Pengujian Bobibos kini menjadi sorotan karena pemerintah ingin memastikan klaim bahan bakar dari jerami yang disebut memiliki RON 98 benar-benar dapat dibuktikan secara teknis. Tidak hanya soal angka oktan, proses ini juga akan menentukan apakah produk besutan PT Inti Sinergi Formula itu masuk kategori bahan bakar nabati atau bahan bakar minyak.
Langkah pemanggilan Bobibos dilakukan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai tindak lanjut dari pertemuan awal pada 14 April. Pemerintah meminta seluruh kesiapan teknis disiapkan lebih dulu agar pemeriksaan di Lemigas dapat berjalan jelas, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Fokus utama: status produk dan dasar pengujian
Salah satu titik paling penting dalam proses ini ada pada penentuan klasifikasi Bobibos. Jika produk ini ditetapkan sebagai bahan bakar nabati, maka parameter uji akan berbeda dibandingkan bila masuk kelompok bahan bakar minyak.
Kepastian status tersebut akan menjadi dasar bagi Lemigas dalam menyusun metode pengujian. Dari sana, pemerintah dapat melihat apakah Bobibos mengikuti karakter bahan bakar yang sudah dikenal atau justru memerlukan klasifikasi baru.
Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Noor Arifin Muhammad menjelaskan bahwa uji teknis akan ditangani oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi atau Lemigas. Pemeriksaan ini diposisikan sebagai tahap awal verifikasi sebelum Bobibos dinilai layak dipasarkan lebih luas.
Bukan hanya angka RON yang diperiksa
Founder Bobibos, M Iklas Thamrin, menegaskan bahwa pengujian yang dilakukan tidak berhenti pada penentuan oktan. Lemigas juga akan melihat sifat fisika dan kimia, stabilitas, kompatibilitas dengan mesin, kemudahan mengalir, kualitas penyalaan, serta tingkat korosivitas.
Tahap berikutnya akan menilai performa yang lebih dekat dengan pemakaian nyata. Aspek yang diperiksa mencakup emisi gas buang, daya tahan mesin, pembentukan deposit hasil pembakaran, hingga kondisi komponen mesin.
Dengan cakupan yang cukup luas, hasil uji diharapkan tidak hanya menunjukkan klaim teknis di atas kertas. Pemerintah juga ingin melihat sejauh mana bahan bakar ini aman dan cocok dipakai dalam konteks kendaraan yang digunakan sehari-hari.
Pengambilan sampel dibuat representatif
Lemigas tidak akan mengandalkan satu titik pemeriksaan saja. Sampel Bobibos akan diambil dari tangki penyimpanan di beberapa titik agar hasil yang diperoleh lebih representatif dan menggambarkan kualitas produk secara menyeluruh.
Pendekatan ini penting untuk melihat konsistensi produk di dalam sistem penyimpanan. Jika sampel dari beberapa titik menunjukkan hasil yang serupa, maka data pengujian akan memberi gambaran yang lebih kuat tentang mutu Bobibos.
Langkah tersebut juga membantu memastikan hasil akhir tidak bergantung pada kondisi sampel tunggal. Dengan begitu, pemeriksaan laboratorium dapat memberi dasar yang lebih solid untuk penilaian berikutnya.
Menuju uji jalan setelah laboratorium selesai
Setelah uji laboratorium dan test bench rampung, Bobibos akan masuk ke tahap road test menggunakan kendaraan. Tahapan ini dibutuhkan untuk melihat kinerja bahan bakar dalam kondisi penggunaan langsung, bukan hanya dalam pengujian statis.
Road test juga menjadi bagian penting dalam proses sosialisasi dan komersialisasi produk. Dari situ, publik akan mendapat gambaran yang lebih utuh tentang kemampuan Bobibos saat dipakai di lapangan.
Bobibos pertama kali diluncurkan pada 2 November 2025 dan langsung menarik perhatian karena memakai bahan dasar jerami. Di tengah kebutuhan mencari sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berpotensi lebih murah bagi masyarakat, hasil uji Lemigas akan menjadi penentu utama untuk memverifikasi klaim RON 98 serta menilai kesiapan produk ini untuk masuk ke tahap pemanfaatan yang lebih luas.
Source: oto.detik.com