Kekhawatiran terhadap keselamatan komunitas Yahudi di Inggris kembali menguat setelah penusukan dua pria di London utara memicu sorotan besar terhadap ancaman antisemitisme. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pun menegaskan bahwa pemerintah akan memperketat perlindungan dan mengambil langkah lebih tegas untuk menjawab rasa takut yang kini dirasakan banyak warga Yahudi.
Dalam pernyataannya di televisi, Starmer menggambarkan situasi yang membuat sebagian warga Yahudi merasa tidak aman menjalani aktivitas sehari-hari. Ia menyebut banyak dari mereka memilih menahan diri untuk pergi ke sinagoge, menghadiri kuliah, mengantar anak ke sekolah, bahkan sekadar memberi tahu rekan kerja bahwa mereka adalah Yahudi.
Dorongan untuk memperkuat keamanan
Starmer mengatakan pemerintah akan menambah kehadiran polisi di area yang menjadi pusat komunitas Yahudi. Ia juga menyatakan akan melakukan “segala yang ada dalam kekuatan” pemerintah untuk menghentikan kebencian terhadap Yahudi.
Selain pengamanan fisik, pemerintah berencana memperluas kewenangan untuk menutup badan amal yang mempromosikan ekstremisme. Langkah lain yang disiapkan adalah tindakan lebih keras terhadap para “pendakwah kebencian” yang dinilai ikut memperburuk ancaman terhadap komunitas tersebut.
Pemerintah Inggris juga ingin mempercepat legislasi yang memungkinkan penuntutan terhadap orang-orang yang bertindak sebagai perpanjangan tangan kelompok yang didukung negara. Dengan aturan itu, mereka bisa diperlakukan dengan cara yang sama seperti mata-mata bagi dinas intelijen asing.
Sorotan terhadap ancaman yang dikaitkan dengan negara
Starmer menilai ada upaya untuk menyakiti warga Yahudi di Inggris dan menyebut ancaman dari negara seperti Iran perlu dihadapi dengan aturan yang lebih kuat. Ia juga berjanji mempercepat respons terhadap ancaman yang dianggap didorong negara.
Pemerintah Iran menolak tuduhan keterlibatan dalam ancaman terhadap warga Yahudi di Inggris. Namun, Reuters mencatat sebuah kelompok pro-pemerintah Iran mengaku bertanggung jawab atas beberapa serangan terbaru, sementara bulan lalu dua pria didakwa berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional Inggris karena diduga bertugas melakukan pengawasan bermusuhan atas perintah Iran.
Tekanan politik yang terus membesar
Pernyataan Starmer muncul ketika pemerintah Inggris menerima kritik dari sebagian kalangan Yahudi yang menilai respons resmi belum cukup kuat. Ketegangan itu ikut terlihat saat Starmer mengunjungi Golders Green, lokasi penusukan dua pria Yahudi, dan sempat diteriaki sekelompok kecil orang yang membawa spanduk bertuliskan “Keir Starmer Jew Harmer”.
Polisi menyebut tersangka dalam serangan di Golders Green adalah pria warga negara Inggris berusia 45 tahun yang lahir di Somalia. Otoritas juga mengatakan pria itu memiliki riwayat kekerasan serius dan masalah kesehatan mental, serta pernah dirujuk ke program pencegahan radikalisasi Prevent pada 2020.
Laporan media setempat menambahkan bahwa tersangka juga pernah menjalani hukuman penjara atas insiden pada 2008, ketika ia menikam seorang petugas dan seekor anjing polisi. Informasi itu menambah sorotan terhadap bagaimana ancaman terhadap komunitas Yahudi bisa datang dari pelaku dengan riwayat kekerasan yang panjang.
Kekhawatiran atas demonstrasi dan ujaran kebencian
Salah satu sumber kegelisahan terbesar di kalangan Yahudi adalah maraknya demonstrasi pro-Palestina sejak serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023 yang memicu perang di Gaza. Para pengkritik menilai aksi-aksi itu telah memunculkan permusuhan dan memberi ruang bagi antisemitisme.
Starmer juga menegaskan bahwa slogan “Globalise the Intifada” harus dipandang sebagai seruan teror terhadap orang Yahudi. Menurutnya, penggunaan slogan itu layak dituntut karena merupakan bentuk rasisme ekstrem yang membuat kelompok minoritas merasa terintimidasi dan mempertanyakan apakah mereka masih diterima di Inggris.
Ancaman yang belum mereda
Serangan di London dipandang sebagai bagian dari gelombang antisemit yang meningkat di Inggris. Pada Oktober lalu, dua orang tewas dalam serangan di sebuah sinagoge di Manchester, lalu sepekan kemudian dua pria diadili atas rencana membunuh ratusan orang dalam aksi bersenjata terinspirasi Islamic State terhadap komunitas Yahudi.
Mereka dinyatakan bersalah pada Desember, tidak lama setelah penembakan massal di perayaan Hanukkah Yahudi di Bondi Beach, Australia. Jonathan Hall, pengawas independen undang-undang terorisme Inggris, mengatakan kepada BBC bahwa serangan-serangan di Inggris telah menjadi “darurat keamanan nasional terbesar” sejak 2017.
Di tengah tekanan itu, pemerintah Inggris berusaha menunjukkan bahwa perlindungan terhadap komunitas Yahudi akan ditempatkan sebagai prioritas. Fokusnya kini tertuju pada penguatan keamanan, penegakan hukum, dan langkah yang lebih cepat terhadap ancaman serta ujaran kebencian yang terus menambah rasa takut di tengah komunitas tersebut.