Di tengah target bisnis yang masih menanjak, Hana Bank menunjukkan awal tahun yang cukup kuat lewat kinerja pendanaan dan permodalan yang solid. Laba bersih perseroan pada kuartal I/2026 mencapai Rp200,78 miliar, atau tumbuh 23,84% secara tahunan, sehingga bank ini sudah mengantongi sekitar 30,88% dari target laba bersih setahun penuh.
Pencapaian itu memberi ruang bagi Hana Bank untuk tetap percaya diri mengejar sasaran 2026. Perseroan membidik laba bersih Rp650,11 miliar, dengan dukungan ekspansi kredit, penguatan dana pihak ketiga, dan pengelolaan aset yang tetap hati-hati.
Dorongan dari pendanaan dan modal
Kinerja penghimpunan dana menjadi salah satu penopang utama pada awal tahun ini. Hingga Maret 2026, dana pihak ketiga Hana Bank naik 11,78% secara tahunan menjadi Rp30,83 triliun dari Rp27,58 triliun pada kuartal I/2025.
Direktur Branch Business Hana Bank Hendri Setiawan menjelaskan bahwa pertumbuhan dana pihak ketiga pada kuartal I/2026 terutama ditopang simpanan deposito. Struktur pendanaan seperti ini membantu bank memperkuat sumber dana untuk menopang aktivitas intermediasi.
Dari sisi ketahanan, posisi modal Hana Bank juga berada di level yang kuat. Capital Adequacy Ratio atau CAR tercatat 27,05%, lebih tinggi dibanding CAR perbankan nasional yang berada di level 25,09%.
Aset dan kredit ikut menguat
Selain laba dan pendanaan, neraca bank juga bergerak naik. Total aset Hana Bank per Maret 2026 tercatat Rp54,60 triliun, naik 5,64% year on year dari Rp51,68 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyaluran kredit juga tumbuh, meski lajunya masih lebih rendah dari pertumbuhan dana pihak ketiga. Kredit Hana Bank mencapai Rp39,67 triliun pada kuartal I/2026, naik 3,63% secara tahunan dari Rp38,38 triliun pada kuartal I/2025.
Kombinasi kenaikan aset dan kredit menunjukkan ruang ekspansi bisnis masih terbuka. Di saat yang sama, bank tetap perlu menjaga kualitas portofolio agar pertumbuhan tidak mengorbankan prinsip kehati-hatian.
Kualitas aset masih terkendali
Di tengah ekspansi tersebut, rasio kredit bermasalah Hana Bank masih tergolong rendah. Non Performing Loan atau NPL gross tercatat 0,72%, sedangkan NPL nett berada di 0,27%.
Kondisi ini menunjukkan beban kredit bermasalah masih terjaga. Bagi bank yang sedang menjaga laju pertumbuhan intermediasi, kualitas aset seperti ini menjadi modal penting agar kinerja tetap sehat sepanjang tahun.
Langkah berikutnya menuju target 2026
Hendri menyampaikan capaian awal tahun ini sudah melampaui Rp200 miliar dan menjadi bekal penting untuk mengejar target yang lebih besar hingga akhir tahun. Hana Bank tetap menempatkan pertumbuhan aset, peningkatan pendapatan operasional bruto, efisiensi, produktivitas, dan penguatan tata kelola di cabang sebagai fokus kerja.
Dalam proyeksi tahun penuh, perseroan juga membidik kredit Rp43,30 triliun, dana pihak ketiga Rp29,50 triliun, dan aset Rp56,65 miliar. Dengan pencapaian kuartal I/2026 yang sudah positif, Hana Bank masih memiliki ruang untuk menjaga ritme pertumbuhan sambil mempertahankan kualitas bisnisnya.
Source: finansial.bisnis.com




