Sidang federal di California kini tidak hanya membahas sengketa hukum Elon Musk dengan OpenAI, tetapi juga membuka kembali pertanyaan soal kepemimpinan Sam Altman. Kesaksian Mira Murati memberi sorotan tajam pada cara Altman berkomunikasi di level internal, terutama karena ia disebut kerap menyampaikan hal yang berbeda kepada orang yang berbeda.
Pernyataan itu membuat persoalan di OpenAI terlihat lebih dalam dari sekadar konflik bisnis. Di perusahaan yang menjadi pusat perhatian dunia berkat ChatGPT, isu kepercayaan dan tata kelola kini ikut menjadi bagian dari perdebatan di pengadilan.
Murati menyorot masalah komunikasi di puncak perusahaan
Dalam rekaman kesaksian yang diputar di pengadilan Oakland, California, Murati mengatakan dirinya khawatir karena Altman tidak konsisten dalam berbicara kepada orang-orang di sekitarnya. Ia menilai ada pesan yang berubah-ubah, tergantung kepada siapa pesan itu disampaikan.
Murati juga menyebut Altman beberapa kali tidak jujur kepada dirinya maupun pihak lain di perusahaan. Keterangan itu memperkuat gambaran bahwa persoalan di OpenAI bukan hanya soal arah bisnis, tetapi juga soal kepercayaan antarpetinggi.
Kondisi internal disebut sempat genting
Murati turut menjelaskan bahwa OpenAI berada dalam kondisi kritis ketika dewan direksi memecat Altman. Ia menggambarkan situasi saat itu sebagai risiko besar yang bisa membuat perusahaan runtuh.
Pernyataan tersebut memberi konteks baru tentang seberapa serius tekanan yang terjadi di internal OpenAI. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan yang bergerak cepat, stabilitas di jajaran eksekutif menjadi faktor yang sangat menentukan.
Gugatan Musk menyeret OpenAI dan Microsoft
Kesaksian Murati muncul di tengah gugatan Elon Musk terhadap OpenAI. Gugatan yang diajukan pada 2024 itu menuduh OpenAI menyimpang dari tujuan awal sebagai organisasi nirlaba dan berubah menjadi perusahaan yang mengejar keuntungan komersial.
Dalam perkara tersebut, Musk menuntut ganti rugi US$150 miliar kepada OpenAI dan Microsoft sebagai investor utama. Besarnya tuntutan membuat kasus ini menjadi salah satu sengketa paling besar yang kini menyita perhatian dunia teknologi.
Kekhawatiran ternyata sudah ada sejak sebelum ChatGPT dirilis
Selain Murati, mantan anggota dewan OpenAI Shivon Zilis juga memberi keterangan yang menambah lapisan baru dalam sidang. Ia mengatakan kekhawatiran internal sudah muncul menjelang peluncuran ChatGPT.
Menurut Zilis, dewan direksi sempat mempertanyakan keputusan merilis ChatGPT tanpa komunikasi yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa perdebatan di dalam perusahaan sudah terjadi sejak fase awal produk yang kemudian membawa OpenAI ke posisi dominan di industri AI.
Dampaknya melampaui satu perselisihan bisnis
Sidang ini menjadi penting karena dapat ikut memengaruhi masa depan OpenAI. Perusahaan tersebut saat ini dikenal sebagai salah satu pemain AI paling berpengaruh di dunia melalui ChatGPT.
Di sisi lain, perseteruan ini juga memperlihatkan hubungan yang rumit antara Musk dan para tokoh utama OpenAI. Musk disebut sempat berupaya berdamai dengan Presiden OpenAI Greg Brockman sebelum persidangan dimulai, meski hubungan mereka tampak sudah lama dibayangi ketegangan.
Musk juga pernah merasa dirinya seperti orang bodoh karena terus mendanai OpenAI. Detail itu membuat konflik yang dibahas di pengadilan tidak lagi sekadar soal investasi atau strategi perusahaan, melainkan juga sejarah kepercayaan yang kini tampak retak di hadapan publik.
Source: www.cnbcindonesia.com




