Di tengah persaingan perangkat wearable, Xpanceo justru menaruh taruhan besar pada lensa kontak pintar. Bagi perusahaan ini, lensa bukan sekadar aksesori komputasi, melainkan pintu menuju masa depan augmented reality yang benar-benar menyatu dengan aktivitas harian.
Arah itu mereka kaitkan dengan gagasan “momen iPhone”, yaitu titik ketika fungsi penting tidak lagi bergantung penuh pada ponsel karena sudah pindah ke perangkat yang menempel langsung di mata. Gambaran tersebut masih jauh, tetapi Xpanceo menilai jalurnya masuk akal karena adopsi awal bisa dimulai dari pengguna yang sudah terbiasa memakai lensa kontak.
Mengapa lensa, bukan kacamata
Roman Axelrod, salah satu pendiri Xpanceo, melihat lensa kontak pintar sebagai bentuk evolusi yang paling alami untuk komputasi personal. Ia membandingkan perjalanan teknologi dari komputer besar menuju smartphone yang jauh lebih ringkas dan mudah dibawa.
Menurut Axelrod, perubahan besar biasanya tidak dimulai dari pasar massal. Justru, teknologi baru lebih dulu bergerak lewat kelompok pengguna awal yang jumlahnya terbatas, selama manfaatnya jelas dan pemakaiannya tidak terasa rumit.
Valentyn Volkov, pendiri Xpanceo lainnya, menambahkan bahwa basis pengguna awal sudah ada. Ia menyebut ada sekitar 45 juta pemakai lensa kontak di Amerika Serikat, sehingga perangkat seperti ini bisa menemukan pasar mula-mula tanpa harus membangun kebiasaan dari nol.
Targetnya bukan sekadar layar di depan mata
Pendekatan Xpanceo juga berbeda dari smart glasses yang menampilkan informasi di depan mata. Perusahaan ini memilih jalur yang lebih langsung, yakni menempatkan fungsi komputasi sedekat mungkin dengan mata pengguna.
Volkov menggambarkan skenario “momen iPhone” untuk wearable tech sebagai kondisi ketika seseorang sadar ponselnya tertinggal, tetapi tetap tenang karena lensa pintar sudah cukup untuk kebutuhan dasar. Dengan begitu, nilai perangkat tidak hanya terletak pada tampilannya, tetapi pada perubahan perilaku pengguna.
Namun, jalur ini bukan tanpa tantangan. Mata manusia tidak dirancang untuk fokus pada objek yang sangat dekat, sehingga Xpanceo harus memakai pendekatan teknis yang lebih rumit dibanding perangkat wearable lain.
Cara kerja yang dirancang agar tetap nyaman
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Xpanceo memakai sistem proyeksi elektro-optik agar cahaya dari micro display menjadi paralel sebelum masuk ke mata. Di dalam lensa, teknologi difraksi dipakai untuk membentuk gambar yang tajam, sementara lensa yang bergerak mengikuti bola mata membantu tampilan tetap terlihat dari berbagai arah pandang.
Desain itu juga mendukung efisiensi daya. Karena layar berada sangat dekat dengan mata, tingkat kecerahan yang dibutuhkan tidak perlu setinggi smart glasses, sehingga konsumsi energi bisa lebih rendah.
Volkov juga menjelaskan bahwa lensa ini memiliki baterai mini, tetapi Xpanceo tidak memindahkan seluruh proses komputasi ke dalam lensa. Sebagian besar pemrosesan data dan suplai daya tetap diserahkan ke perangkat pendamping yang berada dekat dengan pengguna.
Perangkat pendamping masih jadi bagian penting
Perangkat pendamping itu saat ini digambarkan mirip earpiece Bluetooth lawas, meski bentuk akhirnya belum dipastikan. Volkov menyebut smartphone atau earbud nirkabel juga bisa mengambil peran serupa melalui koneksi Bluetooth.
Xpanceo turut menggunakan antena elektromagnetik mikro untuk membantu pengisian daya dan komunikasi tanpa mengganggu area pupil. Sistem ini dipadukan dengan micro batteries dan solid-state batteries agar lensa tetap ringan serta nyaman digunakan.
Jalur pasar masih panjang, tetapi bertahap
Axelrod dan Volkov memperkirakan lensa kontak pintar untuk konsumen masih memerlukan sekitar sepuluh tahun atau lebih sebelum siap masuk pasar massal. Meski begitu, mereka melihat jalur yang lebih realistis justru ada di sektor medis, industri, atau enterprise.
Axelrod mengatakan perusahaan akan memulai dari B2B sebelum bergerak ke B2C menjelang akhir dekade, sambil melewati uji klinis dan proses persetujuan medis. Ia juga mengingatkan bahwa banyak perusahaan dengan pendanaan besar gagal di jalur serupa, sehingga strategi bertahap dinilai lebih aman.
Untuk tahap awal, Xpanceo menargetkan demonstrasi working prototype pada ajang awal musim semi berikutnya. Prototipe itu disebut akan dipakai langsung oleh Axelrod dan Volkov, setelah perusahaan absen dari Mobile World Congress 2026 karena faktor global di luar kendalinya.
Ada fungsi kesehatan di luar AR
Pada fase awal, lensa pintar Xpanceo tidak hanya diarahkan untuk menampilkan konten augmented reality. Perusahaan ini juga membidik fungsi pemantauan kesehatan sebagai bagian penting dari manfaat perangkat.
Di antaranya adalah pemantauan glukosa 24/7, deteksi awal glaucoma, serta pengamatan kadar obat dengan presisi yang lebih tinggi dibanding kemampuan yang tersedia saat ini. Dengan pijakan itu, Xpanceo berharap adopsi bisa tumbuh bertahap dari kelompok pengguna yang sudah akrab dengan bentuk lensa kontak.
Jika pendekatan ini berhasil, lensa kontak pintar tidak hanya akan menjadi perangkat AR, tetapi juga platform komputasi yang sangat personal. Perangkat itu bisa menyatu dengan rutinitas harian sekaligus membawa fungsi kesehatan lebih dekat ke mata penggunanya.