Lebih Dari 1.000 Aduan Soceng Masuk Ke Taspen, Pensiunan Masih Jadi Incaran Utama

Ancaman penipuan digital terhadap pensiunan tidak lagi datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Pesan yang tampak resmi kini bisa berubah menjadi jalan masuk untuk mencuri data pribadi, mengambil alih akun, hingga menguras dana korban.

PT Taspen mencatat lebih dari 1.000 aduan dari peserta yang menjadi korban soceng. Kerugian yang dilaporkan pun sangat beragam, mulai dari Rp10.000 hingga Rp500 juta.

Modus makin rapi dan sulit dibedakan

Pelaku memanfaatkan jalur komunikasi yang biasa dipakai korban agar terlihat meyakinkan. Bentuk serangannya beragam, mulai dari file APK palsu, tautan phishing lewat email atau SMS, hingga situs web palsu yang dirancang menyerupai layanan asli.

Undangan pernikahan digital dan surat tilang juga disebut menjadi kedok yang dipakai untuk memancing korban membuka file atau mengklik tautan. Begitu akses terbuka, pelaku dapat masuk lebih jauh ke perangkat atau akun korban.

Pola ini membuat soceng tidak selalu dimulai dari ancaman besar. Dalam banyak kasus, pelaku justru memanfaatkan celah kecil terlebih dahulu sebelum bergerak untuk mengambil data penting dan rekening korban.

Kerugian kecil sampai besar sama-sama terjadi

Data pengaduan yang masuk ke Taspen menunjukkan bahwa sasaran kejahatan digital ini tidak terbatas pada nilai kerugian tertentu. Ada korban yang kehilangan Rp10.000, tetapi ada juga yang terdampak hingga Rp500 juta.

Perbedaan nominal itu menegaskan bahwa serangan dapat menyusup dari hal sederhana. Setelah celah awal ditemukan, pelaku bisa melangkah lebih jauh dan memperluas dampaknya ke akses keuangan maupun informasi pribadi.

Situasi ini memperlihatkan mengapa pensiunan tetap menjadi target yang menarik bagi pelaku. Mereka memanfaatkan rasa percaya korban pada pesan yang terlihat resmi dan kebiasaan menerima informasi melalui saluran digital.

Koordinasi dengan aparat terus diperkuat

Meningkatnya jumlah aduan membuat Taspen memperkuat langkah penanganan bersama aparat penegak hukum. Perusahaan bekerja sama dengan Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri untuk menelusuri pelaku serta jaringan yang terlibat.

Corporate Secretary Taspen, Henra, menyebut sejumlah pelaku sudah ditangkap. Mereka berasal dari kalangan ibu rumah tangga dan mahasiswa, namun penyelidikan lanjutan mengarah pada jaringan yang lebih besar.

Aliran dana dari kasus tersebut diketahui menuju Kamboja. Sebagian uang hasil kejahatan juga sudah diubah ke aset kripto, sehingga proses penelusuran menjadi jauh lebih sulit.

Henra mengatakan, “Ketika sudah dikonversi ke kripto, itu sudah sulit dikejar,” di Jakarta, dikutip Jumat (8/5/2026). Kondisi itu menunjukkan bagaimana pelaku memanfaatkan teknologi untuk menyulitkan pemulihan aset korban.

Edukasi menjadi benteng utama

Selain mengandalkan penegakan hukum, Taspen juga memperluas edukasi kepada peserta. Fokusnya adalah mengingatkan pensiunan agar waspada terhadap pesan yang meminta unduhan aplikasi, klik tautan, atau pembaruan data yang tidak resmi.

Henra menyebut laporan terkait social engineering mulai menurun sejak akhir 2025. Penurunan itu terjadi seiring meningkatnya sosialisasi dan edukasi kepada peserta untuk mengenali pola penipuan digital.

Kewaspadaan tetap penting karena soceng sering bertumpu pada kepercayaan korban. Satu pesan yang tampak resmi bisa menjadi pintu masuk untuk pencurian data dan dana, terutama ketika pengguna tidak memeriksa ulang sumbernya.

Audit keamanan ikut diperkuat

Di sisi lain, Taspen juga menjalani audit keamanan pada aplikasinya oleh Badan Siber dan Sandi Negara. Langkah ini dilakukan untuk memastikan perlindungan data dan sistem tetap terjaga di tengah ancaman kejahatan digital.

Skala perlindungan yang dibutuhkan cukup besar karena jumlah peserta Taspen mencapai sekitar 9 juta orang. Dari jumlah itu, lebih dari 5 juta merupakan peserta aktif, sehingga pengamanan transaksi dan data harus berjalan dalam skala luas.

Besarnya basis peserta juga meningkatkan risiko penyalahgunaan informasi. Karena itu, Taspen terus mendorong peserta agar berhati-hati setiap kali menerima pesan, tautan, atau file yang mengatasnamakan layanan resmi.

Source: finansial.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button