Target besar Persatuan Kriket Indonesia Kabupaten Blitar bukan hanya soal meraih hasil di lapangan, tetapi juga menyiapkan ekosistem yang lebih luas sejak dari sekolah. Karena itu, pembinaan atlet kini diarahkan ke pelajar SMP lewat rencana Piala Bupati Blitar tingkat SMP se-Kabupaten Blitar sebagai pintu masuk mengenalkan kriket lebih dekat.
Langkah tersebut disusun beriringan dengan agenda kompetitif yang sudah menunggu di depan mata. Di satu sisi, tim terus menata regenerasi; di sisi lain, mereka tetap membidik ajang yang bisa mengasah kemampuan sebelum mengarah ke Porprov Jatim 2027.
Pelatih tim kriket Kabupaten Blitar, Muhammad Yusri Yazid, mengatakan pembinaan tahun ini dijalankan sejalan dengan persiapan mengikuti sejumlah kejuaraan. Salah satu agenda terdekat adalah kemungkinan tampil di Piala Wali Kota Surabaya yang dijadwalkan pada Juni.
Kepastian keikutsertaan tim masih menunggu undangan dari panitia. Namun, bila kesempatan itu datang, ajang tersebut akan dipakai untuk menambah jam terbang para atlet dalam pertandingan resmi.
Bagi PCI Kabupaten Blitar, pengalaman bertanding menjadi bagian penting dari proses pembentukan tim. Turnamen dipandang bukan sekadar ruang mengejar hasil cepat, melainkan sarana untuk membuat atlet lebih siap menghadapi lawan yang lebih kuat.
Setelah Surabaya, perhatian juga tertuju pada Kejuaraan Provinsi Jawa Timur yang diperkirakan berlangsung pada September. Kejurprov itu dinilai sebagai momen penting untuk mengukur perkembangan kemampuan atlet sekaligus melihat daya saing tim di level regional.
Di tengah persiapan menuju ajang-ajang tersebut, pembinaan usia dini justru mendapat porsi besar. PCI Kabupaten Blitar menyiapkan Piala Bupati Blitar untuk pelajar SMP se-Kabupaten Blitar dan menempatkannya sebagai sarana mengenalkan kriket kepada siswa.
Turnamen pelajar itu direncanakan berlangsung pada September, bertepatan dengan momentum Hari Olahraga Nasional. Pemilihan level SMP menunjukkan bahwa pengenalan kriket tidak ingin berhenti pada lingkar atlet yang sudah ada.
Strategi ini juga menjadi jawaban atas kondisi kriket yang masih tergolong olahraga baru di Kabupaten Blitar. Karena itu, sosialisasi dinilai tidak cukup dilakukan secara umum dan perlu menyentuh langsung calon pemain di lingkungan sekolah.
Yusri menyebut pendekatan langsung ke sekolah-sekolah lebih efektif daripada hanya memberi sosialisasi kepada guru olahraga. Metode door-to-door itu dianggap membantu pelajar mengenal dasar-dasar kriket secara lebih nyata dan cepat.
Dari sisi pembinaan, pola ini membuka peluang memperluas basis pemain sekaligus menjaring bibit atlet sejak dini. Turnamen antarpelajar kemudian menjadi jembatan dari tahap pengenalan menuju pembinaan prestasi yang lebih terarah.
Rangkaian agenda yang disusun PCI Kabupaten Blitar memperlihatkan bahwa arah pembinaan tidak dibangun secara instan. Pengenalan di sekolah, turnamen pelajar, pengalaman tanding, dan Kejurprov Jawa Timur disiapkan sebagai satu jalur pengembangan yang saling melengkapi.
Skema itu sekaligus menegaskan bahwa target jangka pendek dan tujuan jangka panjang dijalankan bersama. Dengan fondasi semacam ini, kabupaten tersebut berharap kriket memiliki ruang tumbuh yang lebih kuat di kalangan pelajar sekaligus lebih siap bersaing menuju Porprov Jatim 2027.