Lele Pelapis Jadi Bantalan Ekonomi Warga, Panen Perdana Hasil Kolaborasi PT DIB Harita

Kolaborasi warga Desa Pelapis dengan PT Dharma Inti Bersama atau DIB Harita Group mulai menunjukkan hasil nyata lewat panen perdana ikan lele dari program budidaya air tawar. Dari kolam terpal yang dikelola bersama, hasil panen mencapai sekitar 700 kilogram dan memberi sinyal bahwa usaha tambahan bagi warga pesisir ini bisa berjalan berkelanjutan.

Bagi masyarakat Pelapis di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, budidaya lele bukan sekadar kegiatan sampingan. Program ini disiapkan sebagai penopang ekonomi saat cuaca laut tidak bersahabat, sehingga warga tetap memiliki sumber aktivitas dan penghasilan di luar pekerjaan utama sebagai nelayan tangkap.

Kolam terpal yang mulai memberi hasil

Panen perdana itu berlangsung dari sekitar empat kolam terpal yang tersebar di tiga dusun. Seluruh kolam dikelola kelompok budidaya ikan air tawar dengan pendampingan PT DIB, pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang, dalam skema yang masuk program tanggung jawab sosial perusahaan di bidang peningkatan ekonomi.

Suasana panen berlangsung ramai meski hujan ringan sempat turun. Anak-anak tampak menyaksikan dari tepi kolam, sementara para ibu mengikuti proses pengangkatan ikan lele satu per satu.

Pendampingan rutin jadi penentu keberhasilan

Ketua Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar, Suaka, menilai pendampingan dari perusahaan sangat membantu selama masa pemeliharaan. Petugas lapangan disebut rutin memantau kualitas air dan mengatur pemberian pakan agar kolam tetap terjaga.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada perusahaan, atas masukan dan program-program untuk masyarakat Pelapis,” ujar Suaka. Ia juga melihat panen perdana ini baru menjadi langkah awal, terutama agar budidaya di RT 3 bisa menjadi contoh bagi wilayah lain di desa tersebut.

Menurut Suaka, keberhasilan panen belum berarti pekerjaan selesai karena pengelolaan yang konsisten tetap dibutuhkan. Dengan pola budidaya yang lebih tertib, ikan air tawar diharapkan bisa terus berkembang dan memberi hasil yang lebih stabil bagi warga.

Saat cuaca laut tidak menentu, lele jadi pilihan alternatif

Di wilayah pesisir seperti Pelapis, penghasilan dari laut sangat bergantung pada kondisi cuaca dan musim. Karena itu, keberadaan budidaya lele dipandang penting sebagai bantalan ekonomi ketika warga tidak bisa melaut secara optimal.

Camat Kepulauan Karimata, Mikrad Abdi, melihat program ini sebagai tanda mulai berubahnya pola pikir nelayan tangkap. Ia menilai peralihan ke usaha budidaya tidak mungkin terjadi secara instan, tetapi pendekatan bertahap antara warga dan perusahaan sudah mulai membuahkan hasil.

“Alhamdulillah, hasil budi daya ikan tawar ini bagus,” kata Mikrad. Ia menambahkan bahwa lele berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan saat cuaca laut tidak bersahabat dan kebutuhan ekonomi rumah tangga tetap harus berjalan.

Pemerintah daerah melihat peluang yang lebih luas

Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Hendra, turut hadir menyaksikan panen perdana tersebut. Ia menilai kerja sama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menjadi kunci untuk membangun ekonomi pesisir secara berkelanjutan.

Hendra menyampaikan bahwa dinas siap menurunkan tenaga pendamping dan membantu penyediaan bibit ikan. Ia juga mengapresiasi konsistensi PT DIB dan tim CSR dalam membina warga Pelapis untuk mengembangkan budidaya ikan air tawar.

Menurut Hendra, Pelapis memiliki keunggulan karena ada kepastian pasar. PT DIB Harita menyatakan siap menyerap hasil panen lele warga, sehingga petani ikan tidak dibebani kekhawatiran mengenai penjualan hasil budidaya.

Pasar, pengolahan, dan peluang baru bagi warga

Government Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, menyebut program ini memang dirancang sebagai bantalan ekonomi, terutama saat musim paceklik. Ia menegaskan perusahaan akan membantu sepenuhnya dalam penyerapan hasil panen.

“Tidak perlu khawatir, ikan lele ini akan dikemanakan,” ujarnya. Selain penyerapan hasil, perusahaan juga menyiapkan gagasan pengolahan panen melalui marinasi agar daya simpan ikan lebih panjang.

Gagasan itu muncul mengikuti masukan tenaga ahli dari IPB, mengingat fasilitas penyimpanan ikan segar di pulau masih terbatas. Ke depan, perempuan di Pelapis juga direncanakan ikut dalam proses marinasi dan pengemasan vakum, sehingga manfaat program tidak hanya berhenti pada tahap panen.

Dengan demikian, budidaya lele di Pelapis tidak hanya menghadirkan hasil sekitar 700 kilogram pada panen perdana, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru di tingkat rumah tangga. Dalam 40 hingga 60 hari masa pemeliharaan yang dijalani dengan pengawasan berkelanjutan, warga berhasil menjaga kolam terpal sederhana itu tetap produktif di tengah tantangan kualitas air dan risiko penyakit ikan.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button