Lebih Dari 20 iPhone 15 Pro Max Dipakai Di 28 Years Later, Bukti Ponsel Kini Serius Di Film Besar

Pemakaian iPhone dalam produksi film besar kembali mendapat sorotan lewat 28 Years Later, yang disebut memanfaatkan lebih dari 20 unit iPhone 15 Pro Max. Langkah ini menunjukkan bahwa perangkat yang biasa ada di genggaman harian kini bisa masuk ke area kerja yang menuntut standar visual tinggi.

Pilihan tersebut juga memperlihatkan perubahan cara kerja di industri film. Kamera mahal tetap punya tempat, tetapi kebutuhan cerita dan fleksibilitas di lokasi syuting membuat ponsel pintar semakin relevan sebagai alat pengambilan gambar.

Kelebihan yang dicari kru di lokasi syuting

Pada 28 Years Later, penggunaan banyak iPhone 15 Pro Max tidak lepas dari kemampuan kameranya. Perangkat ini mendukung perekaman format log dan ProRes, dua fitur yang memberi ruang lebih luas saat proses color grading di pascaproduksi.

Bentuk bodinya yang ringkas juga menjadi nilai tambah. Kru bisa lebih leluasa mengejar sudut pandang yang ekstrem dan terasa lebih dekat dengan subjek, terutama untuk adegan horor yang bergerak cepat.

Bukan langkah pertama di dunia film

Penggunaan iPhone untuk film layar lebar sebenarnya bukan hal baru. Tangerine lebih dulu menarik perhatian karena direkam sepenuhnya dengan tiga unit iPhone 5s.

Film drama-komedi itu kemudian mendapat sambutan positif di Festival Film Sundance. Keberhasilan tersebut membuat banyak sineas independen melihat bahwa kreativitas visual tidak selalu bergantung pada perangkat produksi yang mahal.

Sutradara besar ikut memanfaatkan smartphone

Steven Soderbergh juga pernah memakai iPhone untuk dua proyeknya. Ia merekam thriller psikologis Unsane dengan iPhone 7 Plus, lalu kembali memakai smartphone Apple saat membuat High Flying Bird.

Menurut penjelasan yang beredar, proses syuting menjadi jauh lebih cepat karena kru tidak perlu memasang rig kamera besar dan berat. Pada High Flying Bird, tim juga memakai aplikasi pihak ketiga seperti FiLMiC Pro agar hasil gambar terlihat lebih sinematik dan profesional.

Tidak terbatas pada film fiksi

Pemakaian iPhone juga masuk ke ranah dokumenter. Searching for Sugar Man, yang meraih Oscar, memakai iPhone untuk mengambil beberapa footage tambahan selama produksi.

Langkah itu dilakukan ketika kru kehabisan anggaran untuk membeli roll film 8mm. iPhone lalu menjadi solusi agar proses kreatif tetap berjalan tanpa terhenti.

Kombinasi berbagai contoh tersebut menegaskan satu hal yang makin diterima industri: perangkat rekam tidak harus mahal untuk menghasilkan karya yang diperhatikan luas. Dari horor hingga dokumenter pemenang Oscar, iPhone terus menunjukkan bahwa ide, eksekusi, dan pemanfaatan teknologi tetap menjadi penentu utama.

Exit mobile version