Ketidakpastian Global Mengerek Anggaran Senjata, Dunia Sisihkan Rp46 Ribu Triliun Untuk Militer

Rasa tidak aman di banyak kawasan dunia mendorong anggaran pertahanan terus membesar, dan dampaknya terlihat jelas pada lonjakan belanja militer global yang kini hampir mencapai $2,9 triliun. Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute atau SIPRI, angka itu setara sekitar Rp46 ribu triliun dan menjadi kenaikan selama 11 tahun berturut-turut.

Dorongan untuk memperkuat militer tidak hanya datang dari perang yang masih berlangsung, tetapi juga dari kekhawatiran negara-negara terhadap arah keamanan global. Peneliti SIPRI, Lorenzo Scarazzato, mengatakan bahwa semua hal mengarah pada dunia yang merasa lebih tidak aman dan memilih membelanjakan lebih banyak untuk militer sebagai kompensasi atas lanskap global yang ada.

Tiga pembelanja terbesar masih mendominasi

Amerika Serikat, China, dan Rusia tetap menjadi penggerak utama belanja senjata dunia. Ketiganya mencatat total pengeluaran $1,48 triliun, atau sedikit di atas separuh dari belanja militer global.

Amerika Serikat masih berada di puncak daftar, tetapi anggarannya turun 7,5 persen menjadi $954 miliar. SIPRI menyebut penurunan itu berkaitan dengan tidak adanya persetujuan bantuan militer baru untuk Ukraina, meski selama tiga tahun sebelumnya Washington telah berkomitmen total $127 miliar untuk Kyiv.

Eropa menjadi pusat akselerasi anggaran pertahanan

Kenaikan terbesar secara kawasan datang dari Eropa, termasuk Rusia dan Ukraina, yang secara keseluruhan mencatat lonjakan 14 persen menjadi $864 miliar. SIPRI melihat kawasan ini sebagai salah satu pusat utama percepatan anggaran pertahanan di tengah perang Ukraina dan berkurangnya keterlibatan Amerika Serikat dalam keamanan Eropa.

Lorenzo Scarazzato menjelaskan bahwa dua faktor itu saling memperkuat. Perang di Ukraina masih berjalan, sementara di sisi lain Washington mendorong negara-negara Eropa memikul tanggung jawab pertahanan yang lebih besar.

Dampaknya terlihat pada sejumlah negara besar di kawasan. Jerman menaikkan belanja militernya 24 persen menjadi $114 miliar, sedangkan Spanyol melonjak 50 persen menjadi $40,2 miliar.

Kenaikan di Spanyol juga membuat porsi belanja militernya menembus 2 persen dari produk domestik bruto untuk pertama kalinya sejak 1994. Perubahan ini menunjukkan bahwa banyak pemerintah Eropa mulai menempatkan pertahanan sebagai pos anggaran yang semakin diprioritaskan.

Beban perang terasa kuat di Rusia dan Ukraina

Rusia dan Ukraina sama-sama mengalokasikan sumber daya besar untuk perang yang terus berlangsung. Rusia membelanjakan $190 miliar, naik 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan setara 7,5 persen dari PDB.

Ukraina mencatat kenaikan yang lebih tajam, yakni 20 persen menjadi $84,1 miliar. Angka itu setara 40 persen dari PDB, sehingga memperlihatkan besarnya tekanan fiskal yang harus ditanggung Kyiv untuk menjaga operasi militernya.

Kedua negara juga memiliki porsi tertinggi dari anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk militer. Kondisi itu menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan bukan hanya mengguncang medan perang, tetapi juga mengubah struktur belanja publik secara mendasar.

Asia dan Oseania ikut menaikkan belanja pertahanan

Di Asia dan Oseania, pengeluaran militer mencapai $681 miliar, naik 8,5 persen dari 2024. SIPRI menyebut ini sebagai kenaikan tahunan terbesar di kawasan itu sejak 2009.

China tetap menjadi pemain terbesar di kawasan dengan estimasi belanja $336 miliar pada 2025. Negara itu terus menambah anggaran militernya setiap tahun selama tiga dekade terakhir, dan tren tersebut masih berlanjut.

Negara lain juga menambah anggaran karena persepsi ancaman yang semakin besar. Jepang menaikkan belanja militernya 9,7 persen menjadi $62,2 miliar, setara 1,4 persen dari PDB, yang merupakan proporsi tertinggi sejak 1958.

Taiwan turut menambah pengeluaran militernya 14 persen menjadi $18,2 miliar. Peningkatan di kawasan ini memperlihatkan bahwa ketegangan keamanan di Asia Timur mendorong banyak negara memperkuat pertahanan mereka.

Timur Tengah tetap panas meski kenaikannya tipis

Di Timur Tengah, total belanja militer hanya naik 0,1 persen menjadi $218 miliar. Namun, ketegangan di kawasan ini belum mereda, dan sebagian besar negara tetap mempertahankan atau menambah anggaran pertahanan.

Israel dan Iran menjadi dua pengecualian dalam data SIPRI. Belanja Iran turun 5,6 persen menjadi $7,4 miliar, tetapi penurunan itu terjadi di tengah inflasi tahunan 42 persen, sehingga secara nominal pengeluaran sebenarnya masih bergerak naik.

Israel menurunkan belanja militernya 4,9 persen menjadi $48,3 miliar setelah intensitas perang Gaza mereda usai kesepakatan gencatan senjata pada Januari 2025. Meski turun, angka itu masih 97 persen lebih tinggi dibanding 2022, menandakan besarnya dampak eskalasi konflik terhadap anggaran keamanan.

Data SIPRI memperlihatkan bahwa rasa tidak aman kini mendorong banyak negara mengunci lebih banyak sumber daya untuk pertahanan. Di berbagai kawasan, perang, ketegangan geopolitik, dan perubahan sikap keamanan negara-negara besar membuat belanja militer terus naik dan semakin membebani prioritas anggaran nasional.

Baca Juga

Back to top button