Inovasi laptop saat ini tidak selalu soal seberapa tinggi performanya, tetapi juga seberapa jauh bentuk dan cara pakainya berubah. Di antara banyak model yang beredar, ada lima perangkat yang menonjol karena mencoba memecahkan masalah berbeda lewat desain yang tidak biasa.
Ada yang mengandalkan layar ganda, ada yang mengejar pengalaman visual 3D tanpa kacamata, ada yang memakai panel lipat, ada yang dibuat modular seperti PC rakitan, dan ada pula yang membawa layar rollable. Kelimanya sama-sama menunjukkan bahwa laptop kini juga menjadi ruang eksperimen desain yang serius.
Pendekatan paling ekstrem datang dari layar yang tidak lagi statis
Lenovo ThinkBook Plus Gen 6 Rollable adalah contoh paling jelas dari gagasan itu. Laptop ini membawa layar 14 inci yang dapat diperluas secara mekanis menjadi hampir 17 inci hanya dengan menekan satu tombol.
Saat tidak digunakan, bagian layar tambahan disimpan di bawah keyboard agar bodinya tetap ringkas. Konsep ini memberi kompromi antara portabilitas dan area kerja yang lebih lega, meski teknologinya masih sangat baru dan harganya sangat mahal.
Di jalur yang berbeda, Lenovo juga lebih dulu memperkenalkan ThinkPad X1 Fold sebagai pelopor laptop layar lipat. Fleksibilitasnya datang dari panel yang bisa dilipat dan keyboard magnetik, sehingga perangkat ini lebih mudah dipakai dalam berbagai situasi.
Layarnya sudah memakai panel OLED yang memberi tampilan lebih nyaman di mata. Namun, harga perangkat ini sangat mahal dan performanya belum sekencang yang diharapkan.
Pengalaman visual jadi alasan utama bagi sebagian model
Acer ConceptD 7 SpatialLabs Edition tidak mengejar bentuk yang bisa dilipat atau memanjang. Daya tarik utamanya ada pada layar yang menampilkan efek 3D tanpa kacamata, sehingga objek bisa terlihat seperti keluar dari layar.
Pendekatan itu berlaku saat dipakai untuk aplikasi biasa maupun game. Pengguna juga bisa membuat konten 3D sendiri melalui aplikasi khusus, tetapi fitur ini masih punya batasan kompatibilitas dan stabilitas, termasuk pada beberapa game yang seharusnya sudah mendukung teknologi tersebut.
Sementara itu, ASUS Zenbook Duo memilih jalur layar ganda yang lebih fokus ke fleksibilitas kerja. Laptop ini membawa dua layar OLED yang sama-sama mendukung touchscreen dan bisa dilepas dari keyboard.
Kedua panelnya dapat diatur dalam berbagai posisi, dan salah satunya bahkan bisa difungsikan sebagai keyboard. ASUS juga menyiapkan aplikasi khusus agar penggunaan kedua layar tetap mulus di banyak mode, walau desainnya dinilai kurang praktis karena posisi layar tidak sepenuhnya sejajar.
Modularitas menjadi jawaban untuk masalah upgrade laptop
Berbeda dari model lain yang menonjol lewat bentuk layar, Framework Laptop 16 menawarkan pendekatan seperti PC rakitan. Pengguna bisa mengganti komponen seperti GPU, keyboard, dan port sesuai kebutuhan, bahkan merakitnya sendiri.
Keunggulan utamanya terletak pada sifat modular yang memberi ruang pengembangan di masa depan. Laptop ini juga cukup mumpuni untuk bermain game, meski belum menjadi yang paling kencang atau paling dingin di kelasnya.
Jika dilihat dari keseluruhan daftarnya, kelima laptop ini menunjukkan bahwa pasar komputasi portabel tidak lagi bergerak hanya ke arah peningkatan kecepatan. Banyak pabrikan mulai mencari pembeda lewat cara baru memakai layar, mengatur komponen, dan membangun fleksibilitas penggunaan.
Hasilnya, laptop tidak lagi sekadar alat kerja standar, tetapi juga sarana untuk menguji ulang batas desain perangkat. Dari layar yang bisa dilipat, diperluas, hingga dibuat ganda, masing-masing model ini menawarkan jawaban yang berbeda untuk kebutuhan yang juga berbeda.
Source: www.idntimes.com