Pergantian kulit pada hewan tidak selalu berlangsung dengan cara yang lembut. Pada beberapa spesies, proses ini justru menjadi momen paling rentan karena tubuh harus melepaskan lapisan lama sebelum bisa tumbuh lebih jauh atau kembali berfungsi normal.
Di balik itu, tiap hewan punya cara sendiri untuk melewatinya. Ada yang harus bersembunyi sampai lapisan baru mengeras, ada yang memanfaatkan momen itu untuk tumbuh kembali, dan ada pula yang mengembalikan nutrisi dengan memakan kulit yang sudah lepas.
Kerangka luar yang memaksa tubuh terus berganti
Kepiting menjadi salah satu contoh yang paling jelas karena tubuhnya dibungkus cangkang keras. Cangkang itu tidak fleksibel, sehingga kepiting harus melepaskannya agar bisa membesar, meski saat itu mereka sangat rentan terhadap pemangsa.
Setelah lepas dari cangkang lama, kepiting belum langsung aman. Cangkang barunya masih lunak dan lentur, sehingga hewan ini perlu bersembunyi sampai lapisan tersebut mengeras, dan prosesnya dapat memakan waktu berhari-hari.
Laba-laba juga hidup dengan kerangka luar dan harus berganti lapisan itu beberapa kali sepanjang hidupnya. Saat proses berlangsung, mereka bersembunyi untuk menghindari pemangsa lain, tetapi ada manfaat tambahan yang ikut muncul karena sebagian anggota tubuh dapat beregenerasi, walau hasil tumbuhnya biasanya lebih kecil dan lebih lemah.
Ada yang berganti kulit sambil tumbuh sangat cepat
Ulat termasuk hewan yang berkali-kali melepaskan kerangka luarnya selama masa pertumbuhan. Mereka dapat berganti kulit empat hingga lima kali dengan cara melebarkan tubuh sampai melampaui lapisan luar, lalu membelahnya sebelum merangkak keluar.
Proses itu penting karena ulat mengalami pertumbuhan yang sangat besar. Massa tubuhnya bisa meningkat hingga 1.000 kali lipat, dan selama fase ini mereka makan sangat banyak.
Dalam seluruh hidupnya, ulat bahkan bisa mengonsumsi makanan hingga 27 ribu kali berat tubuhnya. Aktivitas makan yang sangat intens itu membuat pergantian kulit menjadi bagian penting dari perkembangan tubuh mereka.
Serangga lain punya pola yang tidak kalah unik
Cicada menempuh jalur yang berbeda karena memiliki tahap nimfa yang sangat panjang. Dari lebih dari 3.000 spesies yang ada, sebagian besar hidup di wilayah beriklim tropis, dan sebagian bisa bertahan hingga 17 tahun dengan sebagian besar waktu dihabiskan di bawah tanah.
Ketika waktunya tiba, nimfa cicada merangkak keluar dari tanah lalu naik ke permukaan vertikal seperti pohon atau tiang pagar. Di tempat itu, mereka melepaskan seluruh kulit sebelum berubah menjadi serangga dewasa bersayap yang lebih besar.
Belalang juga berganti kulit, tetapi hanya sampai fase dewasa. Dalam hidup sekitar satu tahun, belalang melewati tahap telur, nimfa, lalu dewasa, dan selama fase nimfa mereka berganti kulit lima hingga enam kali.
Pergantian itu dipicu hormon yang memberi sinyal saat tubuh membutuhkan ruang untuk massa yang terus bertambah. Saat berganti kulit, belalang mengisap udara, memperbesar kerangka tubuhnya, lalu memecahkan kerangka lama.
Hewan air dan amfibi punya strategi yang sama-sama ekstrem
Pada katak, kulit akan mengeras seiring waktu dan harus dilepaskan sebelum menjadi terlalu keras. Jika tidak, katak tidak bisa mendapatkan cukup oksigen, sehingga pergantian kulit menjadi kebutuhan penting bagi kelangsungan hidupnya.
Saat waktunya tiba, katak mengambil posisi meringkuk yang membuat kulit lama robek. Setelah itu, tubuhnya meregang hingga kulit tua terbelah dan terkelupas seluruhnya.
Kulit yang sudah lepas tidak dibiarkan begitu saja. Katak memakannya kembali untuk memulihkan nutrisi yang hilang selama proses itu, lalu pola dan warna tubuhnya tampak lebih cerah.
Mengapa proses ini penting bagi banyak hewan
Pergantian kulit sering terlihat seperti tanda bahwa hewan sedang tumbuh, tetapi fungsinya bisa jauh lebih luas. Pada sejumlah spesies, lapisan lama tidak sekadar dibuang, melainkan menjadi bagian dari strategi bertahan hidup, pemulihan, dan perlindungan diri.
Karena itu, proses yang tampak sederhana ini justru menyimpan banyak variasi ekstrem. Dari ular yang merangkak keluar dari kulit lamanya, hingga katak yang memakan kembali kulit yang lepas, setiap hewan menunjukkan cara berbeda untuk melewati fase yang sama-sama menentukan.
Source: www.idntimes.com




