KuCard Di Australia, Cara Baru KuCoin Mengubah Crypto Jadi Alat Belanja Harian

Bagi pengguna crypto di Australia, langkah KuCoin terbaru tidak berhenti pada perluasan bisnis semata. Perusahaan ini kini menempatkan kepatuhan regulasi dan kemudahan belanja harian sebagai dua sisi dari strategi yang sama.

Fokus itu terlihat dari kehadiran KuCard, kartu debit virtual berbasis crypto yang sudah diluncurkan di Australia. Kartu ini terhubung ke jaringan Mastercard dan dapat dipakai melalui Apple Pay serta Google Pay, sehingga pengguna bisa memakai aset digital di tempat pembayaran yang sudah familiar.

KuCard dirancang untuk mengurangi jarak antara aktivitas trading dan penggunaan nyata aset digital. Saat transaksi dilakukan, aset digital akan langsung dikonversi ke mata uang fiat saat penyelesaian, sehingga pengguna tidak perlu melakukan konversi manual terlebih dahulu.

Untuk saat ini, transaksi KuCard dapat menggunakan USDC. Sejak peluncuran, tersedia 37 trading pair yang melibatkan stablecoin tersebut, yang menunjukkan bahwa KuCoin mulai menyiapkan ekosistem yang lebih luas di sekitar penggunaan harian, bukan hanya perdagangan aset.

Mastercard menilai pendekatan itu memberi utilitas yang lebih jelas bagi aset digital. Christian Rau, senior vice president of digital commercialization Mastercard, mengatakan kartu tersebut membantu mendorong belanja aset digital dalam skala besar dengan cara yang aman, terjaga, dan sesuai aturan.

Di sisi perusahaan, Australia kini diposisikan sebagai pasar penting dalam strategi market regulated markets dan lokalisasi global. KuCoin melihat pasar ini semakin matang, baik dari sisi penerimaan pengguna maupun dari kerangka regulasi yang terus menguat.

Sikap itu ikut tercermin dari langkah operasional yang lebih serius. KuCoin memperluas investasi, menunjuk James Pinch sebagai Managing Director Australia, lalu membuka kantor baru di Central Business District Sydney.

Pinch menyebut pendekatan tersebut sebagai “evolution” dan menilai produk harus cepat beradaptasi agar tetap sejalan dengan aturan di tiap yurisdiksi. Dalam konteks Australia, reformasi aturan dan pengawasan AUSTRAC yang semakin ketat membuat kepatuhan menjadi fondasi utama ekspansi.

KuCoin sendiri sudah terdaftar sebagai digital currency exchange di AUSTRAC pada November 2025. Status itu memberi perusahaan ruang operasi di bawah pengawasan formal nasional dan membuka akses ke pasar lebih dari 20 juta konsumen dewasa.

CEO KuCoin, BC Wong, menyebut pendaftaran tersebut sebagai tonggak penting dalam memperkuat arsitektur kepatuhan global perusahaan. Dengan pijakan itu, ekspansi ke Australia tidak hanya dibaca sebagai langkah bisnis, tetapi juga sebagai penguatan infrastruktur kepatuhan.

Dari sisi permintaan pasar, KuCoin menilai warga Australia cenderung lebih cepat menerima investasi alternatif dibanding banyak pasar lain. Penilaian itu didukung riset internal yang menunjukkan sekitar 22% warga Australia kini memiliki aset digital.

Laporan pasar Australia milik KuCoin juga menunjukkan bahwa akses pendanaan menjadi kebutuhan utama pengguna crypto di sana. Calon pengguna mencari platform yang patuh, tepercaya, dan minim gesekan saat melakukan on-ramp maupun off-ramp antara uang fiat dan crypto.

Data yang dikutip perusahaan memperlihatkan lebih dari separuh pengguna memakai transfer bank untuk mengisi akun crypto. Sementara itu, sedikit di atas 40% menggunakan kartu kredit dan debit, kurang dari sepertiga memakai dompet digital, dan kurang dari seperempat menggunakan P2P trading.

Melihat pola itu, KuCard ditempatkan sebagai jawaban yang paling dekat dengan kebiasaan pembayaran sehari-hari. KuCoin menyebut kartu tersebut dirancang agar selaras dengan cara pengguna Australia terbiasa bertransaksi, sekaligus membuat crypto lebih mudah dipakai di luar aktivitas trading dan investasi.

Bagi KuCoin, penguatan operasi di Australia dan peluncuran KuCard berjalan dalam arah yang sama. Perusahaan ingin menghubungkan akun aset digital dengan skenario belanja nyata, sambil menjaga produk tetap berada dalam koridor regulasi yang semakin mapan.

Baca Juga

Back to top button