Laba Bruto Blibli Naik 19 Persen, Rugi Bersih Menyempit dan Arah Untung Kian Terbuka

Ekspansi jaringan fisik menjadi salah satu penggerak penting di balik perbaikan kinerja Blibli. Sepanjang tahun lalu, perusahaan menambah 66 toko baru untuk memperkuat strategi omnicanal yang menghubungkan kanal daring dan luring.

Langkah itu ikut menopang hasil yang semakin solid, terutama ketika pasar masih menantang dan konsumen makin selektif. Pada saat yang sama, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) berhasil menjaga arah pemulihan dengan rugi bersih yang terus menyempit.

Dari sisi operasional, Blibli kini mengelola portofolio toko yang jauh lebih beragam. Per 31 Desember 2025, perusahaan memiliki 265 toko elektronik konsumen, empat toko elektronik rumah tangga, satu toko fesyen dan olahraga, 57 gerai supermarket premium yang dikelola Ranch Market, serta 39 pusat pengalaman home and living milik Dekoruma.

Perluasan jaringan itu sejalan dengan dorongan pendapatan yang datang dari seluruh lini usaha. Pendapatan neto Blibli naik 34 persen menjadi Rp 22,3 triliun, sementara laba bruto mencapai Rp 3,9 triliun atau tumbuh 19 persen secara tahunan.

Segmen elektronik konsumen tetap menjadi penopang utama dalam pertumbuhan tersebut. Penjualan smartphone yang tinggi, kontribusi dari usaha institusi, dan ekspansi gerai fisik ikut memperkuat kinerja perseroan sepanjang tahun.

Meski belum berbalik untung, perbaikan di bawah garis laba tetap terlihat. Blibli masih mencatat rugi bersih Rp 2,3 triliun, namun angka itu lebih kecil dibandingkan rugi tahun sebelumnya yang mencapai Rp 2,5 triliun.

CEO dan Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto, menilai hasil ini menunjukkan arah bisnis yang semakin dekat ke profitabilitas. Ia mengatakan fokus perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan transaksi, tetapi juga memperkuat margin, monetisasi, efisiensi operasional, dan loyalitas pelanggan.

Kusumo juga menekankan bahwa integrasi ekosistem omnicanal yang semakin matang menjadi kunci dari strategi tersebut. Menurutnya, fondasi usaha yang kuat membuat Blibli tetap mampu memperbaiki kinerja di tengah pasar yang dinamis.

“Sepanjang 2025, fokus kami bukan hanya mendorong pertumbuhan volume transaksi, tetapi juga memperkuat margin, meningkatkan monetisasi, memperbaiki efisiensi operasional, serta memperdalam loyalitas pelanggan melalui integrasi ekosistem omnicanal yang semakin matang,” ujar Kusumo Martanto.

Ia menambahkan bahwa tantangan konsumsi yang semakin selektif tidak menghentikan perbaikan fundamental usaha. Dalam pandangannya, perusahaan justru semakin jelas berada di jalur menuju profitabilitas.

Dengan laba bruto yang naik, pendapatan yang menguat, rugi bersih yang menyusut, dan jaringan fisik yang terus melebar, Blibli masuk ke fase pemulihan yang lebih matang. Kombinasi itu membuat strategi omnicanal perusahaan terlihat bukan hanya memperluas jangkauan, tetapi juga mulai mengangkat kualitas keuntungan.

Exit mobile version