Kutukan Delapan Besar Masih Membayangi Jepang, Tiga Bek Jadi Harapan Baru Samurai Blue

Jepang datang ke Piala Dunia 2026 dengan modal yang tidak dimiliki banyak tim Asia lain: produktivitas tinggi, fleksibilitas taktik, dan kedalaman skuad yang selama ini menjadi identitas mereka. Namun, semua itu masih akan diuji oleh satu pekerjaan rumah besar yang belum selesai, yakni melewati babak 16 besar untuk pertama kalinya.

Target itu terasa masuk akal jika melihat performa Jepang dalam kualifikasi. Samurai Blue menjadi tim pertama yang memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 dan menutup fase tersebut dengan 51 gol, angka yang menegaskan betapa tajamnya mereka di level Asia.

Perubahan cara main jadi kunci

Salah satu pembeda terbesar Jepang saat ini ada pada pendekatan bermain. Mereka tidak lagi terpaku pada sistem empat bek dan beralih ke formasi tiga bek yang lebih fleksibel serta lebih agresif.

Skema itu memberi Jepang ruang untuk menekan lebih tinggi dan lebih berani mengambil inisiatif. Dalam situasi menyerang, sistem ini bahkan memungkinkan Samurai Blue menempatkan sampai lima pemain di lini depan.

Kapten Wataru Endo menilai perubahan itu mencerminkan cara pikir baru di dalam skuad. Sejak Piala Dunia Qatar, menurutnya, banyak pemain mulai merasa Jepang harus berani menguasai pertandingan, bukan sekadar menunggu lawan.

Mentalitas yang ikut naik kelas

Hajime Moriyasu juga melihat ada pergeseran penting di ruang ganti. Ia menilai para pemain kini tidak lagi langsung menerima kekalahan sebagai hasil yang wajar ketika menghadapi tim besar.

Moriyasu menyampaikan bahwa sekarang tak ada yang tahu apakah Jepang akan menang atau kalah. Ia bahkan menegaskan target setinggi juara dunia pantas dipasang jika tim ingin terus berkembang.

Perubahan mentalitas itu tidak muncul tanpa dasar. Jepang sudah menunjukkan kemampuan besar lewat kemenangan atas Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022, meski hasil tersebut belum cukup untuk menghapus label sebagai tim yang selalu berhenti sebelum delapan besar.

Ancaman lama yang belum hilang

Masalah Jepang di Piala Dunia tetap jelas jika melihat rekam jejak mereka. Opta mencatat Jepang adalah negara dengan jumlah laga terbanyak di Piala Dunia, yakni 25 pertandingan, tetapi belum pernah mencapai perempat final.

Kondisi itu membuat target ke delapan besar terasa seperti misi pemecah kutukan. Jepang memang konsisten lolos ke fase gugur sejak debut pada 1998, tetapi langkah mereka selalu terhenti di titik yang sama saat mencapai 16 besar.

Mereka lolos ke babak 16 besar pada 2002, 2010, 2018, dan 2022. Setelah itu, perjalanan selalu mentok sebelum pintu perempat final terbuka.

Serangan udara jadi senjata tambahan

Di luar permainan terbuka, Jepang juga punya ancaman lain yang membuat mereka lebih sulit dibaca. Dalam kualifikasi, mereka mencetak 12 gol sundulan, sebuah angka yang menunjukkan efektivitas nyata dari bola udara.

Koki Ogawa menjadi nama paling menonjol dalam aspek ini dengan lima gol lewat sundulan. Ayase Ueda juga memberi opsi berbeda karena penyerang Feyenoord itu mencatat sembilan gol sundulan sepanjang musim di Eropa.

Dengan variasi itu, Jepang tidak lagi bergantung pada permainan kaki ke kaki semata. Mereka kini memiliki cara tambahan untuk membongkar pertahanan lawan yang rapat dan bermain dengan blok rendah.

Skuad tetap kuat meski ada masalah kebugaran

Jepang tetap harus menghadapi tantangan dalam urusan kondisi pemain. Kaoru Mitoma dipastikan absen karena cedera hamstring, sementara Takumi Minamino harus menepi lebih lama akibat cedera ligamen lutut atau ACL.

Wataru Endo dan Takehiro Tomiyasu juga masih menyisakan tanda tanya karena minim menit bermain kompetitif dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini memaksa Jepang mengandalkan kedalaman skuad yang selama ini menjadi salah satu kekuatan mereka.

Moriyasu masih punya alasan untuk percaya diri karena kontribusi gol dan assist di timnya tersebar cukup merata. Artinya, beban serangan tidak bertumpu hanya pada satu atau dua pemain.

Grup berat menanti sejak awal

Tantangan Jepang di Piala Dunia 2026 sudah menunggu sejak fase grup. Mereka akan berada di Grup F bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia.

Komposisi itu menuntut konsistensi sejak laga pertama karena setiap poin akan sangat berharga untuk membuka jalan ke fase gugur. Berdasarkan simulasi superkomputer Opta, Jepang punya peluang 76,2 persen untuk lolos dari fase grup.

Meski begitu, target mereka jelas lebih tinggi daripada sekadar bertahan di turnamen. Jepang ingin menghapus kebiasaan lama yang selalu membuat mereka berhenti sebelum perempat final, dan tiga bek menjadi salah satu tumpuan utama untuk mencoba mewujudkannya.

Source: www.suara.com
Exit mobile version