Bagi pengamat langit yang ingin melihat Eta Aquarid, kuncinya bukan alat khusus, melainkan waktu dan lokasi yang tepat. Hujan meteor ini paling mudah dinikmati dengan mata telanjang, terutama ketika langit gelap dan pandangan tidak terhalang cahaya berlebihan.
Momen terbaik untuk mencarinya berada di rentang sekitar pukul 02.00 hingga menjelang fajar. Pada jam-jam itu, titik radian sudah naik lebih tinggi di langit sehingga peluang melihat meteor biasanya lebih besar.
Eta Aquarid dikenal sebagai hujan meteor cepat yang kerap meninggalkan jejak cahaya singkat. Jejak itu bisa terlihat selama beberapa detik, membuat lintasan meteor tampak lebih dramatis saat atmosfer malam cukup mendukung.
Fenomena ini muncul ketika Bumi melintasi jalur orbit Komet Halley yang penuh debu dan batuan kecil. Partikel-partikel tersebut masuk ke atmosfer dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik, lalu terbakar dan membentuk garis cahaya yang terlihat dari permukaan Bumi.
Sumber hujan meteor ini adalah sisa material Komet Halley atau 1P/Halley. Komet tersebut hanya mendekati Bumi sekitar 76 tahun sekali, dengan lintasan terakhir pada 1986, tetapi material yang ditinggalkannya tetap tersebar di sepanjang orbitnya.
Pengamatan tahun ini menarik perhatian karena ada potensi kemunculan bola api atau fireballs. Bola api merupakan meteor yang lebih besar dan lebih terang dibanding bintang di sekitarnya, sehingga lebih menonjol saat melintas di langit malam.
Di sisi lain, kondisi langit tidak sepenuhnya ideal karena fase bulan sedang waning gibbous dengan kecerahan sekitar 84 persen. Cahaya bulan dapat menutupi meteor yang lebih redup, sehingga langit yang tampak cerah justru bisa mengurangi jumlah meteor yang terlihat.
Titik radian Eta Aquarid berada di rasi Aquarius, dekat bintang Eta Aquarii, dengan arah pandang ke timur hingga tenggara. Meski begitu, meteor tidak selalu muncul dari satu titik yang sama, jadi pengamat tetap perlu memandang area langit yang lebih luas.
Karena itu, penggunaan mata telanjang justru menjadi cara paling efektif untuk menikmatinya. Pandangan tanpa teleskop memberi bidang pandang yang lebih lebar, sehingga meteor yang bergerak cepat lebih mudah tertangkap.
Lokasi pengamatan juga sangat menentukan hasilnya. Area yang jauh dari polusi cahaya seperti pedesaan, pantai, atau pegunungan memberi peluang lebih baik untuk melihat meteor yang redup maupun yang terang.
Setibanya di lokasi, mata perlu sekitar 20 menit hingga 30 menit untuk menyesuaikan diri dengan gelap. Selama masa ini, cahaya ponsel dan lampu terang sebaiknya dihindari agar adaptasi tidak terganggu.
Posisi berbaring atau memakai kursi lipat bisa membantu tubuh lebih nyaman saat menatap langit dalam waktu lama. Menghadap menjauhi bulan juga berguna karena bagian langit yang terlihat akan terasa lebih gelap.
Bagi yang ingin mengabadikannya, tripod membantu menjaga kamera tetap stabil saat memakai teknik long exposure. Lensa sudut lebar juga berguna karena dapat menangkap area langit yang lebih luas dalam satu bidikan.
Pengaturan kamera dapat memakai bukaan besar seperti f/1.8 atau f/2.8, mode manual, ISO 1600 hingga 3200, serta kecepatan rana sekitar 15 detik sampai 25 detik. Fokus lensa sebaiknya diatur manual ke infinity atau dikunci pada bintang paling terang yang terlihat.
Udara dini hari biasanya lebih dingin, jadi jaket, selimut, atau minuman hangat bisa membantu menjaga kenyamanan selama menunggu. Dengan persiapan sederhana dan langit yang cukup gelap, peluang melihat meteor terang hingga bola api tetap terbuka meski cahaya bulan masih cukup kuat.
Source: www.beritasatu.com