Pasar logam dasar kembali menerima tekanan setelah ketegangan di Selat Hormuz meningkat dan memunculkan kekhawatiran baru terhadap arus perdagangan global. Di tengah suasana itu, harga tembaga bergerak melemah pada awal perdagangan Asia, sementara investor juga menimbang dampak lanjutan dari gejolak geopolitik terhadap permintaan industri.
Pada pukul 09.26 waktu Singapura, harga tembaga tercatat turun 0,4 persen menjadi US$13.296,50 per ton. Koreksi ini memperpanjang pelemahan dari rekor penguatan yang sebelumnya sempat terjadi selama empat pekan berturut-turut, sebelum kemudian logam merah itu terkoreksi 1,1 persen dari posisi tertingginya pada perdagangan awal Asia hari Senin.
Tekanan utama datang dari aksi penyitaan sebuah kapal berbendera Iran oleh Amerika Serikat. Peristiwa itu memicu kekhawatiran baru di pasar komoditas karena menambah ketidakpastian atas konflik yang telah berlangsung selama tujuh minggu dan berpotensi mengganggu jalur pelayaran strategis.
Selat Hormuz kembali menjadi perhatian karena perannya yang sangat penting dalam distribusi energi dunia. Jika kawasan itu terganggu, pasar menilai dampaknya bisa merambat lebih jauh, bukan hanya ke minyak, tetapi juga ke ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga.
Keraguan terhadap jalannya dialog antara Washington dan Teheran ikut memperburuk suasana. Pelaku pasar mencermati apakah pembicaraan gencatan senjata masih memiliki ruang untuk berlanjut, sementara kehati-hatian terhadap aset berisiko membuat komoditas industri ikut tertekan.
Bukan hanya tembaga yang bergerak melemah. Seng dan timah juga ikut turun, menunjukkan bahwa tekanan geopolitik menyeret sebagian besar logam dasar dalam arah yang sama.
Di sisi lain, pasar juga belum mendapat dukungan dari sisi permintaan. Tanda-tanda perlambatan manufaktur global masih membayangi dan membuat prospek kebutuhan bahan baku industri terlihat lebih rapuh.
Tembaga sangat sensitif terhadap perubahan pandangan ekonomi karena banyak digunakan dalam manufaktur, konstruksi, dan industri berat. Saat pertumbuhan terlihat melemah, ekspektasi permintaan atas tembaga biasanya ikut menurun dan memberi tekanan tambahan pada harga.
Menariknya, minyak justru menguat pada hari Senin dan berhasil memulihkan sebagian besar pelemahan tajam pada pekan sebelumnya. Namun pemulihan itu belum cukup mengangkat mayoritas logam dasar yang tetap bergerak dalam tekanan sentimen risiko.
Pergerakan berbeda terlihat pada aluminium yang naik 0,8 persen pada hari Senin. Kenaikan itu muncul setelah konflik di Timur Tengah memaksa penghentian operasional sejumlah pabrik peleburan dan mendorong pemangkasan produksi di pusat industri kawasan tersebut.
Aluminium sebelumnya sempat turun lebih dari 2 persen pada hari Jumat, sehingga penguatan di awal pekan menunjukkan pasar masih bereaksi tajam terhadap isu pasokan. Nikel juga bergerak lebih kuat, meski kenaikannya masih tipis dan belum mengubah gambaran umum pasar logam dasar.
Dengan kondisi seperti ini, pasar logam tetap sensitif terhadap dua sisi sekaligus, yakni gangguan pasokan dan pelemahan permintaan. Selama ketegangan AS-Iran belum mereda dan risiko di Selat Hormuz masih tinggi, tembaga serta logam dasar lain berpeluang terus bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan diplomasi dan jalur perdagangan strategis tersebut.





