Keputusan disiplin di sepak bola usia muda kembali menjadi sorotan setelah insiden di Elite Pro Academy Super League U-20 memunculkan desakan agar PSSI bersikap tegas. Ronny Pangemanan atau Bung Ropan menilai aturan harus diterapkan sama kepada semua pemain, tanpa kecuali, termasuk bila yang melanggar merupakan pemain tim nasional.
Menurut Bung Ropan, status membela Timnas tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi sanksi ketika ada tindakan yang jelas melanggar aturan pertandingan. Ia menekankan bahwa ukuran hukuman harus mengikuti tingkat kesalahan, terutama jika pelanggaran masuk kategori berat.
Sorotan itu menguat setelah kericuhan usai laga Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang. Dalam video yang beredar luas di media sosial, pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto Henga, terlihat berlari lalu menendang keras punggung atas pemain Dewa United, Rakha Nurkholis, hingga lawannya tersungkur.
Bung Ropan menilai tindakan seperti itu tidak bisa dipandang ringan hanya karena pelakunya punya nama besar atau pernah masuk radar tim nasional. Ia menegaskan bahwa semua pelanggaran harus diproses dengan standar yang sama agar wibawa kompetisi tetap terjaga.
“Intinya semua tindakan yang bertentangan dengan aturan yang berlaku dalam sepak bola, siapapun dia mau pemain Timnas harus dihukum sesuai dengan perbuatannya,” ujarnya kepada Medcom.id. Pernyataan itu sekaligus menutup ruang bagi perlakuan istimewa terhadap pemain yang memiliki reputasi lebih tinggi.
Kasus ini juga menarik perhatian karena terjadi di ajang pembinaan usia muda. Kompetisi seperti Elite Pro Academy semestinya menjadi tempat membentuk karakter, kedisiplinan, dan mental bertanding, bukan ruang untuk meluapkan emosi melalui kekerasan fisik.
Di tengah sorotan itu, nama Fadly ikut kembali dibicarakan publik karena rekam jejaknya di level nasional. Ia pernah mencetak gol ke gawang Honduras pada Piala Dunia U-17 dan sempat dianggap sebagai salah satu penyerang masa depan Timnas Indonesia.
Perhatian terhadap insiden ini makin besar karena Fadly kembali masuk skuad Timnas Indonesia U-20 untuk pemusatan latihan intensif di Surabaya pada 2-15 Maret 2026. Agenda itu disiapkan untuk menghadapi ASEAN Boys U-19 Championship dan Kualifikasi AFC U-20 Asian Cup 2027, sehingga polemik di lapangan ini berpotensi ikut memengaruhi perjalanannya.
Di sisi lain, polemik di Stadion Citarum tidak berhenti pada aksi yang terekam kamera. Chief Operating Officer Bhayangkara FC, Sumardji, menyebut ada provokasi rasisme yang disebut menjadi pemicu situasi di lapangan.
Meski begitu, Bung Ropan tetap menekankan bahwa alasan apa pun di balik keributan tidak menghapus pelanggaran fisik di dalam pertandingan. Dalam pandangannya, keselamatan pemain dan ketertiban kompetisi harus tetap menjadi prioritas utama, sehingga tindakan berbahaya seperti itu perlu diperlakukan serius.
Karena itu, perhatian kini mengarah pada langkah Komite Disiplin PSSI. Sikap yang diambil federasi akan menjadi ukuran apakah penegakan aturan benar-benar berjalan konsisten atau masih memberi ruang bagi pengecualian ketika pelakunya punya status tinggi.
Bung Ropan berharap PSSI bergerak cepat agar kasus ini tidak berhenti sebagai bahan perbincangan di media sosial. Ia menilai hukuman yang tegas akan memberi efek jera dan menjadi pengingat bagi pemain lain untuk menjaga perilaku di lapangan.
Source: www.medcom.id




