Laba BBCA Tetap Tumbuh, BRI Danareksa Masih Pertahankan Rekomendasi Beli Walau Target Dipotong

Saham PT Bank Central Asia Tbk. atau BBCA masih mendapatkan kepercayaan dari BRI Danareksa Sekuritas meski target harganya dipangkas menjadi Rp10.900 per lembar dari sebelumnya Rp11.400. Penurunan target itu tidak mengubah sikap beli, karena prospek laba, kekuatan aset, dan valuasi yang dinilai sudah semakin terbatas ruang turunnya tetap menjadi penopang utama.

Revisi target tersebut muncul di tengah sentimen yang belum sepenuhnya ramah bagi saham perbankan. Kekhawatiran atas country risk dan arus keluar dana asing masih membayangi pergerakan saham keuangan, namun BBCA dinilai punya daya tahan lebih baik dibanding banyak emiten sejenis.

Tekanan valuasi mendorong revisi target

BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa kenaikan estimasi rata-rata biaya ekuitas atau cost of equity menjadi 7,0 persen menjadi salah satu pemicu penyesuaian target harga BBCA. Perubahan asumsi itu membuat valuasi saham disesuaikan ke level yang lebih konservatif.

Meski begitu, analisis dari Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis tetap mempertahankan rekomendasi beli. Pandangan tersebut menandakan bahwa ruang pelemahan BBCA mulai dinilai semakin sempit, apalagi harga sahamnya disebut sudah berada di bawah -3SD dari standar deviasi historis.

Kinerja kuartal I/2026 masih jadi penyangga utama

Optimisme terhadap BBCA tidak lepas dari pencapaian laba bersih pada kuartal I/2026. Bank swasta terbesar di Indonesia itu mencatat laba bersih Rp14,6 triliun, tumbuh 4 persen secara tahunan, dan setara dengan 24 persen dari estimasi laba sepanjang tahun ini.

Capaian tersebut memperlihatkan kemampuan BBCA menjaga pertumbuhan di tengah kondisi pasar yang lebih berhati-hati. Di saat margin bunga bersih turun ke 5,7 persen, perusahaan justru mencatat efisiensi beban operasional yang lebih baik dengan penurunan 9 persen secara kuartalan.

Kredit dan kualitas aset masih memberi ruang napas

Di sisi bisnis inti, pertumbuhan kredit tetap menjadi sumber utama pelepasan pendapatan BBCA. Bank ini menargetkan penyaluran kredit tumbuh 8 persen hingga 10 persen sampai akhir 2026.

BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti perbaikan kualitas aset di segmen korporasi dan komersial. Perbaikan tersebut ikut menekan rasio non-performing loan atau NPL sebesar 5 persen secara tahunan, yang menjadi sinyal bahwa portofolio kredit BBCA masih terjaga.

Victor dan Naura menilai tekanan pada imbal hasil korporasi mulai mereda. Selain itu, ada peluang penyesuaian naik suku bunga kredit atau repricing loans yang dapat membantu menopang margin pada periode berikutnya.

Dividen interim menambah daya tarik saham

Selain kinerja operasional, BBCA juga memiliki faktor lain yang menjaga minat pasar, yaitu rencana pembagian dividen interim dalam tiga tahap. Pembayaran dijadwalkan berlangsung pada bulan Juni, September, dan Desember 2026.

Rencana tersebut memperkuat kesan bahwa BBCA masih mampu memberikan imbal hasil bagi pemegang saham meski pasar perbankan masih diliputi kehati-hatian. Kombinasi laba yang tetap bertumbuh, kredit yang masih ekspansif, serta kualitas aset yang membaik membuat saham ini tetap dipandang defensif.

Dalam kerangka penilaian BRI Danareksa Sekuritas, BBCA masih berada di posisi yang relatif kuat untuk menghadapi tekanan sentimen. Basis nasabah yang besar, efisiensi yang membaik, dan valuasi yang dinilai sudah murah menjadi alasan utama mengapa target harga boleh turun, tetapi pandangan positif belum ikut berubah.

Baca Juga

Back to top button