Li Auto tengah mengirim sinyal yang jelas bahwa masa depan perusahaan tidak ingin berhenti di otomotif. Di tengah tekanan laba yang makin berat, produsen asal China itu justru kembali menata organisasi agar lebih siap masuk ke AI dan robotika.
Langkah ini menjadi penting karena restrukturisasi terbaru bukan sekadar perapian internal biasa. Li Auto kini semakin tegas mengarahkan fokus ke embodied AI, yang diposisikan sebagai fondasi utama untuk ambisi robotiknya.
Dalam susunan baru, Li Auto membentuk tiga departemen di bawah payung embodied AI, yakni embodied engineering, embodied interaction, dan embodied behavior. Sementara itu, bisnis autonomous driving dipisahkan menjadi departemen tier-two yang berdiri sendiri dan berjalan paralel dengan tiga unit tersebut.
Menurut LatePost, seluruh unit embodied AI itu akan langsung berada di bawah Zhan Kun, kepala tim foundation model. Zhan Kun sendiri berada di bawah chief technology officer Xie Yan, sehingga perubahan ini sekaligus memperjelas jalur komando untuk area AI inti perusahaan.
Restrukturisasi ini juga menandai bahwa Li Auto sedang bergerak lebih jauh dari sekadar smart driving. Dengan menempatkan embodied AI sebagai pusat organisasi baru, perusahaan menunjukkan bahwa teknologi tersebut akan menjadi jalur pengembangan yang lebih luas, termasuk perangkat keras yang lebih konkret.
Arah itu sejalan dengan pandangan pendiri, chairman, dan CEO Li Auto, Li Xiang, yang berkali-kali menegaskan pentingnya transisi perusahaan menjadi pemain AI. Dalam wawancara awal bulan ini, ia menyebut autonomous driving sebagai separuh pertama kompetisi robotika, sedangkan humanoid robot adalah separuh berikutnya.
Namun, Li Xiang juga mengakui bahwa komersialisasi besar-besaran untuk humanoid robot serbaguna masih membutuhkan setidaknya tiga tahun lagi. Pernyataan itu memberi gambaran bahwa ambisi Li Auto memang agresif, tetapi tahap pengerjaannya masih awal.
Sebelum restrukturisasi terbaru ini, Li Auto sudah lebih dulu mengubah struktur pada Februari. Saat itu, perusahaan merombak departemen smart intelligence dan membentuk tim humanoid robot, yang menunjukkan bahwa dorongan ke robotika bukan keputusan mendadak.
Dorongan tersebut makin menarik karena datang ketika bisnis inti justru sedang tertekan. Li Auto membukukan rugi bersih tak terduga sebesar 2,3 miliar yuan pada kuartal pertama 2026, setelah sebelumnya mencatat beberapa kuartal berturut-turut untung.
Pendapatan total perusahaan pada periode yang sama turun 11,4 persen secara tahunan menjadi 23 miliar yuan. Margin kotor juga anjlok ke 7,9 persen dari 20,5 persen pada periode yang sama tahun lalu, menandakan tekanan besar pada profitabilitas.
Penyusutan margin itu terutama dipicu perang harga yang ketat di pasar dan penurunan harga jual rata-rata akibat perubahan bauran produk. Dampaknya ikut terasa pada arus kas, karena free cash flow Li Auto berubah menjadi negatif pada kuartal pertama.
Di sisi operasional, perusahaan juga memilih panduan yang lebih hati-hati untuk kuartal kedua. Li Auto memperkirakan pengiriman kendaraan berada di kisaran 95.000 hingga 100.000 unit, di tengah ekspektasi yang lebih agresif dari sejumlah rival lokal.
Kondisi finansial seperti ini membuat ekspansi ke AI dan robotika bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga kekuatan kas. Karena itu, penataan ulang organisasi yang lebih terpusat tampak menjadi cara Li Auto untuk mengunci sumber daya pada area yang dianggap paling strategis.
Proyek robotika internal berkode Nexus juga disebut sudah memiliki prototipe awal untuk produk robot beroda pertamanya. Hal itu memperlihatkan bahwa langkah Li Auto tidak berhenti pada wacana, melainkan sudah bergerak ke tahap pengembangan perangkat keras yang lebih nyata.
Source: cnevpost.com