Pembangunan kilang baru di Cilacap dan Dumai diposisikan sebagai salah satu langkah paling penting untuk menekan impor BBM. Jika berjalan sesuai rencana, proyek yang dikerjakan PT Pertamina (Persero) itu disebut dapat mengurangi ketergantungan impor hingga 1,25 miliar dollar AS per tahun atau sekitar Rp 21,5 triliun.
Dorongan tersebut muncul dari upaya memperbesar pasokan bahan bakar dari dalam negeri. Pemerintah menilai tambahan kapasitas pengolahan akan membuat kebutuhan energi nasional lebih banyak ditopang produksi domestik, bukan pasokan dari luar negeri.
Target penghematan devisa
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa proyek kilang di Cilacap dan Dumai akan memberi efek langsung terhadap penghematan devisa negara. Ia menyebut angka pengurangan impor itu dalam peresmian yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi dari pembangunan Cilacap dan Dumai ini akan mengurangi impor kurang lebih 1,25 miliar dollar AS per tahunnya, Bapak Presiden,” ujar Rosan. Pernyataan itu menegaskan bahwa pembangunan kilang tidak hanya dipandang sebagai proyek energi, tetapi juga sebagai langkah untuk menahan aliran devisa ke luar negeri.
Bagian dari hilirisasi nasional
Rosan menjelaskan bahwa proyek tersebut masuk dalam 13 proyek strategis hilirisasi nasional fase kedua. Posisi itu membuat Cilacap dan Dumai menjadi bagian dari agenda yang lebih besar untuk memperkuat nilai tambah di dalam negeri.
Dari sisi kapasitas, fasilitas baru ini dirancang menambah produksi sebesar 62.000 barrel per hari atau MBSD. Proyek itu ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2030.
Tambahan kapasitas tersebut diproyeksikan mampu menyubstitusi impor bensin hingga 2 juta kiloliter per tahun. Angka itu setara dengan menutup sekitar 9,47 persen dari celah pasokan nasional yang masih bergantung pada impor.
Tidak hanya untuk bensin
Manfaat pembangunan kilang itu tidak berhenti pada bensin saja. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, fasilitas baru juga diharapkan ikut menekan impor produk turunan lain seperti elpiji dan propilena.
Selain itu, kilang tersebut akan mendukung produksi Pertamax Series di dalam negeri. Dengan begitu, kapasitas pengolahan nasional diarahkan untuk menghadirkan pasokan energi yang lebih beragam dan lebih stabil.
Dalam konteks kebutuhan energi domestik, penambahan fasilitas pengolahan dinilai lebih strategis daripada terus bergantung pada impor. Pemerintah melihat langkah ini sebagai cara untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga pasokan tetap aman.
Dukungan penyimpanan BBM ikut disiapkan
Sejalan dengan pembangunan kilang, pemerintah juga menyiapkan tangki operasional BBM di Palaran, Biak, dan Maumere. Total kapasitas tambahan dari fasilitas penyimpanan itu mencapai 153.000 kiloliter.
Pertamina Patra Niaga akan mengelola proyek penyimpanan tersebut. Operasinya direncanakan berjalan bertahap mulai 2027 hingga 2028.
Keberadaan kilang baru dan fasilitas penyimpanan menunjukkan bahwa pemerintah menyiapkan penguatan energi dari dua sisi sekaligus. Produksi ditambah, sementara dukungan logistik juga disiapkan agar distribusi pasokan lebih siap dan lebih terjaga.
Nilai tambah dan lapangan kerja
Rosan juga menekankan bahwa rangkaian proyek hilirisasi ini ditujukan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Ia menyebut proyek-proyek tersebut diharapkan mendorong lahirnya industri baru sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
“Proyek-proyek hilirisasi ini segera kita laksanakan dalam rangka penciptaan nilai tambah, penciptaan industri dan tentunya adalah yang paling penting juga penciptaan lapangan pekerjaan,” ujarnya. Dengan arah kebijakan seperti itu, pembangunan kilang di Cilacap dan Dumai ditempatkan sebagai bagian dari strategi ekonomi yang lebih luas.
Fokusnya bukan hanya menambah produksi BBM, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional. Di saat yang sama, proyek ini diarahkan untuk mengurangi impor dan memperbesar peran produksi dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat.





