Ledakan AI Ubah Peta Data Center Indonesia, Investor Dunia Makin Agresif Masuk

Bukan hanya soal menambah rak server, industri pusat data Indonesia kini sedang berhadapan dengan perubahan besar pada cara infrastruktur digital dibangun. Dorongan terbesar datang dari kebutuhan komputasi AI yang jauh lebih padat daya, membuat Indonesia makin menarik di mata investor global.

Kapabilitas yang sudah beroperasi di dalam negeri sekarang mencapai 637 Megawatt dan ditargetkan naik menjadi 1,6 Gigawatt pada akhir tahun. Kenaikan ini menegaskan bahwa pasar pusat data nasional tidak lagi bergerak di level pertumbuhan biasa, melainkan masuk ke fase ekspansi yang lebih agresif.

Pasar besar jadi magnet utama

Indonesia punya modal yang sulit diabaikan oleh investor infrastruktur digital. Jumlah penduduknya mencapai 286 juta jiwa, sementara lebih dari 80 persen atau sekitar 230 juta orang sudah aktif menggunakan internet.

Di sisi lain, ekonomi digital nasional terus membesar. Gross Merchandise Value internet Indonesia tercatat 135 miliar dolar pada tahun lalu dan diperkirakan melonjak menjadi 350 miliar dolar pada 2030.

Kombinasi pasar besar, pengguna internet yang masif, dan pertumbuhan transaksi digital itu membuat Indonesia dipandang sebagai lokasi jangka panjang yang menarik di Asia Tenggara. Stabilitas geopolitik kawasan yang relatif aman juga ikut menambah daya tariknya.

Salah satu tanda minat itu terlihat dari DAMAC Digital asal Dubai. Calon anggota IDPRO tersebut disebut menaikkan komitmen investasinya dari 100 MW menjadi 1 GW.

AI mengubah kebutuhan infrastruktur

Lonjakan minat terhadap pusat data tidak hanya datang dari pertumbuhan layanan digital umum. Kebutuhan komputasi AI kini ikut mengubah spesifikasi teknis yang harus disiapkan pengelola data center.

Pada periode 2012–2017, satu rak server rata-rata hanya membutuhkan daya 3 kW. Sekarang, server AI modern dengan GPU padat seperti NVIDIA GB200 bisa memerlukan hingga 120 kW per rak.

Bahkan, server generasi terbaru yang disebut akan keluar pada kuartal ketiga tahun ini diprediksi membutuhkan daya sampai 600 kW per rak. Beban seperti ini memunculkan panas ekstrem dan membuat pendingin udara konvensional tidak lagi memadai.

Karena itu, industri global mulai bergeser ke pendingin cair atau liquid cooling. Ariffa Hasanah, System and Solution Architect Engineer dari Schneider Electric Indonesia, menyebut perusahaannya bekerja sama dengan NVIDIA untuk merancang arsitektur fisik data center modern.

Ellya Cen, Business VP Data Center Schneider Electric Indonesia, menjelaskan produk terbaru mereka mampu mengalirkan cairan pendingin langsung ke chipset. Kapasitas pendinginan unit tunggalnya mencapai 2,3 Megawatt.

Perjalanan industri yang melesat cepat

Ketua Umum IDPRO Hendra Suryakusuma menggambarkan perubahan ini sebagai lompatan besar dibanding awal pembentukan asosiasi pada 2016. Saat itu, kapasitas yang dikelola baru sekitar 32 MW dengan hanya lima anggota.

Kini, IDPRO memiliki 21 penyedia data center aktif yang melayani kebutuhan dari skala kecil hingga perusahaan besar. Di antara pelanggan mereka ada operator hyperscaler seperti Google, Amazon, Alibaba, dan Tencent.

Perubahan itu menunjukkan posisi Indonesia di peta pusat data kawasan ikut bergeser. Permintaan tidak lagi bertumpu pada layanan digital biasa, melainkan juga pada komputasi AI yang jauh lebih berat.

Pekerjaan rumah yang belum selesai

Meski prospeknya besar, pelaku usaha masih menghadapi hambatan yang menahan laju ekspansi. IDPRO menilai proses bisnis di Indonesia belum secepat negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

Pelaku usaha di Indonesia harus melewati alur birokrasi yang melibatkan minimal sembilan institusi berbeda. Untuk pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung atau PBG di Jakarta, prosesnya bahkan bisa memakan waktu 7 hingga 9 bulan karena detail desain teknis yang kompleks.

Dari sisi fiskal, tantangan lain juga masih ada. Hingga kini belum ada insentif untuk mendatangkan server AI, sehingga beban pajak dan bea masuk bisa mencapai 23 persen.

Kondisi itu membuat Indonesia kalah kompetitif dibanding Malaysia yang memiliki lembaga satu pintu seperti MDEC, atau Thailand melalui OSOS yang menawarkan pembebasan pajak dan kemudahan investasi.

Talenta, energi, dan air ikut jadi sorotan

Pertumbuhan cepat pusat data juga belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan tenaga ahli lokal. IDPRO menyebut pasar sedang mengalami talent war, dengan praktik saling membajak pekerja bersertifikat antarpelaku usaha.

Untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga ahli dari luar negeri, sejumlah perusahaan lokal mulai menggandeng universitas seperti UI dan ITB. Kolaborasi itu diarahkan untuk menyusun kurikulum khusus data center di jurusan Teknik Elektro dan Teknik Mesin.

Kebutuhan energi dan air juga menjadi perhatian besar. Liquid cooling membutuhkan pemakaian air bersih dalam jumlah besar, sehingga pengelolaannya harus dilakukan hati-hati agar tidak memberi tekanan berlebihan pada lingkungan sekitar.

IDPRO mendorong PLN mempercepat bauran energi terbarukan untuk mendukung operasional yang lebih berkelanjutan. PLN sendiri telah berkomitmen bahwa 76 persen pasokan energi baru dalam lima tahun ke depan akan berasal dari green supply.

Source: www.medcom.id

Baca Juga

Back to top button