Fernando Llorente menilai Spanyol memang layak berada di daftar kandidat kuat juara Piala Dunia 2026, tetapi status itu justru harus membuat mereka lebih waspada. Menurut mantan penyerang tim nasional Spanyol tersebut, turnamen besar tidak pernah memberi ruang bagi tim mana pun untuk merasa aman, apalagi ketika lawan datang tanpa beban.
Peringatan itu muncul setelah Spanyol kembali mendapat sorotan besar berkat performa impresif yang berujung pada gelar Euro 2024. Pencapaian itu membuat banyak pihak mulai menarik perbandingan dengan generasi emas Spanyol yang sebelumnya menatap Piala Dunia dengan reputasi besar.
Jangan terjebak rasa paling kuat
Llorente melihat skuad asuhan Luis de la Fuente punya kualitas untuk bersaing di jalur teratas. Namun, ia menegaskan bahwa prediksi di atas kertas tidak akan berarti jika para pemain menganggap status favorit sebagai jaminan.
Ia mengingatkan bahwa tim-tim seperti Portugal, Jerman, dan Prancis tetap memiliki kualitas untuk mengubah arah pertandingan dalam sekejap. Dalam pandangannya, kekuatan Spanyol memang nyata, tetapi tekanan di ajang besar selalu menuntut konsentrasi penuh dari awal sampai akhir.
“Saya menilai Spanyol favorit juara, mereka bermain dengan impresif. Saya mengharapkan mereka yang terbaik dan berpesan agar mereka jangan merasa mereka lebih baik daripada tim lain,” kata Llorente, yang pernah memperkuat Athletic Bilbao dan Juventus.
Pelajaran dari Afrika Selatan
Llorente juga membawa kembali memori Spanyol di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan sebagai pengingat yang relevan. Saat itu, tim bertabur bintang justru tumbang pada laga pembuka, dan bagi Llorente, hasil tersebut menunjukkan bahwa nama besar tidak otomatis melindungi tim dari kejutan.
Ia menilai pengalaman itu masih sangat berguna untuk generasi sekarang. Dalam turnamen seperti Piala Dunia, lawan bisa tampil lebih agresif dan memanfaatkan kesalahan kecil yang kemudian berdampak besar.
“Di Afrika Selatan dulu, mereka membungkam kami di laga pertama. Tidak peduli seberapa hebat Anda menganggap diri Anda, pada akhirnya, ada banyak kesetaraan,” ujarnya.
Persaingan yang makin rapat
Selain menyoroti Spanyol, Llorente juga menilai peta persaingan antartim unggulan kini semakin ketat. Ia menyebut Argentina, Prancis, Portugal, dan Belanda sebagai contoh negara yang bisa menyulitkan siapa pun ketika pertandingan memasuki fase penentuan.
Menurutnya, format satu pertandingan selalu membuka peluang kejutan. Satu kesalahan kecil, satu momen kehilangan fokus, atau satu kelengahan di waktu yang tidak tepat bisa langsung mengubah nasib tim favorit.
“Tim apapun bisa memberi Anda masalah. Argentina, juara bertahan, Prancis yang punya sebuah tim luar biasa, Portugal yang memiliki tim yang menakjubkan, Belanda… Ada beberapa tim yang luar biasa bagus. Apapun bisa terjadi dalam satu pertandingan,” tutur Llorente.
Jalan juara selalu penuh ujian
Llorente juga menegaskan bahwa perjalanan menuju gelar tidak pernah mudah, bahkan bagi tim yang akhirnya keluar sebagai juara. Ia menyinggung rangkaian laga berat yang pernah dijalani Spanyol saat meraih sukses, dan menurutnya hal itu membuktikan bahwa tim terbaik pun harus siap menghadapi tekanan besar.
Ia menyebut Spanyol sempat berhadapan dengan Portugal di babak 16 besar, lalu Paraguay di perempat final, sebelum bertemu Jerman di semifinal. Kemenangan 1-0 atas Jerman, kata Llorente, lahir dari pertandingan yang ketat dan menuntut konsentrasi penuh sepanjang laga.
Pandangan itu membuat peringatan Llorente terasa sederhana tetapi penting: Spanyol boleh datang ke Piala Dunia 2026 dengan modal kuat, namun mereka tetap harus menjaga disiplin, menghormati semua lawan, dan menghindari rasa percaya diri berlebihan yang justru bisa menjadi celah di turnamen sebesar ini.