Lonjakan laba PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada kuartal I-2026 tidak hanya ditopang oleh kenaikan penjualan. Dorongan besar juga datang dari keuntungan operasi yang dihentikan, sehingga kenaikan laba bersih terlihat jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan pendapatan.
Perusahaan membukukan laba bersih Rp 2,14 triliun, naik 72,99 persen dari Rp 1,24 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di saat yang sama, penjualan bersih naik menjadi Rp 8,44 triliun dari Rp 8,21 triliun, menandakan bisnis konsumer perseroan masih bergerak positif di tengah pasar yang menantang.
Efek dari operasi yang dihentikan
Komponen non-operasional menjadi pembeda utama dalam hasil kali ini. UNVR mencatat keuntungan dari operasi yang dihentikan sebesar Rp 887,86 miliar, dengan Rp 870,27 miliar di antaranya berasal dari laba penjualan operasi yang dihentikan.
Kontribusi ini membuat pertumbuhan laba bersih melampaui laju kenaikan penjualan. Tanpa dorongan tersebut, kenaikan bottom line kemungkinan tidak akan setajam angka yang tercatat pada kuartal pertama.
Mesin penjualan masih berjalan
Dari sisi pendapatan, dua segmen utama tetap menjadi penopang bisnis. Segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh menyumbang Rp 6,04 triliun, sedangkan segmen makanan dan minuman menambah Rp 2,39 triliun ke total pendapatan.
Kombinasi kedua segmen itu membantu menjaga penjualan tetap tumbuh. Hal ini menunjukkan basis bisnis UNVR masih aktif, meski tekanan biaya belum sepenuhnya mereda.
Perbaikan operasional di beberapa pos
Di level operasi, perusahaan juga mencatat perbaikan pada sejumlah indikator penting. Laba bruto naik menjadi Rp 4,07 triliun dari Rp 3,97 triliun, sementara laba usaha meningkat menjadi Rp 1,57 triliun dari Rp 1,44 triliun.
Namun, beban masih menjadi sisi yang perlu dicermati. Harga pokok penjualan naik menjadi Rp 4,37 triliun, dan beban umum serta administrasi ikut meningkat dari Rp 665,83 miliar menjadi Rp 830,37 miliar.
Di sisi lain, UNVR berhasil menekan beban pemasaran dan penjualan menjadi Rp 1,64 triliun. Efisiensi pada pos ini ikut membantu menjaga hasil akhir tetap kuat di tengah kenaikan sebagian biaya lain.
Neraca membaik, ruang gerak bertambah
Perbaikan juga terlihat pada posisi keuangan perusahaan. Kas dan setara kas naik menjadi Rp 5,4 triliun hingga akhir Maret 2026, sementara total liabilitas turun menjadi Rp 13,45 triliun dari Rp 15,54 triliun.
Kondisi ini memberi bantalan yang lebih nyaman bagi perseroan untuk melangkah ke periode berikutnya. Dengan kas yang lebih tebal dan liabilitas yang menyusut, UNVR memasuki sisa tahun dengan posisi neraca yang lebih solid.
Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap menilai capaian kuartal pertama memperkuat keyakinan bahwa fundamental perusahaan terus membaik. Ia juga menyebut momentum bisnis semakin kuat meski kondisi pasar masih tidak menentu.
Ke depan, manajemen akan memusatkan perhatian pada optimalisasi saluran penjualan dan efisiensi biaya operasional. Perseroan juga memperkirakan margin meningkat secara moderat sepanjang sisa tahun 2026 sambil tetap mengejar pertumbuhan di atas rata-rata pasar dan mewaspadai tekanan eksternal global.