak cocok untuk semua orang. Namun, bagi mereka yang mampu menahan volatilitas dan punya horison sekitar 10 tahun, aset ini dinilai lebih masuk akal sebagai bagian dari portofolio yang menunggu pemulihan besar.
Kelangkaan menjadi daya tarik utama
Di luar pergerakan harga, Bitcoin juga menarik karena pasokannya dibatasi keras hanya 21 juta unit. Struktur ini dinilai relevan di tengah kenaikan utang sovereign dan pelemahan nilai mata uang yang masih berlangsung.
Keterbatasan suplai itu memberi dasar narasi yang berbeda dari banyak aset lain. Saat jumlah unit tidak bisa terus ditambah tanpa batas, sebagian investor melihat Bitcoin sebagai penyimpan nilai yang tetap punya daya tarik dalam jangka panjang.
Peran Bitcoin juga tidak lagi berhenti sebagai aset yang diperdagangkan. Aset ini makin dipandang sebagai lapisan dasar bagi produk dan layanan keuangan baru, termasuk kendaraan investasi, solusi pembayaran, dan instrumen penghasil imbal hasil.
Perkembangan tersebut penting karena dukungannya tidak semata bergantung pada pergerakan harga harian. Integrasi ke keuangan tradisional memberi fondasi yang lebih struktural dan bisa membantu menopang relevansi Bitcoin dalam waktu yang lebih panjang.
Mengapa dana $1.000 sering diarahkan ke sini
Dengan latar seperti itu, dana awal $1.000 dipandang punya peluang tumbuh lebih besar jika ditempatkan pada aset yang masih berada di bawah puncak. Logikanya sederhana: ruang naik akan terasa lebih besar bila harga belum kembali ke rekor sebelumnya.
Pandangan ini juga muncul karena riwayat Bitcoin menunjukkan kemampuan pulih setelah koreksi tajam. Walau penurunan besar sering terjadi, aset ini berulang kali berhasil bangkit dan menembus level tertinggi baru.
Di saat yang sama, pasar yang lebih luas tidak sedang lesu. S&P 500 naik 10% pada 2026 per 27 Mei dan menyentuh rekor tertinggi, sehingga sebagian investor justru menilai pelemahan kripto sebagai kesempatan untuk masuk saat valuasi Bitcoin masih tertinggal.
Meski demikian, pilihan investasi tetap bergantung pada profil risiko masing-masing. Bitcoin menawarkan potensi yang besar, tetapi juga volatilitas yang tinggi, sehingga pendekatannya lebih cocok untuk investor yang siap menunggu dan tidak mudah terguncang oleh koreksi jangka pendek.
Bagi investor yang membandingkan dengan pilihan lain di luar kripto, tim analis Stock Advisor dari Motley Fool memilih 10 saham terbaik untuk dibeli sekarang, dan Bitcoin tidak termasuk di dalamnya. Mereka menyoroti rekam jejak saham seperti Netflix dan Nvidia, termasuk contoh bahwa investasi $1.000 saat rekomendasi Netflix pada 17 Desember 2004 disebut bisa menjadi $463.900, sementara $1.000 pada Nvidia saat rekomendasi 15 April 2005 disebut menjadi $1.294.401.
Stock Advisor juga mencatat total imbal hasil rata-rata 978%, jauh di atas 211% untuk S&P 500. Namun bagi investor yang tetap mencari eksposur ke kripto, Bitcoin masih menempati posisi paling kuat ketika harganya belum kembali ke puncak terbaru.